Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Aku Penyu

Banyak bekas luka di kakinya. Rambutnya pendek seleher dan tidak wangi. Ruang-ruang di rumah ini berbau tembakau akibat kebiasaannya. Dia memanggilku anak dan menjuluki dirinya mamaku. Bukannya tidak sudi, tetapi aku sudah memiliki ibu.


Pertama kali memasuki tempat tinggal Sofie, aroma lepek menyeruak dari dinding lembab dan udara yang jarang terganti. Dia membuka pintu kandang. Harapnya, aku dapat menjelajah rumah agar terbiasa. Namun aku hanya berdiam di atas meja makan, memandang kecoak-kecoak merdeka di bawah lemari makan. Dia menyiapkan bak buang air, mangkuk makanan dan air minum di garasi yang sebenarnya menyatu dengan ruang keluarga. Dia memintaku minum, aku tidak bergeming. Air itu dari sumur bor.


Lapisan Daeng



Redup dan lengang. Pertanda-pertanda ada pada aspal. Pada lampu jalan dua kepala. Pada pangkuan lambai nyiur. Pada rundukan miana. Asjir mengenakan jaket bertudung dancelana cutbrai menghampiriku.
“Malik berkabar?” Asjir bertanya sambil berdiri, matanya awas.“Itu dia!” aku menunjuk sisi toilet umum. Malik berjalan terseok-seok ke arah kami. Cahaya layar ponsel menerangi wajahnya dari bawah. Begitu tiba, bisik-bisik ia menjelaskan;
“Saya memancing dengan hestek #makassartidakaman tadi malam, belum berapa menit, di linikala muncul hestek #makassarharusaman. Situasi masih berada di luar kendali kita,”
“Siapa yang memulai hestek itu?” Asjir bertanya sembari meletakkan pantatnya di sampingku. Malik masih berdiri, menunduk, menghadap kami berdua. Dalam kegelapan, kulihat ia menggaruk-garuk pantat.
“Entahlah, banyak yang me-retweet dan tweet, saya tidak bisa melacak siapa yang pertama kali memulai. Sepertinya, ada kelompok lain yang ingin ikutlakon kita.
“Ini sebuah pertanda, kawan. Kita harus lanjut,” kataku, “Hei, hentikan garukanmu!”
“Tidak bisa, bro. Gatal sekali di bawah sini. Kayaknyatumbuh bisul baru,”
“Awas kau salah pakai kostumku, nanti aku bisa tertular penyakit jalananmu,” Asjir mendengus.
“Tenanglah. Bagaimana pun situasinya, kita tetap menjalankan rencana awal. Persiapan kita sudah matang. Dari awal, semua ini sudah kita ramal akan terjadi. Sebab dan akibat, keduanya dapat diciptakan dan dihentikan,”
“Jadi kita lanjutkan?” tanya Malik
“Di balik kebenaran yang relatif, situasi ini justru membuka ruang bagi rencana kita,” jawabku. Malik terus menggaruk, menuju bagian depan selangkangannya.


Pulau Gaiman



Berlama-lama di sini hanya menyenangkan hati Alma, tapi tidak hatiku. Maksudku, aku senang berada di kota ini, bersamanya. Aku senang memberi tumpangan skuter sewaan ini padanya, lalu seperti biasa ia turun lima puluh meter lewat kuburan tua – tanpa pernah kutahu kenapa ia turun di situ – setiap hari. Tiap kota hanya kuberi jatah paling lama tiga bulan. Satu bulan untuk mengenal kota dan kenalan sana-sini. Satu bulan untuk cari gara-gara, maksudku melakukan apa yang bisa kulakukan di sana. Sisanya, waktu memikirkan destinasi berikutnya.


Alma tentu senang jika kutunda kepergianku barang satu atau dua bulan. Dari gerak-geriknya, mungkin dia sedang jatuh cinta padaku. Ia tak pernah terlambat membawakanku sarapan pagi. Kamar sewaannya tepat di samping kamarku. Dia senang memasak dan lebih senang jika masakannya dinikmati sampai habis. Aku satu-satunya orang, katanya, yang selalu menghabiskan masakannya.

Kucing Paling Beruntung di Dunia

“Aku pulang!” sahut Felisha sambil membuka pintu. Piki bergegas bangun untuk menyambut majikannya. Ia menggosokkan badannya ke kaki Felisha dengan manja. Tetapi Felisha tidak langsung menggendong Piki seperti biasa. Gadis kecil malah asyik mengelus-elus anak kucing berwarna hitam di pelukannya.
Dengan kesal, Piki menonton manjikannya memandikan anak kucing itu. Sehabis mandi, Felisha mengeringkan tubuh si kucing mungil dengan handuk milik Piki. Tadi Felisha tak acuh padanya, kini ia harus rela barang miliknya dipakai kucing lain. Piki mencakar-cakar balok dengan gemas.
“Piki yang baik, Olong minta susu kamu ya..” ujar Felisha sambil mengelus kepala Piki. Kucing Persia berbulu abu-abu itu tidak mengeong, ia justru menjauh dan bersembunyi di bawah meja belajar. “Mulai hari ini, Piki dan Olong jadi adik-kakak ya,” lanjut Felisha Piki mengibas-ngibaskan ekor tanda tak setuju.
Hari silih berganti. Bantal tidur kini milik Olong dan Piki tidur di atas keset. Kalau Felisha sedang belajar, Olong di pangkuannya. Piki merasa sangat sedih. Ia merasa kehilangan kasih sayang Felisha.
Diam-diam Piki kabur dari rumah lewat jendela kamar. Ia ingin mencari majikan baru. Di suatu tempat pasti ada manusia semanis Felisha yang juga sayang kepada kucing. Demikian Piki berusaha menghibur diri.
Kucing gendut itu menyusuri jalan-jalan setapak dengan hati yang sangat sedih. Ia tidak sekali pun menoleh ke belakang. Ia terus berjalan hingga tiba di sebuah taman. Piki tidur di bawah perosotan sambil mengingat-ingat kenangan bersama Felisha.
Saat tengah malam, Piki mendengar tangisan bayi. “Ah, pasti hanya mimpi,” batin Piki. Ia tidur kembali. Namun suara itu muncul lagi. Kini semakin jelas terdengar. Piki beranjak mencari sumber suara.
Ia menemukan seekor anak kucing bersembunyi di balik semak. “Berisik sekali kamu. Aku sedang tidur,” kata Piki sembari beranjak pergi. “Paman, aku takut..” anak kucing itu terisak. “Memangnya di mana ibumu, di mana saudara-saudaramu?” tanya Piki padanya. Anak kucing itu pun bercerita bahwa ia ketiga saudaranya dibuang di taman ini. Dua saudaranya dipungut manusia. Dan saudarinya tertabrak sepeda motor. Tinggal dia sendiri, ketakutan, menunggu ibunya datang.
Mendengar cerita itu, Piki merasa tidak tega padanya. Sejak Felisha membelinya di toko hewan peliharaan, hidupnya selalu bahagia. Ia makan berkecukupan. Banyak susu untuk di minum. Bantal tidur yang empuk. Berlimpah elusan, pelukan, dan ciuman dari Felisha. “Malang sekali nasibmu,” kata Piki sembari membersihkan wajah anak kucing itu dengan lidahnya. “Ikutlah denganku, ke rumahku,”  
Piki menuntun anak kucing itu pulang ke rumah Felisha. Sepanjang perjalanan, keduanya tampak bahagia. Piki menceritakan betapa manis dan baik hati Felisha itu. “Seperti kita, Felisha juga tidak punya Ibu. Tetapi dia punya ayah yang penyayang. Felisha dan ayahnya sangat menyayangiku. Mereka tidak pernah kasar padaku,” Piki bercerita panjang lebar. Ia berharap rasa takut kucing kecil itu perlahan menghilang.
Menjelang fajar, keduanya tiba di rumah. Tampak Felisha sedang menggendong Olong di ambang pintu. Air mata tak henti mengalir dari sepasang mata Felisha. Di pelukan Felisha, Olong pun tampak sedih. Sementara ayah Felisha berkeliling rumah, menyahut-nyahutkan nama Piki.

Melihat Piki muncul dari pagar, Felisha berhambur memeluk dan menciumnya. Kucing berbulu kapas itu merasa sangat bersalah telah membuat Felisha bersedih. Dalam pelukan, ia berjanji tidak akan meninggalkan Felisha lagi. “Maafkan aku, Piki. Aku sayang kamu, aku sayang Olong. Aku sayang kalian berdua,” isak Felisha sembari mempererat pelukannya.
‘Meong’ Felisha mendengar suara seekor anak kucing. Suara itu dari semak di balik pagar. “Oh, kamu pulang membawa hadiah untukku?” Felisha menatap Piki dengan mata berbinar-binar. Piki meloncat dari pelukan menuju semak. Ia membujuk anak kucing itu keluar. “Tidak usah takut, dia Felisha-ku,” kata Piki.
Dengan perasaan malu dan takut, anak kucing itu perlahan menampakkan diri. Felisha bahagia melihatnya. “Ayah, lihatlah, betapa cantik anak kucing ini!” tanpa ragu Felisha meraih anak kucing belang tiga itu ke pelukannya. “Sansa!” kata Felisha. “Oh, sungguh nama yang indah,” batin Piki bahagia.
Pagi itu, Piki, Olong, dan Sansa menikmati mandi air hangat bersama. Mereka juga makan dengan satu mangkuk yang sama. Di malam hari, Piki dan kedua adik barunya berbagi pelukan hangat yang sama. Pelukan dari majikan mereka yang baik hati.

Akhirnya Piki sadar bahwa memiliki banyak makanan, susu, dan pelukan Felisha adalah anugerah yang luar biasa. Tetapi yang lebih baik dari itu adalah membaginya bersama Olong dan Sansa. Ia merasa menjadi kucing yang paling beruntung di dunia ini.

Terima Kasih, Mama Kucing

“Wah… bekal kamu cantik sekali. Kalau cantik begitu, pasti rasanya enak,” kata Nayla, teman sebangku Rika.
“Tentu saja. Ini buatan ibuku. Rasanya eeenaaaaak banget,” timpal Rika lalu memasukkan sepotong tempe goreng ke dalam mulutnya, padahal ia belum selesai mengunyah makanan sebelumnya.
“Bagi dooong… pliis,” kata Nayla. Gadis berkuncir itu menatap Rika penuh harap. Tetapi Rika malah menutup kotak makannya dan pergi.
Rika anak perempuan dengan tubuh yang sangat gendut. Tubuhnya membesar setiap hari karena dia suka sekali makan. Rika jarang membagi makanannya. Karena itu, anak-anak lain tidak senang berteman dengannya. Pada suatu hari, saat istirahat siang, Rika mengajak Nayla dan anak-anak lain untuk makan bersama di taman sekolah. Namun mereka menolak ajakan Rika. Ia pun menikmati sandwich sendirian di bawah pohon.
Saat sedang asyik mengunyah, seekor kucing menghampiri Rika. Kucing itu sangat kurus, tidak seperti tubuhnya yang besar. Kelihatannya, si kucing meminta makanan. Dasar Rika pelit, Ia malah menghabiskan roti itu sendirian. Si kucing tampak kecewa, namun ia masih berada di sisi Rika.
“Pergi, sana! Makananku sudah habis,” kata Rika kepada si kucing. Kucing itu tetap di sana. Ia merapikan duduknya. Seolah-olah si kucing ingin berkata, “Walau begitu, biarkan aku menemanimu di sini. Sepertinya kamu anak kecil yang kesepian.” Rika dan kucing itu pun menghabiskan waktu istirahat siang di bangku taman.
Esok harinya, Rika melakukan hal yang sama. Ia mengajak teman-teman sekelasnya untuk makan siang bersama di taman. Namun mereka menolak ajakan Rika lagi. Rika bertanya-tanya, mengapa teman-temannya tidak mau makan bersamanya. Akhirnya, Rika makan seorang diri lagi di taman.
“Meong….” Seekor kucing bertubuh sangat kurus menghampirinya.“Kamu lagi. Tidak ada makanan untukmu,” kata Rika pada kucing itu. “Meong... meong … meong…” suara bayi kucing ramai bersahutan. Rupanya kucing kurus itu adalah seekor induk. Hari ini ia membawa ketiga anaknya ikut serta.
Rika memperhatikan sepasang tangannya yang besar dan tebal. Lalu ia melihat betapa kecil kepala si induk kucing dibanding kepalan tangannya. Apalagi tubuh ketiga anak kucing itu, jauh lebih kecil.
“Ini… buat kalian. Aku sedang tidak ingin makan,” ujar Rika. Ia menyodorkan kotak makanannya kepada keluarga kucing. Dari kejauhan, tampak teman-teman sekelasnya menggelar tikar di bawah pohon. Kemudian mereka makan siang bersama. Rika menghampiri mereka. Tetapi, tidak satu pun yang mempedulikannya. Ia Rika pun kembali ke bangku taman. Siang itu, Rika tidak makan sama sekali. Ia hanya menonton keluarga kucing menghabiskan bekal makan siang miliknya.
Keesokan harinya lagi, Rika tidak lagi mengajak teman-teman sekelasnya makan siang bersama. Ia takut mereka menolak ajakannya lagi. Setelah bel istirahat berdentang, Rika membawa kotak bekalnya menuju taman. Di sana, keluarga kucing sudah menunggu. Rika membagi makan siangnya sama banyak. Setengah untuk dirinya, setengah untuk keluarga kucing. Mereka pun makan siang bersama.
Begitulah yang dilakukan Rika setiap hari. Ia berbagi makan siang bersama keluarga kucing. Hingga suatu waktu, Rika membanding-bandingkan tangannya dengan kepala si induk kucing. “Kamu semakin gendut, yah. Sekarang kepalamu sama besar dengan kepalan tanganku,” ujar Rika pelan, sambil menonton teman-temannya dari kejauhan.
“Wah… anak kucing yang imut!” seru Nayla dari jauh. Nayla menunjuk anak kucing di dekat Rika. “Yuk, kita ke sana!” seru salah seorang anak. Mereka pun beranjak menghampiri bangku tempat Rika duduk. Tiba-tiba Rika merasa kikuk.
“Anak-anak kucing ini lucu sekali. Mereka bersih dan sehat. Apa mereka kucing-kucingmu?” tanya Nayla kepadanya. “Oh.. ehmm.. bukan. Mereka teman-temanku. Yang ini induknya,” kata Rika sambil mengelus-elus tengkuk si induk kucing.
“Lucunya….,” ujar Nayla sembari meletakkan si induk kucing di pangkuannya. Anak-anak yang lain tak mau kalah. Mereka juga mengambil salah satu anak kucing untuk dielus. Sekeliling Rika mendadak ramai oleh teman-temannya. Rika tidak lagi melihat mereka dari kejauhan. Kini mereka berada di sisinya. Rika merasa bahagia.


Bel pertanda istirahat siang selesai berdentang. Nayla dan anak-anak lainnya berhamburan kembali ke kelas. Mereka berpamitan pada keluarga kucing dan berjanji akan kembali lagi setelah pulang sekolah. Tetapi Rika tidak segera kembali ke kelas. Gadis kecil itu sedang mengelus-elus tengkuk si induk kucing sembari berbisik, “Terima kasih, ya mama kucing.”

Kucing Hitam si Bung

model: Olong the Cat. Photo by admin

Tuanku, si Bung itu laki-laki bertubuh besar dan bersuara lantang. wajahnya tegas, namun teduh pada semburat senja dan lurik langit pagi. Ia melangkah dalam rima yang bijak. Ia berbicara dengan nada lagu-lagu Bond, tidak terlalu cepat dan berdiksi terpilih. Kepadaku, tuanku berbicara lemah dan lembut. Tuan pria tua yang rapih. Ia selalu mengenakan setelan kain yang habis disetrika dan wangi. Sepatunya pun selalu mengilat. Peci hitam dikenakannya setiap saat, baru saat mau tidur dan mandi ia lepaskan.

Aku menjadi bagian keluarganya lewat pintu dapur. Saat itu, pintu dapur terbuka setengah, karena wangi ikan goreng, aku yang sedang berjalan-jalan di pekarangannya tertuntun memasuki pintu. Tuan membiarkanku masuk pintu, mendekati piring berisi ikan-ikan habis digoreng, namun melarangku menyentuhnya. Ia memilih sepotong ikan yang paling besar, meletakkannya di atas piring kecil, lalu menyodorkannya padaku. Aku menikmatinya sambil dielus-elus jemarinya yang besar-besar.

Sebagai seekor kucing dengan bulu-bulu yang tidak menenggelamkan jemari, kehadiranku tidak berpengaruh banyak di sini. Misalkan Pusi, kucing si jenderal, ketika ia tidak sengaja dibawa ke mari oleh anaknya – saat itu, anak jenderal ikut ayahnya ke mari, singgah sebentar sebelum dibawa ke dokter hewan-, Pusi bercerita kadang-kadang jenderal menangis di hadapan pusi, bercerita betapa rendah dia di mata tuan Bung saat membahas masalah penting. Tuan Bung dan aku tidak pernah terlibat dalam suasana meluap-luap begitu, paling-paling ia melihatku melintas dari dapur ke ruang tengah, mengelusku jika sempat, dan tidak ada lagi kejadian setelahnya.

Pusi melanjutkan cerita, pernah jenderal terlambat ke lokasi penting lantaran belum selesai menyisirnya. Pusi senang memiliki pengaruh sebesar itu pada manusia penting. Ah, dia kucing sok. Disangka bulu tebalnya dapat menyelamatkan jabatan tuan jenderal. Jenderal cengeng itu dipecat tuan Bung kemarin pagi karena terlambat tugas atas alasan yang tidak ada hubungannya dengan urusan negara. Selanjutnya, aku tidak pernah bertemu Pusi lagi. Semoga dia masih dapat mengeluarkan bola bulu dalam perutnya.

Itu dia tuanku Bung, dia berlajan ke arahku. Dia meletakkan peci hitam di atas meja, masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air. Ini kesempatanku. Tidak ada orang lain di antara kami, aku akan menunjukkan diri padanya, untuk mengucapkan, “Aku bersamamu, tuanku,”. Tuan Bung keluar kamar mandi, ia terpaku melihat tubuhku yang hitam dan mataku yang kuning kemerahan. Pupilku membesar tiba-tiba karena tuan berdiri membelakangi jendela.

Tuan berlutut, membuat jarak yang lebih dekat padaku. Ia menyodorkan tangannya, langsung saja kusodorkan hidungku pada jari tengahnya yang gemuk dan tegas bercincin giok. Tuan Bung tidak canggung padaku, dahi dan punggung telingaku diusapnya lembut. Permukaan tangan bung agak kasar. Wangi tembakau dan bau badan manusia tua menyebar. “Meong”, sapaku.

Tuan tersenyum. Kemudian berlalu ke mushallah, tempat ia biasa menyembah tuhan yang kusembah pula. Caraku menyembah tuhan yang itu tidak dengan gerakan naik-turun. Aku menyembahnya dengan menatap langit dalam-dalam, seperti ingin kuterbang padanya. Aku duduk di sisi karpet sembahyang tuan Bung sampai ia selesai mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah, dan kuikuti ia menuju kamar tidur. Kurasa tuan akan beristirahat siang sejenak. Tuan bangun dua jam kemudian, itu kebiasaannya. Manusia dewasa tidur siang tidak selama kaumku. Kami sanggup tidur beberapa kali dalam sehari karena bergerak seperti ini sangat melelahkan. Apalagi, rumah tuan sangat luas dan penuh ruangan.

Tempat tinggal kami lengang. Anak-anak Tuan belum kembali dari sekolah. Istri Tuan Bung ada di halaman belakang, menyulam taplak meja. sementara, di ruang depan yang lapang, menumpuk beberapa rekan tuan, bercakap-cakap, serius dan berat. Tuan sembahyang pelan-pelan. Aku menantinya di atas sofa, menikmati tiap gerakannya.

Lanang beringsuk masuk lewat fentilasi, kemudian bertolak ke atas meja dari lemari, untuk bertengger dan memulai percakapan khas bangsa kami.
“Ada makanan sisakah di rumahmu?” Lanang menjilati kuku kelimanya.
“Rasanya tidak mau makan siang, rasanya mataku berat sekali,”
“Mewowowong... mewowowong... kamu sok seperti tuanmu,” Lanang menatapku sinis. Dia kucing kampung belang dua, hitam dan cokelat. Liar, tanpa majikan. Lanang iri pada kami, kucing-kucing kampung yang tidak sengaja diadopsi saat mengendap-endap di dapur.

“Meong!” Lanang mencoba menerkamku. Aku menghindar dan bersembunyi di sisi sajadah Tuan. Tuan menengadahkan kedua tangannya. Daging-daging di wajahnya merunduk, tetapi sepasang mata yang teduh itu menatap tajam ke sesuatu di atas sana. Aku dan Lanang beradu meongan, bulu-bulu kami merinding. “Kucakar tuanmu!” ancamnya. “Tuanku tidak bersalah apapun padamu,” aku mendesis.

“Dia ini sangat sombong, tidak pernah memberiku makanan, mengelus pun tidak pernah,”
“Tuan sedang berdiskusi bersama Tuhan. Tidakkah kau takut?”
Istri tuan berhambur masuk ke ruangan. Ada semesta gelap pada bias wajahnya. Aku dan Lanang mencari tempat sembunyi di bawah meja dan kursi. Tuan mengusap kedua tangannya dengan ketenangan. Majikan perempuanku membawa kabar bahwa jenderal-jenderal masih menunggu di teras. Tuan duduk di di atasku, istrinya gelisah.

“Aku sedang memikirkan kebajikan-kebajikan bagi semua orang di Sabang yang sama baiknya bagi orang-orang Dani. Fatma, menurutmu apa yang harus aku lakukan?” kata Tuan. Istrinya terisak. Lanang diam-diam meninggalkan kami. Aku membiarkannya dan berusaha memahami percakapan tuan dan istrinya.

Kami, bangsa kucing, tidak diberi kemampuan untuk memahami banyak hal seperti manusia. Kami mengenal manusia dari apa yang mereka lakukan di sekitar kami. Dengan alasan ini, tentu Pusi memiliki wawasan yang lebih luas, karena dia selalu diajak tuannya bepergian dengan kandang khusus. Aku hanya kucing kampung rumahan, bulu-buluku pendek dan selalu rontok. Aku bermain paling jauh ke pekarangan tetangga.

Tuan berpelukan dengan istrinya. Usia mereka sepertinya terpaut jauh. Istrinya masih muda. Aku melihatnya seperti kucing baru berumur delapan bulan, di dunia kucing itu seperti manusia berusia 20 tahunan. Walau masih muda, sepertinya istri tuan pandai dan dapat memberi nasihat yang baik. Menurutku, entah apa pekerjaan tuan, yang kupahami sekarang, jika berbicara tentang kebutuhan banyak orang, tentulah tuan seseorang yang sangat penting dan berpengaruh.

Aku beranjak menuju teras, barangkali ada yang dapat kulakukan selain membuka pupil mata lebar-lebar. Di teras, tiga pria berpakaian rapih duduk saling berhadapan. Wajah mereka serius dan tegang. Salah seorang di antaranya memegang map di atas meja. Ia menggerak-gerakkan jemarinya, telunjuk-jari manis-jari tengah, telunjuk-jari manis-jari tengah. Yang lain mengepulkan asap tembakau kencang-kencang, sampai mungkin rasa tembakau itu menjadi tidak penting lagi. Satunya lagi, tidak betah duduk berlama-lama, ia mondar-mandir, kemudian duduk lagi, begitu seterusnya sampai tuan keluar rumah dan duduk di satu-satunya kursi yang kosong.

Aku melangkah ke bawah meja, tepat di sisi kaki tuan. Aku bermanja-manja sebentar di kakinya, menggosokkan tubuhku lalu duduk. Tuan sempat menoleh kepadaku, tetapi air mukanya datar. Posisi kaki ketiga tamu tuan tidak santai. Kedua kaki mereka lurus ke depan. Sementara kaki tuan terbuka agak lebar. Tidak ada percakapan di antara mereka dalam waktu yang cukup panjang. Aku penasaran, apa yang terjadi di atas meja. Namun apa boleh buat, aku hanyalah seekor kucing, yang dapat melihat permukaan meja dari tempat tinggi saja.

Kulihat istri tuan mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia meletakkan kedua tangannya di depan dada, matanya yang tampak sebelah saja tidak berkedip menatap tuan. Siapa menunggu siapa, untuk apa menunggu, batinku.

Ada bau ganjil yang menyeruak, entah dibawa angin ataukah baru dibuat. Bau itu pahit, menusuk, bikin mual. Bau... bau yang muncul saat tuan membakar sebuah cerutu atau rokok gulungan dengan korek api. Bau bakar. Siapa yang membakar, apa yang membakar. Istri tuan, di balik pintu tampak kaget, kedua bola matanya membesar. Jelas itu bukan ekspresi minta dielus.

Bunyi antukan jemari dan meja semakin cepat dan jelas terdengar. Aku tidak duduk lagi. Telingaku menunjuk ke belakang semakin kencang. Bau itu semakin tajam. Sebuah benda cukup berat diletakkan pelan-pelan di atas meja. Benda itu mungkin penyebab bau bakar ini. Kedua kaki tuan bergeser, mempersempit jarak. Duduknya menegap lebih. Aku mendengar suara bolpoin menggesek secarik kertas dengan lambat. Begitu suara bolpoin itu berhenti, ketia tamu tuan segera pergi dengan mobil berwarna hitam yang diparkir di luar pekarangan. Tuan pun beranjak memasuki rumah, aku mengikutinya.


Tuan dicegat istrinya di depan pintu dengan pelukan. Istrinya menangis, tubuhnya bergetar. Tuan tidak membalas pelukan itu, ia malah meraihku ke pelukannya, aku dibawanya ke mushallah. Ia meletakkanku di atas kursi sebelum tuan menggelar kembali sajadahnya. Aku turun dari kursi, duduk di atas sajadah, di bagian yang nantinya akan tuan cium dan membasahinya dengan air mata, dan membisikinya dengan isakan.