Showing posts with label Sastra. Show all posts

Aku Penyu

Banyak bekas luka di kakinya. Rambutnya pendek seleher dan tidak wangi. Ruang-ruang di rumah ini berbau tembakau akibat kebiasaannya. Dia memanggilku anak dan menjuluki dirinya mamaku. Bukannya tidak sudi, tetapi aku sudah memiliki ibu.


Pertama kali memasuki tempat tinggal Sofie, aroma lepek menyeruak dari dinding lembab dan udara yang jarang terganti. Dia membuka pintu kandang. Harapnya, aku dapat menjelajah rumah agar terbiasa. Namun aku hanya berdiam di atas meja makan, memandang kecoak-kecoak merdeka di bawah lemari makan. Dia menyiapkan bak buang air, mangkuk makanan dan air minum di garasi yang sebenarnya menyatu dengan ruang keluarga. Dia memintaku minum, aku tidak bergeming. Air itu dari sumur bor.


follow me while

pict by Little Nymph

















counting one to twenty six, I missed five to ten
barking like a dog
shouting like a starving to death kitten
too free to remember, the golden ages

looking at my finger toe, bad and big
I saw it’s already tired clamped by my old-fashioned shoe
feeling my heart beats slowly
too tired for running, the blackest years

bean sand and wind in my skirt
told me to reopen an old book
without tearing or hiding certain pages
the sound of sea became soundtrack to our acts
my new beginning

follow me, while there still muscles

Sampai Jumpa di Surga, Alliesa

semasa kuliah, aku nomaden. dari satu kos ke kos lainnya. atau dari satu rumah orang baik ke rumah orang baik lainnya. setelah beberapa bulan merasa tidak nyaman tanpa kucing, suatu malam aku bertemu anak manis itu.

motorku nyaris menginjak lehernya. seekor kucing bersembunyi di bawah roda sepeda motorku sedari tadi. warna mantelnya cokelat gelap, nyaris menyatu dengan warna malam. saat aku berusaha memindahkannya ke tempat terbuka, ia memberikanku tatapan itu. tapapan yang sekelam semesta, yang memiliki ratusan bintang pijar. kurangkul tubuhnya yang besar dan hangat.

tanpa berpikir panjang, kucing besar itu kubawa ke kosan. dia begitu pandai dan penurut. malam pertamanya di kamar membuatku terkesan. ia membuang air seninya tepat di lubang kloset. betapa seekor kucing yang pandai. "Tinggallah bersamaku sesukamu, kucing manis. bolehkah kupanggil kau Allie?" kataku padanya. kucing manis itu mengedipkan matanya. kami memulai musim hujan tahun 2012 dengan kehangatan.

saat itu, isi kantongku terus menipis karena besar pasak daripada tiang. penghasilanku banyak kuhabiskan untuk membiayai karya ini-itu, aku tak peduli apakah akan ada laba dari modal yang telah kukeluarkan. namun aku selalu percaya, seekor kucing memiliki rejekinya sendiri. Allie dapat jatah makan tiga ekor ikan goreng dalam sehari. menu makanan Allie meningkat seiring bertambahnya hari. aku dapat membelikannya sebungkus catfood kelas B 2 kali seminggu. dan tak perlu pengeluaran untuk catsand, ia pandai membuang pee atau poo nya ke dalam lubang kloset.

catfood itu membuatnya melebar dan melebar. menggendongnya bukan lagi pekerjaan yang mudah. Allie si gendut. obesitas, kata dokter yang pernah memberinya vaksin. dokter hewan itu menyarankan diet ketat pada Allie, tetapi aku selalu tak tega melihat tatapan semestanya saat meminta makan. Allie makan lebih dari 6 kali sehari dengan snack yang membumbung tinggi di atas mangkuknya. 

Allie yang sebesar karung
kalau Allie lapar tengah malam dan aku sedang pulas, ia melakukan segala cara untuk membangunkanku. ia menarik-narik rambutku sampai aku terbangun kesakitan. paling parah, ia menggigit ketiakku yang sering terbuka saat sedang tidur. sumpah, itu sakit sekali. melihat ekspresi kesakitanku, bukannya merasa bersalah, Allie malah senang dan langsung berlari dengan pantat megal megol ke mangkuknya, matanya tertuju pada bungkusan eureka di atas lemari.

sejak saat itu, tak pernah kubiarkan mangkuknya kosong. makanan harus terus membumbung untuknya. mangkuknya yang berwarna biru pun kubaluri kapur ajaib agar tidak didatangi semut. Allie pernah tak sengaja makan makanan bersemut dan bibirnya luka-luka. ekspresinya seperti menangis kesakitan, aku memeluk tubuh bundarnya penuh kasih.

Allie kucing sosialis. ia pandai bergaul. saat itu kami tinggal di pondokan rumah panggung. Allie menghabiskan siangnya mengunjungi kamar-kamar tetangga kosan, sekedar memperlihatkan tubuhnya yang gendut atau ikutan memakan cemilan mereka. seisi kos sudah mengenal dan menyayanginya. kalau kekenyangan, Allie nongkrong di teras pondokan, tepat di depan kamar dan mengawasi halaman pondokan seperti penjaga menara. 

mungkin Allie sudah menjadi betina alfa di sekitaran pondokan dan dia berniat memperluas wilayah pergaulan lebih jauh. beberapa kali Allie seperti hilang ditelan bumi. tidak ada di kamarku atau di kamar tetangga. apalagi di balkon. ia membuatku kuatir tak terkira. aku seperti kesurupan mencarinya. orang-orang menertawaiku karena begitu ngotot mencari seekor kucing domestik. saat itu, langit sudah gelap. dunia batas perlahan muncul dan Allie belum pulang. sebentar lagi jam makannya tiba, ia belum pulang. aku termenung di ambang pagar pondokan, memikirkan cara menemukan anak manis itu. tiba-tiba, Allie berlenggak lenggok keluar lorong sempit dengan tatapan semesta padaku. seolah merasa bersalah, ia tidak menyundulkan kepala pada betisku seperti biasa, terburu-buru ia menaiki tangga dan bersembunyi di bawah meja kerjaku.

kucecar dia dengan omelan bertubi-tubi. Allie semakin merapatkan tubuhnya ke tembok. ia takut menatapku. tatapan semestanya tak ampuh bagiku saat itu. tak pernah kulihat ia setakut itu padaku. Allie terus bersembunyi di sana, melewatkan jam makan malam dan jam makan tengah malamnya. aku juga membawa kekesalanku hingga tertidur. aku dan Allie diam-diaman sampai kudengar dengkurannya seperti gemuruh karena menahan lapar. kesalku belum reda, tetapi tetap kusodorkan semangkuk eureka. Allie makan tergesa-gesa. wajahnya terus menunduk. betapa ia merasa bersalah. "Jangan begitu lagi!" kataku padanya. sejak saat itu, Allie selalu bergaul tak jauh dari pondokan. setiap kusadari ia hilang dari pandanganku, aku menyahutkan namanya dan Allie akan muncul entah dari mana, berlari tergopoh-gopoh, berusaha secepat mungkin berada di hadapanku dengan bobot tubuh seberat itu.

Allie tumbuh semakin besar dan besar. sampai-sampai lebar tubuhnya selebar badanku. bentuknya aneh tetapi menggemaskan, bulat dari leher ke bawah sementara kepala dan telinganya tetap kecil. seperti karung beras ditancapi kepala-kepalaan. kalau dia tidur di dekat pintu, tak sengaja kutendang kepalanya. karena ia tampak seperti buntelan besar kecokelatan dari belakang. tubuh yang besar itu menyembunyikan kepala kucingnya.

corak mantel Allie agak unik. loreng kecokelatan pada wajah, punggung, dan ekor. perutnya penuh totol. Allie juga agak galak untuk jenis kucing domestik. kucing domestik lain yang pernah kupelihara, saat marah cenderung mengeong keras. Allie justru menggeram dalam dan menatap tajam. sifat agak liar ini, didukung dengan ukuran tulangnya yang lebih besar dari kucing domestik , dan corak mantel yang tak biasa, memberiku kesimpulan: ada gen kucing hutan semacam Blacan dalam tubuhnya. penemuan ini membuat Allie semakin berharga buatku.

aku senang membawanya jalan-jalan. Allie tak pernah menyusahkanku selama di luar rumah. saat aku bekerja, ia berbaring di sisi kakiku dengan posisi meringkuk. kadang ia memaksa membalik tubuhnya, memperlihatkan perut lebarnya sebagai tanda mengajak bermain. saat ingin buang air, ia mengeong di depan kamar mandi, agar aku membuka pintu kamar mandi. aku menunggunya selesai berurusan dengan lubang kloset lalu menyiramnya. kemudian Allie akan kembali berbaring manja di ujung kakiku. 

suatu hari, mamaku penasaran pada Allie. kubawa ia ke rumah mama. mama histeris melihat ukurannya. sampai-sampai mama bersembunyi di balik lemari karena ketakutan. "Itu bukan kucing, itu monster!". Aku menenangkan mama, pelan-pelan kuarahkan tangan mama mengelus kepala Allie. kucing itu perlahan memperlihatkan tatapan semestanya kepada mamaku. alhasil, beliau luluh. kutinggalkan Allie di rumah mama, hingga setahun kemudian.

itu karena keuanganku merosot drastis. aku tak lagi sanggup membelikannya 2 bungkus eureka setiap bulan. pikirku, rawfood nasi-ikan akan selalu ada di rumah mama. mama juga senang bersama Allie. kucing manis itu selalu menemaninya tidur. kata mama, tidur sama Allie enak. tubuhnya besar, seperti boneka. saat keuanganku sudah membaik, aku ingin merawat Allie kembali dan mama tidak rela. sebagai anak yang mencoba berbakti, sudahlah, kubiarkan Allie bersamanya. hitung-hitung sebagai pengganti anaknya yang jarang pulang ke rumah ini. Allie digantikan dua ekor kucing persian medium bernama Piki dan Wichi. bersama kucing manapun selalu membahagiakan.

sebulan terakhir ini, aku kembali tinggal di rumah mama. Piki & Wichi dicuri orang. aku membawa pulang seekor kucing domestic tabby lainnya bernama Pikkolo. Pikkolo dan Allie saling menyayangi. corak mantel mereka juga mirip, tampak seperti ibu dan anak. senang rasanya, dua kucing kesayangan tidak bermusuhan.

suatu malam, aku pulang kantor dan menemukan muntahan berwarna hitam. sebegitu lelahku, aku tak sanggup mencari tahu siapa pemilik muntahan itu. aku langsung tersungkur di kasur, tertidur bersama Pikkolo. tak kusadari kalau Allie ternyata tidak berada di sekitar. esoknya, mama menemukan Allie terbujur kaku di rooftop. 

mengubur Allie semacam aktifitas yang menguras emosi. aku ingin ia dikuburkan dengan layak ditempat yang baik. di tanah yang pasti selama 3 bulan tidak akan digali demi pembangunan dan semacamnya. aku ingin tubuhnya benar-benar habis terurai sebelum tanah tempatnya dikubur tersentuh manusia. tempat itu adalah sepetak tanah kosong di dalam lorong yang dijadikan tempat sampah oleh warga sekitar. di bawah hujan deras, aku menggali lubang yang cukup memuat tubuhnya yang besar. tetiba seorang warga mengusirku dari tempat itu dengan alasan aku hendak mengubur kesialan di sekitar rumahnya. dengan kesal aku mengangkat mayat kucing manisku ke dalam pelukanku. kubungkus kembali tubuhnya dengan kain putih dan kubawa mayat itu dengan sepeda motor.

aku menguburnya tepat di bawah pohon, di halaman warung kopi tempatku menuliskan kisah ini. pemilik warkop tidak melihatku melakukannya. aku ingin ada satu tempat yang dapat kukunjungi diam-diam, sekedar untuk merasakan kenanganku bersama Allie selama hampir 4 tahun. aku bersyukur pernah dipercaya Tuhan hidup bersama salah satu makhluknya yang hebat. kelak, kalau aku masuk surga, kupastikan berdoa pada Tuhan agar Allie dihidupkan kembali. akan kudoakan pula semoga ada catfood jenis eureka di surga. karena beberapa hari sebelum Allie pergi, aku sempat berkata padanya;

"Allie... doakan mama.. supaya banyak rejeki, supaya bisa belikan kamu sebungkus eureka kesukaanmu itu,..."

Kucing Hitam si Bung

model: Olong the Cat. Photo by admin

Tuanku, si Bung itu laki-laki bertubuh besar dan bersuara lantang. wajahnya tegas, namun teduh pada semburat senja dan lurik langit pagi. Ia melangkah dalam rima yang bijak. Ia berbicara dengan nada lagu-lagu Bond, tidak terlalu cepat dan berdiksi terpilih. Kepadaku, tuanku berbicara lemah dan lembut. Tuan pria tua yang rapih. Ia selalu mengenakan setelan kain yang habis disetrika dan wangi. Sepatunya pun selalu mengilat. Peci hitam dikenakannya setiap saat, baru saat mau tidur dan mandi ia lepaskan.

Aku menjadi bagian keluarganya lewat pintu dapur. Saat itu, pintu dapur terbuka setengah, karena wangi ikan goreng, aku yang sedang berjalan-jalan di pekarangannya tertuntun memasuki pintu. Tuan membiarkanku masuk pintu, mendekati piring berisi ikan-ikan habis digoreng, namun melarangku menyentuhnya. Ia memilih sepotong ikan yang paling besar, meletakkannya di atas piring kecil, lalu menyodorkannya padaku. Aku menikmatinya sambil dielus-elus jemarinya yang besar-besar.

Sebagai seekor kucing dengan bulu-bulu yang tidak menenggelamkan jemari, kehadiranku tidak berpengaruh banyak di sini. Misalkan Pusi, kucing si jenderal, ketika ia tidak sengaja dibawa ke mari oleh anaknya – saat itu, anak jenderal ikut ayahnya ke mari, singgah sebentar sebelum dibawa ke dokter hewan-, Pusi bercerita kadang-kadang jenderal menangis di hadapan pusi, bercerita betapa rendah dia di mata tuan Bung saat membahas masalah penting. Tuan Bung dan aku tidak pernah terlibat dalam suasana meluap-luap begitu, paling-paling ia melihatku melintas dari dapur ke ruang tengah, mengelusku jika sempat, dan tidak ada lagi kejadian setelahnya.

Pusi melanjutkan cerita, pernah jenderal terlambat ke lokasi penting lantaran belum selesai menyisirnya. Pusi senang memiliki pengaruh sebesar itu pada manusia penting. Ah, dia kucing sok. Disangka bulu tebalnya dapat menyelamatkan jabatan tuan jenderal. Jenderal cengeng itu dipecat tuan Bung kemarin pagi karena terlambat tugas atas alasan yang tidak ada hubungannya dengan urusan negara. Selanjutnya, aku tidak pernah bertemu Pusi lagi. Semoga dia masih dapat mengeluarkan bola bulu dalam perutnya.

Itu dia tuanku Bung, dia berlajan ke arahku. Dia meletakkan peci hitam di atas meja, masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air. Ini kesempatanku. Tidak ada orang lain di antara kami, aku akan menunjukkan diri padanya, untuk mengucapkan, “Aku bersamamu, tuanku,”. Tuan Bung keluar kamar mandi, ia terpaku melihat tubuhku yang hitam dan mataku yang kuning kemerahan. Pupilku membesar tiba-tiba karena tuan berdiri membelakangi jendela.

Tuan berlutut, membuat jarak yang lebih dekat padaku. Ia menyodorkan tangannya, langsung saja kusodorkan hidungku pada jari tengahnya yang gemuk dan tegas bercincin giok. Tuan Bung tidak canggung padaku, dahi dan punggung telingaku diusapnya lembut. Permukaan tangan bung agak kasar. Wangi tembakau dan bau badan manusia tua menyebar. “Meong”, sapaku.

Tuan tersenyum. Kemudian berlalu ke mushallah, tempat ia biasa menyembah tuhan yang kusembah pula. Caraku menyembah tuhan yang itu tidak dengan gerakan naik-turun. Aku menyembahnya dengan menatap langit dalam-dalam, seperti ingin kuterbang padanya. Aku duduk di sisi karpet sembahyang tuan Bung sampai ia selesai mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah, dan kuikuti ia menuju kamar tidur. Kurasa tuan akan beristirahat siang sejenak. Tuan bangun dua jam kemudian, itu kebiasaannya. Manusia dewasa tidur siang tidak selama kaumku. Kami sanggup tidur beberapa kali dalam sehari karena bergerak seperti ini sangat melelahkan. Apalagi, rumah tuan sangat luas dan penuh ruangan.

Tempat tinggal kami lengang. Anak-anak Tuan belum kembali dari sekolah. Istri Tuan Bung ada di halaman belakang, menyulam taplak meja. sementara, di ruang depan yang lapang, menumpuk beberapa rekan tuan, bercakap-cakap, serius dan berat. Tuan sembahyang pelan-pelan. Aku menantinya di atas sofa, menikmati tiap gerakannya.

Lanang beringsuk masuk lewat fentilasi, kemudian bertolak ke atas meja dari lemari, untuk bertengger dan memulai percakapan khas bangsa kami.
“Ada makanan sisakah di rumahmu?” Lanang menjilati kuku kelimanya.
“Rasanya tidak mau makan siang, rasanya mataku berat sekali,”
“Mewowowong... mewowowong... kamu sok seperti tuanmu,” Lanang menatapku sinis. Dia kucing kampung belang dua, hitam dan cokelat. Liar, tanpa majikan. Lanang iri pada kami, kucing-kucing kampung yang tidak sengaja diadopsi saat mengendap-endap di dapur.

“Meong!” Lanang mencoba menerkamku. Aku menghindar dan bersembunyi di sisi sajadah Tuan. Tuan menengadahkan kedua tangannya. Daging-daging di wajahnya merunduk, tetapi sepasang mata yang teduh itu menatap tajam ke sesuatu di atas sana. Aku dan Lanang beradu meongan, bulu-bulu kami merinding. “Kucakar tuanmu!” ancamnya. “Tuanku tidak bersalah apapun padamu,” aku mendesis.

“Dia ini sangat sombong, tidak pernah memberiku makanan, mengelus pun tidak pernah,”
“Tuan sedang berdiskusi bersama Tuhan. Tidakkah kau takut?”
Istri tuan berhambur masuk ke ruangan. Ada semesta gelap pada bias wajahnya. Aku dan Lanang mencari tempat sembunyi di bawah meja dan kursi. Tuan mengusap kedua tangannya dengan ketenangan. Majikan perempuanku membawa kabar bahwa jenderal-jenderal masih menunggu di teras. Tuan duduk di di atasku, istrinya gelisah.

“Aku sedang memikirkan kebajikan-kebajikan bagi semua orang di Sabang yang sama baiknya bagi orang-orang Dani. Fatma, menurutmu apa yang harus aku lakukan?” kata Tuan. Istrinya terisak. Lanang diam-diam meninggalkan kami. Aku membiarkannya dan berusaha memahami percakapan tuan dan istrinya.

Kami, bangsa kucing, tidak diberi kemampuan untuk memahami banyak hal seperti manusia. Kami mengenal manusia dari apa yang mereka lakukan di sekitar kami. Dengan alasan ini, tentu Pusi memiliki wawasan yang lebih luas, karena dia selalu diajak tuannya bepergian dengan kandang khusus. Aku hanya kucing kampung rumahan, bulu-buluku pendek dan selalu rontok. Aku bermain paling jauh ke pekarangan tetangga.

Tuan berpelukan dengan istrinya. Usia mereka sepertinya terpaut jauh. Istrinya masih muda. Aku melihatnya seperti kucing baru berumur delapan bulan, di dunia kucing itu seperti manusia berusia 20 tahunan. Walau masih muda, sepertinya istri tuan pandai dan dapat memberi nasihat yang baik. Menurutku, entah apa pekerjaan tuan, yang kupahami sekarang, jika berbicara tentang kebutuhan banyak orang, tentulah tuan seseorang yang sangat penting dan berpengaruh.

Aku beranjak menuju teras, barangkali ada yang dapat kulakukan selain membuka pupil mata lebar-lebar. Di teras, tiga pria berpakaian rapih duduk saling berhadapan. Wajah mereka serius dan tegang. Salah seorang di antaranya memegang map di atas meja. Ia menggerak-gerakkan jemarinya, telunjuk-jari manis-jari tengah, telunjuk-jari manis-jari tengah. Yang lain mengepulkan asap tembakau kencang-kencang, sampai mungkin rasa tembakau itu menjadi tidak penting lagi. Satunya lagi, tidak betah duduk berlama-lama, ia mondar-mandir, kemudian duduk lagi, begitu seterusnya sampai tuan keluar rumah dan duduk di satu-satunya kursi yang kosong.

Aku melangkah ke bawah meja, tepat di sisi kaki tuan. Aku bermanja-manja sebentar di kakinya, menggosokkan tubuhku lalu duduk. Tuan sempat menoleh kepadaku, tetapi air mukanya datar. Posisi kaki ketiga tamu tuan tidak santai. Kedua kaki mereka lurus ke depan. Sementara kaki tuan terbuka agak lebar. Tidak ada percakapan di antara mereka dalam waktu yang cukup panjang. Aku penasaran, apa yang terjadi di atas meja. Namun apa boleh buat, aku hanyalah seekor kucing, yang dapat melihat permukaan meja dari tempat tinggi saja.

Kulihat istri tuan mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia meletakkan kedua tangannya di depan dada, matanya yang tampak sebelah saja tidak berkedip menatap tuan. Siapa menunggu siapa, untuk apa menunggu, batinku.

Ada bau ganjil yang menyeruak, entah dibawa angin ataukah baru dibuat. Bau itu pahit, menusuk, bikin mual. Bau... bau yang muncul saat tuan membakar sebuah cerutu atau rokok gulungan dengan korek api. Bau bakar. Siapa yang membakar, apa yang membakar. Istri tuan, di balik pintu tampak kaget, kedua bola matanya membesar. Jelas itu bukan ekspresi minta dielus.

Bunyi antukan jemari dan meja semakin cepat dan jelas terdengar. Aku tidak duduk lagi. Telingaku menunjuk ke belakang semakin kencang. Bau itu semakin tajam. Sebuah benda cukup berat diletakkan pelan-pelan di atas meja. Benda itu mungkin penyebab bau bakar ini. Kedua kaki tuan bergeser, mempersempit jarak. Duduknya menegap lebih. Aku mendengar suara bolpoin menggesek secarik kertas dengan lambat. Begitu suara bolpoin itu berhenti, ketia tamu tuan segera pergi dengan mobil berwarna hitam yang diparkir di luar pekarangan. Tuan pun beranjak memasuki rumah, aku mengikutinya.


Tuan dicegat istrinya di depan pintu dengan pelukan. Istrinya menangis, tubuhnya bergetar. Tuan tidak membalas pelukan itu, ia malah meraihku ke pelukannya, aku dibawanya ke mushallah. Ia meletakkanku di atas kursi sebelum tuan menggelar kembali sajadahnya. Aku turun dari kursi, duduk di atas sajadah, di bagian yang nantinya akan tuan cium dan membasahinya dengan air mata, dan membisikinya dengan isakan.