Lapisan Daeng
Redup dan lengang. Pertanda-pertanda
ada pada aspal. Pada lampu jalan dua kepala. Pada pangkuan lambai nyiur. Pada
rundukan miana. Asjir mengenakan jaket bertudung dancelana cutbrai
menghampiriku.
“Malik berkabar?” Asjir
bertanya sambil berdiri, matanya awas.“Itu dia!” aku menunjuk sisi toilet umum.
Malik berjalan terseok-seok ke arah kami. Cahaya layar ponsel menerangi
wajahnya dari bawah. Begitu tiba, bisik-bisik ia menjelaskan;
“Saya memancing dengan
hestek #makassartidakaman tadi malam, belum berapa menit, di linikala muncul hestek
#makassarharusaman. Situasi masih berada di luar kendali kita,”
“Siapa yang memulai
hestek itu?” Asjir bertanya sembari meletakkan pantatnya di sampingku. Malik
masih berdiri, menunduk, menghadap kami berdua. Dalam kegelapan, kulihat ia
menggaruk-garuk pantat.
“Entahlah, banyak yang
me-retweet dan tweet, saya tidak bisa melacak siapa yang pertama kali memulai. Sepertinya,
ada kelompok lain yang ingin ikutlakon kita.
“Ini sebuah pertanda,
kawan. Kita harus lanjut,” kataku, “Hei, hentikan garukanmu!”
“Tidak bisa, bro. Gatal
sekali di bawah sini. Kayaknyatumbuh bisul baru,”
“Awas kau salah pakai
kostumku, nanti aku bisa tertular penyakit jalananmu,” Asjir mendengus.
“Tenanglah. Bagaimana
pun situasinya, kita tetap menjalankan rencana awal. Persiapan kita sudah
matang. Dari awal, semua ini sudah kita ramal akan terjadi. Sebab dan akibat,
keduanya dapat diciptakan dan dihentikan,”
“Jadi kita lanjutkan?”
tanya Malik
“Di balik kebenaran
yang relatif, situasi ini justru membuka ruang bagi rencana kita,” jawabku. Malik
terus menggaruk, menuju bagian depan selangkangannya.
Aurora yang Terbit dari Tanah Tinggi
Mulanya,
bahasa manusia diinspirasi oleh bebunyian alam. Angin, aliran air, suara tanah
longsor, kicauan burung. Manusia meniru-niru bebunyian alam dan berkomunikasi
menggunakan hasil tiruan itu. Beberapa bunyi memiliki makna yang terlampau luas
untuk diterjemahkan ke dalam kata-kata. Bunyi-bunyi itu pun sangat bergantung
kepada bebunyian lainnya. Kita tidak bisa membahasakan makna yang terlampau
luas. Bebunyian yang tidak ingin dipisahkan dalam makna-makna banal inilah yang
kita kenal dengan sebutan “musik”.
portrait stories: Manusia-manusia Matra
| Erni Manis |
Gadis kecil ini tinggal di desa Bambalamotu, Kab. Mamuju Utara. Disetarakan dengan sekolah dasar biasa, kini ia duduk di bangku kelas 3. Namanya Erni. Ayahnya seorang petani dari suku Da’a dan ibu berdarah Mandar. Erni tampak cukup tertarik pada kamera kami dan tidak menunjukkan tingkah yang canggung. Berkali-kali ia menjadi screen stealer saat saya mewawancarai gurunya tentang sejarah SLBS Bambalamotu yang belum lama dibangun ini. Erni sangat aktif. Ia berlarian berkeliling kelas lalu kembali masuk frame dan tersenyum seperti ini. Menurut gurunya, ia penderita autism yang berbakat di bidang olahraga. Saat kami pamit, Erni mengejar saya dan meminta difoto sekali lagi. Saya melakukannya dengan senang hati. Erni meloncat-loncat kegirangan sebelum kembali bersembunyi di bawah ketiak gurunya.
****
Sajak-Sajak pada 1 Juni 2016
sketsa sederhana tentang ruang tamu
jatuh diterpa angin mesin
aku bertanya-tanya, kelak
apakah ruang tamu itu milik kita
atau dia dan kau
atau yang lain dan aku?
Pulau Gaiman
Berlama-lama di sini hanya
menyenangkan hati Alma, tapi tidak hatiku. Maksudku, aku senang berada di kota
ini, bersamanya.
Aku senang memberi tumpangan skuter sewaan ini padanya, lalu seperti biasa ia
turun lima puluh meter lewat kuburan tua – tanpa pernah kutahu kenapa ia turun di situ
– setiap hari. Tiap kota hanya kuberi
jatah paling lama tiga bulan. Satu bulan untuk mengenal kota dan kenalan
sana-sini. Satu bulan untuk cari gara-gara, maksudku melakukan apa yang bisa
kulakukan di sana. Sisanya, waktu memikirkan destinasi berikutnya.
Alma tentu senang jika kutunda
kepergianku barang satu atau dua bulan. Dari gerak-geriknya, mungkin dia sedang
jatuh cinta padaku. Ia tak pernah terlambat membawakanku sarapan pagi. Kamar
sewaannya tepat di samping kamarku. Dia senang memasak dan lebih senang jika
masakannya dinikmati sampai habis. Aku satu-satunya orang, katanya, yang selalu
menghabiskan masakannya.
Rumah dan Keluarga
Menerjemahkan
kata “home” ke dalam bahasa Indonesia tidak mudah. Padanannya bukan “rumah”.
Terkadang sih, makna “home” diselamatkan para penyair dalam sajak-sajak mereka,
dengan kalimat-kalimat padat sebagai pengantar. Sederhananya terjemahan kata
“rumah” boleh salah satu dari “house” atau “home”. Akan tetapi, “home” dapat
berdiri sendiri dengan mengesampingkan penanda “sebuah bangunan tempat tinggal
keluarga”. “home” is home. Demikian jika yang dipekerjakan untuk mengaji makna
“home” adalah otak kita.
PPS (Piknik-Piknik Saja) di Lembah Ramma
Selalu
terdengar jenaka jika ada pelancong dari luar yang mengkritisi
jalur-jalur wisata alam di Sulsel. Misalnya jalur menuju air terjun yang harus
melintasi aliran sungai kecil, “Harusnya dipasangin jembatan bamb atau
pegangan tali nih di sini, biar gampang,”. Nah, itu jenaka karena selayaknya
wisata alam bebas, ornamen macam tali begitu akan mengurangi tantangan,
berpotensi merusak alam, dan yah, ngapain ke alam bebas kalau ingin merasakan
hal-hal yang mudah saja, bukan?
Membayangkan keempat sungai keci di sepanjang jalur menuju Lembah Ramma membuatku sedih. Yaah, sungai-sungai kecil itu yang akhirnya akan menyisakan kutu air atau gatal-gatal sebagai kenang-kenangan petualangan kamu. Akan ada cerita menarik atau banyolan hebat saat memandangi sepasang kaki mengerut pucat sepulang rumah.
15-18
April 2016 lalu, aku dan seorang sahabat namun jarang bertemu merencanakan
penanjakan kecil-kecilan ke Lembah Ramma di kaki gunung Bawakaraeng. Kaki,
begitu nama lapangan perempuan tangguh itu – ia dapatkan dari singkatan yang
dibuat teman lainnya. Kami ditemani 2 orang lainnya, ada Langkose dan Buldozer.
Langkose dan Kaki seangkatan diksar di Mapala salah satu universitas Islam di
Makassar. Langkose sebagai penjantan tunggal di antara kami tentu saja dipilih
berdasarkan skill security, tingkat kebatuan, dan kemampuan survivalnya yang
tinggi. Itu lantaran aku sendiri hanya seorang explorer, Kaki yang sudah 2
tahun puasa nanjak karena bekerja, dan Buldozer yang baru kali ini melakukan
penanjakan di jalur yang cukup sulit.
Subscribe to:
Posts (Atom)




