Biasa Terjadi Pada Makhluk Hidup.
Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata: "Saya tidak mau lagi berteman dengannya, dia telah berubah. Tidak seperti dulu lagi,"?
Dahulu, kalimat seperti itu membangkitkan hasrat ingin tahuku terhadap hal-hal yang barangkali tidak bermanfaat bagi hidupku. Mendengar cerita tentang perubahan sikap atau kejatuhan orang lain, sempat juga membuatku merasa senang --bahkan menang, padahal aku dan orang itu tidak sedang berkompetisi, tidak juga aku pernah cukup akrab dengan orang itu.
Tak butuh waktu lama sampai aku sendiri yang menjadi bahan cerita orang lain, ditinggalkan teman, bahkan dihindari. Kejadian yang membuatku bertanya-tanya: apa yang telah kulakukan kepadanya? Bisakah dia memberitahuku langsung, sehingga dapat kujelaskan kejadian itu dari sudut pandangku? Barangkali mereka salah paham, barangkali mereka telah memakan bumbu pedas tambahan pada cerita itu. Barangkali benar aku telah melakukan kesalahan dan menyakiti orang lain.
Pernah sekali, dengan asumsi bahwa yang bersangkutan dapat berterima pada penjelasanku, aku mengajaknya berbicara. Kutanyakan; bagian mana dari perbuatanku yang menyakitimu? Jika aku memang salah, aku meminta maaf untuk itu dan ijinkan aku memperbaiki diriku?. Hanya saja, benar bahwa kita tidak akan pernah mampu sepenuhnya mengontrol alam pikiran dan reaksi pihak lain. Dia meluangkan waktu menyimak penjelasanku, meski pada akhirnya tetap pada pendapatnya, menyalahkanku sepenuhnya. Aku tetap meminta maaf, sekiranya itu dapat meringankan beban pikirannya. Dia menangis, sempat memakiku sekali lagi, lalu beranjak. Tidak pernah lagi kudengar kabarnya selama bertahun-tahun, hingga suatu malam tiba-tiba dia telah duduk di hadapanku, tersedu-sedu sembari memohon pemaafan.
Kubantu mengusap air matanya, kuminta ia duduk dan kuberikan segelas air. "Silakan katakan apapun yang sedang kamu pikirkan sekarang. Aku akan mendengarkanmu." Ia mengakui bahwa saat itu, ia mendengarkan terlalu banyak hasutan dari orang lain, sehingga aku berubah menjadi manusia yang teramat buruk di matanya. Dalam keadaan panik dan kecewa, ia menemuiku, mengeluarkan semua uneg-unegnya kala itu --meski terdengar seperti kalimat yang tidak bersumber dari dirinya sendiri. Ia menyesal tidak menerima penjelasnku dan malah pergi setelah makian itu. Aku memeluknya, kukatakan; "Lain kali, kepada siapa pun itu, apabila kamu mendengarkan cerita buruk tentang dia tetapi kamu juga mengenalnya, jauh lebih baik jika kamu menanyakan langsung kepadanya. Sudut pandang orang ketiga kadang dipenuhi bumbu-bumbu yang malah menghilangkan rasa aslinya," Pada akhirnya, kami tidak lagi seakrab dulu, namun kami sama-sama tidak menyimpan luka.
Sampai hari ini, di usia 35 tahun ini, kalimat seperti itu masih sering kudengar. Cerita buruk tentang orang lain, masih sering sampai tidak sengaja ke telingaku. Benar ada orang-orang yang memiliki riwayat kurang berkesan dan tidak menyenangkan terhadapku, namun tidak sedikit juga yang sepengenalanku justru memberiku pengalaman baik. Kusadari, bahwa karakter manusia itu terus bertumbuh. Aku tidak dapat benar-benar sama persis dengan diriku di 10 tahun yang lalu. Begitu pula kamu, dia, mereka, orang-orang yang hanya kamu temui di sosial media.
Peristiwa juga tidak melulu melahirkan hitam dan putih, bisa jadi ada abu-abu, merah, kuning, atau tak terlihat. Pemikiran dapat berubah, keputusan dapat diperbaharui, suatu hari muak memakan menu tertentu, namun keesokan harinya aku ingin memakannya lagi. Kadang aku bisa benar-benar bersepaham dengan seseorang, namun karena pertimbangan tertentu aku tidak lagi mengamininya. Tetapi, apakah perubahan itu hal yang salah?
Perubahan itu keniscayaan. Semua makhluk hidup, eksis melewati serangkaian fase dalam hidupnya, ia beradaptasi, berubah mengikuti ritme, dimotori semangat bertahan hidup, atau mimpi-mimpi yang membuat jiwanya tidak sekarat. Dahulu aku mudah percaya kepada siapa pun, kini aku memilih menjadi orang yang kadang pura-pura tidak tahu, pendiam, dan tidak reaktif lagi. Aku menyimpan energiku, kupakai hanya untuk hal tertentu yang setidaknya tidak menimbulkan masalah baru dalam hidupku.
Berlaku juga kepada orang lain. Mereka dapat menilaiku, menghakimiku, memusihiku, mengagumiku, semua itu sepenuhnya hak mereka. Tanggung jawabku hanya sebatas diriku sendiri, bagaimana aku tidak mudah mempercayai informasi, bagaimana aku mengontrol reaksiku pada suatu kejadian.
Di saat bersamaan, kita semua berubah dan bertumbuh mengikuti fase hidup kita sendiri. Tentunya, tidak semua evolusi berjalan mulus dan membuat kita menghasilkan buah ranum. Ada juga tanaman yang mati di usia muda, terinjak, terluka-melukai. Manusia itu makhluk hidup, perubahan adalah buktinya.
Inginku, aku tidak ingin menjadi orang yang sama, yang melakukan hal-hal buruk kepada makhluk lain. Aku tidak ingin tetap bodoh di topik itu, tidak ingin angkuh dan bertahan pada opini yang kuanggap paling benar padahal belum tentu. Aku ingin belajar dari siapa pun, dari apa pun. Aku ingin terus bertumbuh dan semoga tidak sekarat terlalu cepat. Aku ingin diberikan kesempatan memperbaiki apa yang telah kurusak, kesempatan menyampaikan permohonan maaf, diberi waktu melunasi yang tidak sempat.
Di saat tertentu, ketika tanaman di kebunku layu atau menguning, ia memberiku kesempatan untuk mengobatinya, hingga ia kembali hijau. Ada juga tanaman yang tidak terselamatkan, tetapi ia bertahan cukup lama dan sempat mengeluarkan pucuk baru sebelum akhirnya benar-benar mati karena akarnya telah membusuk.

0 Comments:
Post a Comment