Anda Bebas Utang

February 27, 2026 Kiki S. Tjako 0 Comments

Berbahagialah orang yang mati muda. Salah. Manusia yang telah mati tidak dapat merasakan emosi lagi. Kebahagiaan itu menjadi milik kita, atas interpretasi kematian yang dialami oleh orang lain.

Berbahagialah orang yang tidak memiliki utang. Benar. Hidup tanpa utang sama dengan bernapas tanpa beban dan tentulah dapat dirasakan dengan kesadaran penuh oleh manusia yang masih bernafas. Yang kumaksudkan adalah segala jenis utang, yakni utang uang, utang jasa, termasuk utang penjelasan. 




Utang uang dibayar sesuai kesepakatan, kalaulah mau dilebihkan, sewajarnya saja. Bagiku ini mudah, kecuali dalam situasi akulah yang butuh berutang. Semua utangku, aku catat di ponsel maupun sarana lain untuk kubayar ketika aku sudah mampu membayarnya. Ada saja orang-orang yang dengan alasan tertentu, tidak mau dibayar. Bagiku, urusanku selesai sampai di situ. Niat dan aksi membayar utang adalah bagianku, niat menerima pembayaran adalah urusan si pihak kedua. Jika pihak kedua menolak, bukan lagi urusanku. Dia telah membebaskanku dari kewajiban itu. Walau kadang, masih kusimpan niat itu, juga uangnya untuk sewaktu-waktu kubayarkan apabila si pihak kedua kelak menagihnya.

Terkait utang jasa, ini jenis utang yang paling sulit ditakar. Nilai jasa teramat subjektif, tergantung perasaan dan kerelaan pihak kedua. Biasanya aku menanyakan kepada pihak kedua, apakah utang jasaku sudah lunas atau belum, hal apa yang dapat kulakukan sehingga dapat memenuhinya? Kadang utang jasa juga jarang teringat, sebab kebahagiaan mendapatkan pertolongan seringnya mudah terlupakan. Mencatat utang jasa menjadi pekerjaan tambahan, aku harus mampu mengingat semua orang yang pernah kutemui dan kenangan yang terjadi di antara kami. Sayangnya, daya ingatku terbatas. Jadi kuputuskan saja untuk berupaya berbuat baik kepada semua kenalan lama yang tidak pernah meninggalkan luka mendalam kepadaku.

Utang ketiga, utang paling dramatis, sewenang-wenang dan -bagiku, merupakan bentuk penindasan pihak lain kepadaku: utang penjelasan. Dinamika kehidupan tak jarang menempatkanku dalam posisi si antagonis, si yang dibenci orang lain, atau apapun itu sebutannya dalam sudut pandang pihak lain. Untuk membersihkan nama, diperlukan penjelasan runtut akan kejadian yang membuat pihak lain keliru memahami. Namun seringkali, pihak yang membutuhkan penjelasan itu tidak menanyakan langsung kepadaku. Mereka tenggelam dalam interpretasi sepihak, meyakininya dan bernafas dengan itu. Lama-kelamaan, interpretasi itu berubah menjadi kebencian, menebal, dan mereka membutuhkan semacam aliansi untuk mendukung interpretasinya. Jika telah sampai pada titik itu, utang penjelasan telah diputihkan.

Kita tidak berutang apa pun kepada pembenci. Kebencian bersumber dari jiwa yang iri dan dengki. Iri atas apa yang telah kita capai, dengki sebab tidak mampu mencapainya. Apakah itu salah kita? Bukan. Itu salah pikirannya, dialah yang menghadirkan alasan untuk membenci kita. Jadi, kepada para pembencimu, biarkan saja lah mereka seperti itu. Dahulu, aku cukup naif untuk mengajak para pembenci bertemu, berdialog, dan mencoba mendengarkan cacian mereka. Rupanya itu tindakan yang salah. Setelah menjelaskan pun, tidak semua orang dapat berterima dengan bijak. Banyak yang memilih lebih percaya pada dugaannya sendiri, ketimbang berterima pada fakta yang telah aku paparkan. Orang-orang seperti itu barangkali tidak pernah berhenti menebarkan cerita miring atasmu, tapi yakinlah suatu hari mereka akan terperangkap pada hukum alam. Perbuatan tidak menyenangkan kepada orang lain itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. Orang yang ingin sembuh dari penyakit hati, akan menemuimu dengan sendirinya dan bersikap legowo untuk menerima penjelasanmu. Mereka harus aktif menagih utang penjelasan, apabila tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan perasaan menyiksa itu. 

Mereka masih hidup di masa lampau, sementara kita bersemangat di masa sekarang dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik. Kamu tidak bertanggung jawab meredakan kebencian orang lain, sebab bukan kamu yang memulainya. Mereka yang mudah iri, dengki, mudah membenci adalah orang-orang yang tidak berbahagia atas hidupnya sendiri. Mereka tidak belum mampu berterima pada takdir hidupnya, belum mampu melepaskan apa yang bukan miliknya, belum mampu merelakan harapan yang tak terpenuhi. Kehidupan berjalan seperti itu, manusia dapat berencana, namun tetap kehidupan yang menentukan. Kita tidak dapat mengontrol orang lain. Semua manusia itu makhluk merdeka, termasuk bebas untuk berinterpretasi atas manusia lain. 

Saat ini, aku ingin terbebas dari segala jenis utang. Aku ingin berbahagia dan fokus menyelesaikan sisa usiaku dengan berkarya. Ada pun utang-utang orang lain atasku, biarkan sajalah. Aku jarang menghitung piutang. Mengingatnya pun sulit, karena aku benar-benar pelupa. Aku juga menikmati keterkejutan saat seseorang tiba-tiba datang dan berterima kasih atas hal-hal kecil yang pernah kuberikan kepadanya. 

0 Comments: