Selamat, kamu telah melampaui usia seperempat abad dan semoga kamu tidak terjerat para perekrut Klub 27. Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Amy Winehouse dan puluhan selebriti kelas dunia meninggal dunia di usia 27 tahun. Katanya karena mereka terlibat sekte satanic, tapi tidak ada yang pernah membuktikannya.

 

Yang sebenarnya terjadi kepada mereka adalah pengalaman perih tak sempat terceritakan. Para pesohor ini mengalami depresi, namun tidak menemukan teman yang tepat menghadapi situasi sulit itu selain narkoba dan minuman keras. Yang terjadi dalam kehidupan setelah usia 25 tahun amat jauh dari template. Manusia di usia 25 tahun akan mengalami fase early-adult. Fase saat manusia baru mulai berupaya mencerna fakta kehidupan dan menakar-nakar apa yang akan dihadapi ke depannya. Di usia ini, banyak anak muda yang mengalami tekanan pikiran yang berat.

 

Di usia 25 tahun, aku masih ingat sekali. Malam itu, saya dan beberapa kawan dekat berkumpul di sebuah warkop. Ada 2 perempuan selain saya, 1 lainnya adalah laki-laki. Si laki-laki berencana melanjutkan kuliah ke jenjag magister di Jogja. 1 perempuan lainnya sedang menunggu panggilan mula pelayarannya di kapal pesiar. Dia benar-benar sangat bersemangat. Dia membayangkan akan mendapatkan gaji berkali-kali lipat dari UMK Makassar dan barangkali dapat bercinta dengan bule. Sementara, perempuan satunya lagi terkekeh-kekeh sebab hidupnya sedang amat nyaman. Dia menduduki jabatan yang cukup tinggi sebuah bank swasta, punya pacar perhatian, dan mendapatkan dukungan keluarga. Saya sendiri, baru saja berhenti dari pekerjaan sebagai Park Ranger dan tidak tahu akan tidur di mana malam itu. Percakapan berlanjut sampai membahas pernikahan dan bagaimana sosok anak-anak kami kelak. Harapan itu pada akhirnya menghilang di udara.

 

Kami bertemu kembali satu tahun kemudian. Masih di sebuah warkop namun di lokasi berbeda dan membawa cerita yang berbeda. Saat itu aku memulai karir serius sebagai pengajar privat. Teman yang satu sedang cuti dari kapal pesiar, datang bersedih sebab gagal melanjutkan hubungannya dengan bule. Ia bercerita bahwa kehidupan sebagai pekerja kelas bawah di kapal kelas atas itu tidak seindah cerita orang. Sudah saya tebak sebelumnya. Dia berkata kepadaku, bahwa aku tidak mungkin bisa menjalani profesinya. Aku benarkan. Mana sanggup aku menghadapi orang-orang dengan tinggi badan hampir dua kali tinggi badanku, setiap hari, di lautan lepas. Perempuan satunya lagi bercerita tentang potensi pernikahannya akan kandas akibat perbedaan agama. Ia tengah menimbang-nimbang untuk berpindah agama. Beberapa bulan lagi, si laki-laki akan diwisuda. Bukannya senang, justru dia harus bersiap menghadapi tuntunan dari kedua orang tuanya di kampung: daftar PNS dan menikah sesegera mungkin.

 

Aku hanya sanggup melanjutkan pertemanan dengan si laki-laki, sampai sekarang. Itulah kejadian besar pertama yang akan kamu lalui, May. Kita akan kehilangan banyak teman yang dulunya sangat akrab. Semua orang pada akhirnya berubah dan kita mesti sadar diri sebagai orang yang tidak masuk dalam daftar prioritas. Teman yang bekerja di kapal pesiar itu mengalami kejadian buruk dan memalukan saat bekerja, hingga merasa sangat malu jika kuketahui. Akhirnya dia sendiri yang memutuskan menjauh dariku. Teman perempuan yang satunya lagi, aku yang menghindarinya sebab dia memilih memaksaku meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kulakuan. Ketimbang membelaku, dia memilih memaksaku. Keduanya bukan teman yang cukup layak kumasukkan dalam daftar orang prioritasku. Sementara teman yang laki-laki, sendirinya selalu menjaga hubungan karib denganku. Selalu berbagi pengalaman, meminta saran, dan kami mengerjakan banyak proyek berbeda.

 

Satu hal yang kuhargai dari pria itu adalah keinginannya untuk selalu mendengarkan ceritaku secara kronologis, tanpa membandingkan pencapaiannya dengan pencapaianku. Dua orang lainnya itu menilaiku seperti apa mereka menilai diri mereka sendiri. Ketika aku menampik, mereka tetap memaksakan penglihatan. Mereka ingin aku menjadi cerminan egonya sendiri. May, hindarilah orang-orang seperti mereka. Mereka adalah sosok pembawa drama yang kerap kali menolak memungsikan logika terlebih dahulu. Kehidupan akan semakin berat dengan meladeni perangai-perangai tidak konstruktif.

 

Di usia ke-26 juga, aku menyadari bahwa hubungan romantic yang kita percayai, kita rawat, dan dimasukkan ke dalam rencana masa depan, dapat hancur begitu saja. Bahwa semesta berkonspirasi untuk melawan semua keinginanku Di fase hidup itu, aku mulai meyakini bahwa hidup sebatang kara adalah takdirku. Keyakinan hanyalah keyakinan, tidak selalu sejalan dengan buktinya. Keyakinanku membawaku pada kisah-kisah yang menghancurkan diriku sendiri. Meyakini diriku sebatang kara adalah mula dari kegilaan dan upaya penghancuran diri yang tidak kusadari. Aku mengutuki kehidupan dan ingin meninggalkannya secepat mungkin. 

 

Pada titik yang dapat mengubahku menjadi seorang Amy Winehouse, aku menemukan diriku dikeliling oleh mimpi-mimpi masa kecilku. Setiap mimpi itu merengek meminta diwujudkan, “Hey, kau! Jangan sekali-kali kau mati tanpa menyatakan kami terlebih dahulu. Kau bukan rockstar, takkan ada yang menangisi kepergianmu!” Penting untuk memiliki mimpi dan tekad kuat untuk mewujudkannya. Di saat terendahmu, mimpi yang kamu gantung tinggi di langit itu, akan turun pelan menujumu, meraih tanganmu, dan membantumu bangkit kembali. Jangan mau dikalahkan oleh cobaan hidup. 

 

Sesekali, rasanya hidup berjalan nirkemudi. Pada satu titik, kamu akan ‘terjebak’ di situasi yang begitu-begitu saja. Cukup membosankan, tapi kamu justru tak dapat keluar dari situ. Entah itu di lingkup pekerjaan atau lingkup rumah tangga. Seolah kamu membiarkan kehidupan berjalan begitu saja, kamu tahu cara mengintervensinya agar sesuai keinginanmu, namun kamu enggan saja melakukannya. Pikirmu, apalah aku ini. Ada baiknya kujalani sebegini saja. Tak perlu terlalu berusaha, toh segalanya akan terjadi sesuai tatanan alam. Namun fase ini takkan berlangsung lama. Begitu kamu tahu posisimu dalam roda dunia yang terus berputar itu, kamu akan tahu kapan dan bagaimana putaran roda menguntungkan dirimu dan kamu telah bersiap-siap sebelum roda berputar lagi. Oh iya, laju putaran tidak stagnan. Kadang cepat, kadang slowmo. Penting untuk tahu cara menikmati temponya.

 

Tentu saja kebosanan akan menyerang, lalu kamu mulai mencoba kebiasaan baru dengan harapan dapat menyalakan sedikit kembang api pada malam yang biasanya sunyi. Kembang api yang menyala ringkas itu akan kamu nikmati beberapa saat saja, namun itu cukuplah bagimu. Begitu seterusnya. 

 

Tentu saja aku mendoakan semoga kehidupan romantikamu berjalan baik, kalian segera menikah, dan mulai membangun rumah tangga sendiri. Untuk topik ini, mohon maaf, aku tidak punya sesuatu untuk kukatakan kepadamu. Aku tak memiliki pengalaman atau kisah rumah tangga yang normal. Jika kuceritakan kisah yang kuketahui, aku takut tulisan ini berubah mencekam dan mempengaruhimu. Aku berdoa semoga kamu memasuki level hubungan romantika yang lebih tinggi di usia ini, sehingga ada fragmen baru yang dapat kupelajari darimu.

 

Ada mimpi buruk perempuan yang telah kubuktikan ternyata aslinya indah. Kata orang, kesuburan wanita di usia 25 tahun akan mengalami penurunan. Aku telah membuktikan bahwa kalimat itu omong kosong belaka. Justru kamu akan merasakan perubahan hormonal dalam skala baik, menandakan kesuburan dan kesiapan untuk menjadi sosok ibu. Struktur wajah dan tubuhmu mengalami perubahan perlahan, bersiap-siap menjadi induk. Beberapa wanita mengalami kenaikan berat badan signifikan, bagi yang sebelumnya under-weight justru itu adalah kabar gembira. Namun jika genetika yang kamu warisi justru membuatmu terlihat semakin berisi, mungkin ada baiknya mulai memilih jenis olahraga tertentu untuk menormalkan metabolisme. Aku sendiri memilih diet low-carb sejak remaja secara tidak sengaja. Diet yang tidak selalu makan nasi dan memperbanyak protein. 

 

Ini juga saatnya menjaga asupan kolagen alami, dari tomat misalnya. Tentulah skinker di pasaran rata-rata memuat kandungan kolagen itu, tetapi itu memperbaiki permukaan. Kita butuh asupan dari dalam. Jumlah kolagen dan kemampuan regenerasi tubuh perlahan berkurang di usia ini. Bekas luka lama hilangnya. Jadi jangan tergoda mengutak-atik jerawatmu, mendingan ko pigi susun lego. Kamu mungkin akan mendapati kerutan nyata pertamamu pada suatu pagi, atau mulai cepat lelah saat melakukan kebiasaan yang dahulu dapat kamu jalani dengan enteng. Dan ketahuilah, itu hal yang normal. 

 

Persepsi kita pada alat tukar bernama uang juga akan berubah. Jika sebelumnya, kamu orang yang tak terlalu memusingkan uang, kamu akan berubah menjadi sedikit lebih perhitungan. Akan ada masa kamu memilih uang ketimbang harus menuruti tuntutan manusia. Uang juga akan mengajarimu cara bertahan dan berterima pada perlakuan buruk orang lain kepadamu. Pesanku, meski kamu sedang dalam situasi finansial yang pelik, jual segalanya selain martabatmu. Sebab ketika martabat telah terbeli, seketika milikmu yang lainnya akan tidak bernilai lagi. Kamu bukanlah kata-katamu. Kamu adalah perbuatanmu. Perbuatanmu menjaga martabat adalah dirimu yang paling murni. 

 

Ah, masih tersisa 360 hari lagi sebelum memasuki fase kritis Klub 27. Tenang saja, kamu dapat melalui hari-hari ke depannya dengan baik. Kalaupun nggak baik, ya kita perbaiki. Meow!





"Ikutilah ke mana arus membawamu." Klasik. Aku bosan membacanya dan mendengar orang acak mengutarakannya di hadapanku, setiap kali mereka menduga aku sedang tidak baik-baik saja. Hanya karena aku sedang duduk sendirian dan menatap suatu objek tertentu. Oh yeah, mereka tidak dapat menyelami kedalaman mataku yang terhalang kacamata ini. Ucapan spontanitas seperti itu, sebenarnya pantulan dari perasaan mereka sendiri. Tatapanku mungkin terlalu jernih, serupa cermin, maka mereka berkenan berbicara kepada diri mereka sendiri melalui mataku.

Aku tidak sama seperti mereka. Mereka tebang pilih untuk menyayangi spesies, akibat tampilan. Aku menyayangi semuanya; manusia, binatang, tumbuhan. Aku juga bisa menakuti semuanya; manusia, binatang, dan tumbuhan. Harus aku akui, yang terburuk dari semuanya adalah mencintai manusia. 

Kasih, sayang, dan cinta itu berbeda. Kasih itu memberi. Memberi saja. Seperti pencipta kepada makhluknya. Sayang itu perasaaan semena-mena yang harus dikeluarkan karena adanya hubungan ketergantungan di antara dua individu. Cinta itu transaksional, seperti kedua belah pihak musti membawa jaminan sesuatu ke atas meja dan keduanya bersepakat untuk saling memberi dan saling menerima. Seperti sebuah perjanjian. Makanya orang-orang menikah. Ada jaminan yang harus diberikan oleh kedua belah pihak untuk masa-masa yang akan mereka jalani bersama.

Dan aku bukan lagi seseorang yang menerima pengandaian menjadi perahu yang pasrah diarahkan oleh hembusan angin. Kedengarannya sangat payah, tidak berdaya. Hidup memberikan kita kesempatan untuk memilih peran, ada baiknya saya memanfaatkannya. Maka saya memilih menjadi air. Air yang jumlahnya di planet bumi ini selalu sama, hanya berubah bentuk. Suatu masa air adalah hamparan lautan, rumah bagi begitu banyak spesies menakjubkan. Di musim kemarau, perlahan air menguap menjadi awan, untuk kelak dirayakan atau dikutuk petani. Reaksi manusia terhadap hujan, tergantung dari persiapan mereka dan perlakuan mereka kepada permukaan daratan. 

Di dalam pegunungan, air demikian sejuk dan menempati urat-urat batu dengan tenang. Di ujungnya, air keluar dalam berbagai gerak rekreatif di mata manusia. Air menerjun, menganak sungai, menyebur sebagai mata air, dikumpulkan dalam cincin sumur, di mata manusia air mengeluarkan toksin dalam bentuk kepedihan. Apakah hanya aku yang melihat kekuatan dalam tangisan seseorang?


Duduk manis, ya.
Aku akan menuliskan refleksi atas kejadian-kejadian yang aku alami selama satu tahun terakhir. Kejadian yang boleh jadi menebalkan karat dalam dadamu atau justru meluruhkannya. 

Namun sebelum aku memulainya, aku ingin kamu memikirkan angka 1. Pada deret awal Fibonacci Sequence, ada angka 0 dan 1. Pilihlah angka 1 tanpa mengabaikan angka 0 sebelumnya. Dalam matematika dasar, jika kamu mengalikan angka berapapun dengan 1 maka hasılnya sesuai dengan angka tersebut. Tetapi jika kamu mengalikan angka berapapun dengan 0, maka hasılnya akan 0 atau sama dengan menjadi tiada. Sudah pahamkah? Baik, mari mendengarkan kisahku sembari memikirkan angka 1.
KOPER AYAH SAYA
(Pidato Nobel Sastra oleh Orhan Pamuk, Turki)
Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Tia Setiadi


Dua tahun sebelum kematiannya, ayah saya memberikan kepada saya sebuah koper kecil yang sarat dengan tulisan-tulisan, manuskrip-manuskrip, dan catatan-catatannya. Dengan separuh bercanda dan separuh mencemooh, dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin saya membacanya setelah dia “pergi”, yang artinya setelah dia wafat.
“Coba kau lihat-lihat saja,” katanya, dengan sedikit malu-malu. “Kalau-kalau ada sesuatu di dalamnya yang bisa kau gunakan. Barangkali setelah aku ‘pergi’ kau bisa menyeleksi dan mempublikasikannya.”
There was a toy
flip-flop odd eyes
in thrift dress leather holey shoes
it had no other changes
bare face
only laughing it knew
for any jobs a man did to it


No use, no use, now, begging Recognize!
There is nothing to do with such a beautiful blank but smooth it.
Name, house, car keys,

The little toy wife—
Erased, sigh, sigh.
Pukul 9 pagi waktu itu, aku menemukan isi kepalaku berkurang. Di bagian depan dan belakang. Hari-hari sebelumnya, isi kepala yang telah hilang itu membuatku sulit meluruskan posisi kepala. Terkadang, bagian dahi telampau berat hingga aku sering nyaris terjatuh tanpa mempedulikan lokasi. Benar-benar pagi yang ganjil, karena memang tidak biasanya aku merasakan seperti itu. Biasanya kepala berat, sangat.