Showing posts with label Tualang. Show all posts

portrait stories: Manusia-manusia Matra

Erni Manis

Gadis kecil ini tinggal di desa Bambalamotu, Kab. Mamuju Utara. Disetarakan dengan sekolah dasar biasa, kini ia duduk di bangku kelas 3. Namanya Erni. Ayahnya seorang petani dari suku Da’a dan ibu berdarah Mandar. Erni tampak cukup tertarik pada kamera kami dan tidak menunjukkan tingkah yang canggung. Berkali-kali ia menjadi screen stealer saat saya mewawancarai gurunya tentang sejarah SLBS Bambalamotu yang belum lama dibangun ini. Erni sangat aktif. Ia berlarian berkeliling kelas lalu kembali masuk frame dan tersenyum seperti ini. Menurut gurunya, ia penderita autism yang berbakat di bidang olahraga. Saat kami pamit, Erni mengejar saya dan meminta difoto sekali lagi. Saya melakukannya dengan senang hati. Erni meloncat-loncat kegirangan sebelum kembali bersembunyi di bawah ketiak gurunya.
****

PPS (Piknik-Piknik Saja) di Lembah Ramma

Selalu terdengar jenaka jika ada pelancong dari luar yang mengkritisi jalur-jalur wisata alam di Sulsel. Misalnya jalur menuju air terjun yang harus melintasi aliran sungai kecil, “Harusnya dipasangin jembatan bamb atau pegangan tali nih di sini, biar gampang,”. Nah, itu jenaka karena selayaknya wisata alam bebas, ornamen macam tali begitu akan mengurangi tantangan, berpotensi merusak alam, dan yah, ngapain ke alam bebas kalau ingin merasakan hal-hal yang mudah saja, bukan?

Membayangkan keempat sungai keci di sepanjang jalur menuju Lembah Ramma membuatku sedih. Yaah, sungai-sungai kecil itu yang akhirnya akan menyisakan kutu air atau gatal-gatal sebagai kenang-kenangan petualangan kamu. Akan ada cerita menarik atau banyolan hebat saat memandangi sepasang kaki mengerut pucat sepulang rumah.

15-18 April 2016 lalu, aku dan seorang sahabat namun jarang bertemu merencanakan penanjakan kecil-kecilan ke Lembah Ramma di kaki gunung Bawakaraeng. Kaki, begitu nama lapangan perempuan tangguh itu – ia dapatkan dari singkatan yang dibuat teman lainnya. Kami ditemani 2 orang lainnya, ada Langkose dan Buldozer. Langkose dan Kaki seangkatan diksar di Mapala salah satu universitas Islam di Makassar. Langkose sebagai penjantan tunggal di antara kami tentu saja dipilih berdasarkan skill security, tingkat kebatuan, dan kemampuan survivalnya yang tinggi. Itu lantaran aku sendiri hanya seorang explorer, Kaki yang sudah 2 tahun puasa nanjak karena bekerja, dan Buldozer yang baru kali ini melakukan penanjakan di jalur yang cukup sulit.
Langkose, Kaki, Buldozer, dan Kake

Jalan Kaki dari Tepi Makassar ke Pangkep

Kalau takdir, alam memberikan jalannya. Awalnya Monyek enggan mengajakku tracking, katanya ini simulasi personal. Dia tidak ingin membagi rutenya denganku. Apalagi, sekali pernah ia ceplos mengutarakan maksud terdalam di balik semua petualangannya selama ini. Dia pikir, aku tipe orang yang akan menceritakan apapun kepada siapapun. Mungkin benar, mungkin juga salah. Aku hanya menulis dan tak peduli siapa pun yang akan  membaca tulisanku. 

foto oleh admin | pemandangan melewati Leang-leang (diambil dari atas pick-up tumpangan)

Begitu aku mendapat bbm “bala bantuan, datanglah!” aku tergelincir karena tertawa terbahak-bahak. Pemimpin hebat mana pun di dunia ini, butuh buah pikir seorang wanita. “Susulka. Trouble kaki kiriku. Dari paha ke jemari. Ransum juga out of stock” demikian isi bbmnya. Aku memang telah bersiap-siap untuk menyusul Monyek saat ia tiba di titik paling strategis dari rute pulang-kampung edisi jalan kaki versinya. Paling-paling dia akan melintasi poros Maros-Camba untuk mencapai Pakalu, pintu gerbang Leang-leang. Bbm minta tolong itu ia kirimkan saat mendapatkan satu bar signal di sekitaran Ta’deang, beratus meter dari Biseang Labboro (Bislab). Tampaknya Monyek mengerahkan seluruh kekuatan, menyeret sepasang kaki yang telah payah, menuju SoaSoa AdventurePark, tempat beberapa orang yang dikenalnya berada.

Bbm itu kuterima hari Kamis, sekisar pukul 14.00. Sembari mencari pesanan Ayah, aku berkeliling toko outdoor, mencari hammock, pisau lipat, headlamp dan perlengkapan lain. Sayangnya, sepatu ukuran kakiku tidak diproduksi massal. Aku hanya mengenakan sandal gunung merek segala umat yang sudah buluk. Pukul 4 dini hari, Jumat, 18 September 2015 aku meninggalkan area pemukiman Biring Romang tanpa tidur sekejap mata pun. Lantaran menurut Dwiky dan Nila merasa kurang enak melihat aku pergi menyusul Monyek, tanpa perlengkapan camp dan tracking yang  baik. Aku optimis, keadaan Monyek tidak Se-SOS isi Bbmnya. Dia bukan petualang kemarin sore. Lagipula Monyek menggendong carrier 80liter berisi peralatan camp lengkap dan tenda yang muat untuk empat orang. Tak perlu GPS pula untuk melacak kordinat Monyek. Anak PA domestic akan baik-baik saja di sekitaran TN. Bantimurung-Bulusaraung.

foto oleh admin | berkumpul bersama sekumpulan para Manggala Agni dari timur

Aku membawa carrier 60 liter berisi dua lembar kaos, satu jaket parasut, pakaian dalam, mukenah, peralatan mandi dan anti kulit terbakar. Hammock kurasa cukup. Di antara sekian banyak perlengkapan outdoor, penemuan hammock yang paling hebat, menurutku. Kantong tidur gantung berbahan taslan dapat berfungsi sebagai sleeping bag atau tenda flysheet. Penemuan yang multifungsi. Carrier-ku juga berisi ransum untuk  makan 2 kali sehari selama 3 hari. Tambahan, kelengkapan P3K untuk membereskan trouble di kaki Monyek.

3 senjata

Dalam kantong celana cargo selutut, kusematkan pisau lipat dan ponsel dengan aplikasi tracking terbaik. Hanya untuk berjaga-jaga, kalau Monyek kelewat pede memutuskan beristirahat di tempat sepi dan jarang dilalui anak PA lain. Dan Nikon untuk mengabadikan ekspedisi kurang kerjaan ini.

Ryan mengantarku dengan sepeda motor – karena tidak enak hati melihatku jalan kaki, dini hari, tanpa tidur – higga ke pusat kota Maros. Aku memejamkan mata sejenak di masjid. Begitu matahari terbit, aku menelusuri pasar Maros, mencari bandage dan microsd untuk backup data camera. Pencarianku selesai pukul 09.30. Aku tiba di gerbang Bislap pukul 10.11 wita dan beristirahat sejenak di balai-balai, halaman area Waterpark Maros.

Di balai-balai, sekelompok orang mendatangiku. Mereka melihat ukuran bahu dan lenganku yang cukup besar untuk perempuan. Betisku pun, mereka kagum melihatnya. “Wah, tubuhmu didesain jadi orang liar,” Aku tersenyum getir, aku rasa kelakar mereka agak aneh-, 

Satu per satu mereka memperkenalkan diri. Masing-masing berasal dari Balai Taman Nasional dari seluruh wilayah Indonesia Timur, dari Pegunungan Laurentz hingga tuan rumah TN. Bantimurung-Bulusaraung. Mereka mengajakku berkunjung ke daerah kekuasaan mereka suatu hari nanti. Benar-benar pertemuan yang menyenangkan. Tentu saja, aku akan mengunjungi tempat-tempat itu, kelak jika Tuhan memberi jalan.

gerbang Soasoa Adventure Park

Pukul 11.45 aku menyeberang jalan menuju jembatan yang membatasi jalan poros dan gerbang Bislab. Pada mula jalur, ternyata ada semacam resort area, bertajuk “Soa-Soa Adventure Park”. Aku berbincang lama dengan Aryo, salah seorang pengelola Park. Aku agak ragu, benarkan Monyek berada di sini atau jangan-jangan dia mendirikan tenda di camping area Bislab.

“Mau ke mana?” tanya Aryo. Dia alumni Fisika, Unhas.
“Menyusul temanku di sekitar sini. Katanya dia ada sedikit masalah,”
“Dayat?”
“Yah, si Monyek,”
“Dia ada di belakang sana, lagi mandi”

Kulihat carrier Monyek tergeletak di balai-balai, di belakang Aryo. Ternyata memang dia tidak se-SOS itu. Monyek muncul dari kamar mandi dengan selembar handuk di bahunya. Ia sumringah “Lu datang beneran ternyata,”

bertemu Monyek

Iyalah, gue datang. Emang gue mau bertualang, kok. Kataku dalam hati. Lalu kami coffee break sejenak di teras pos pengelola, bersama Aryo dan bung Andy, si pemilik SoaSoa. Kami menghabiskan sore hari dengan belajar teknik dasar rafting. Malamnya, Yudi, salah seorang pengelola juga, dan anak-anak membakar sekantung jambu mete untuk dibuat tenteng, sebagai bekal stamina kami esok hari.

sebelum meninggalkan Soasoa
Kami meninggalkan SoaSoa pukul 09.30 pagi menuju desa Pakalu, pintu gerbang gua Leang-Leang. Perjalanan ini diawali dengan kaki kanan, menyusur kembali jalur kedatangan kami. Monyek ingin perjalanan kami tidak diselingi kendaraan, seolah staminanya tanpa batas. Aku memilih tidak memaksakan kemampuan fisik. Saat beristirahat di warung jagung rebus, Monyek menghentikan sebuah truk dari Bone. Supirnya bersedia membawa kami hingga ke gerbang Pakalu. Si supir bercerita, menjadi supir truk adalah pekerjaan pilihannya. Baginya, mengangkut hasil bumi dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya bukan hal yang mudah. Ribuan jiwa bergantung pada keselamatan angkutannya. Bapak itu tidak memperkenalkan namanya, namun kami takkan melupakan wajahnya.

Estimasi perjalanan dari Pakalu ke Bosowa sekisar 3 jam dengan taksiran 4 km per 30 menit jika dengan stamina dan kecepatan langkah yang stabil, sesuai estimasi waktu perjalannya Kamis lalu. Hari itu tentu, Monyek berhasil memenuhi rencana tracking-nya, karena dia berjalan sendiri. Namun, menurut taksiranku, Monyek memperlakukan tubuhnya semena-mena, karena itu kaki kirinya kena trouble. Estimasi waktu yang tepat menurutku, 3 km per 30 menit dan diselingi istirahat setiap 15 menit.
foto oleh admin: gerbang Leang Leang

Monyek tidak mendengarkan imbauanku, tetapi diam-diam aku memperlambat langkah agar memenuhi estimasiku sendiri. Aku tidak ingin tracking ini menjadi yang terakhir kalinya. Rencana perjalanan dengan kaki dari Pare-Pare ke Menado masih jauh dari hari ini. Kami harus memantapkan fisik. Jangan kalah di simulasi.

3 km per 30 menit. Kami tiba di pertigaan menuju Bosowa pada pukul 15.30 wita. Dengan 2 kali istirahat: 1 kali di Gua Leang-Leang dan 2 kali di sepanjang jalan beton Kalabirrang, berarti jarak tempuh kami sekitar 15 km. Di pertigaan Bosowa tersebut, kami berpapasan dengan rekan Operasi Rekor Muri Leang Pute pada Agustus lalu. Mereka mengantar kami dengan sepeda motor hingga ke gerbang Salenrang: jalur darat menuju dusun Rammang-Rammang.

foto oleh admin | sepanjang perjalanan, kami bertemu banyak anak-anak

singgah minta air di posko pengelola Leang-leang


di depan gerbang Leang-leang

Salenrang ke Rammang-Rammang dimulai pukul 16.05 wita dan berakhir pukul 17.15 wita. Perjalanan yang cukup singkat, melewati jalur penuh batu curam dan memotong pematang-pematang sawah warga. Lebih mudah melewati jalur ini karena kami tak perlu mengeluarkan energi ekstra demi mengimbangi suhu yang dipantulkan beton. Apalagi, mataku minus dan tubuhku tidak cukup tinggi, sehingga langkahku mudah diperlambat terik matahari.

foto oleh admin | memasuki Rammang-Rammang, lewat jalur darat Salenrang

Kami disambut surau bersahaja di tengah sawah, dikelilingi bukit-bukit karst, penduduk local, dan aroma pepohonan nipah. Memasuki Rammang-Rammang melalui jalur darat, seperti memasuki hidden paradise. Atau seperti memasuki dusun yang memencilkan dari di tengah pegunungan. Apalagi melihat kondisi tanah dan ekosistem Rammang-Rammang yang kurang baik untuk pertanian. Dusun ini dihuni 17 kepala keluarga dengan 15 rumah panggung. Penduduk bertani, menambak dan mengurus pariwisata sebagai mata pencaharian. Untuk bersekolah, anak-anak dusun harus berjalan kaki ke jalan poros atau menumpang rakit-rakit buatan ayah mereka.

foto oleh admin | para kepala keluarga di dusun Rammang-rammang, menanti turis

Objek wisata utama di dusun ini adalah perjalanan menyusuri sungai dengan perahu, mengunjungi mata air, telaga bidadari, telusur gua, dan yang paling menarik adalah menonton ribuan kalelawar buah meninggalkan sarangnya setiap pukul 6 pagi dan pukul 6 sore. Kelelawar-kelelawar itu tumpah memenuhi langit selatan, sementara puluhan elang putih berputar-putar siap memangsa.

foto oleh admin | mengintip proses pembuatan kapal

Menarik menyaksikan sekelompok peneliti dari Rusia memekik girang menyakikan fenomena kelelawar membentuk ombak hitam di langit. Mereka mengeluarkan kamera foto dan video, mengabadikan. Sementara adzan maghrib merdu terdengar, seolah menjadi lagu latar pertunjukan alam itu.


Kami berencana membangun tenda di salah satu pematang sawah yang cukup lebar, tepat berhadapan surau yang indah itu, ketika seorang pria paruh baya mengajak Monyek berbincang. Percakapan itu berujung ajakan bermalam di rumahnya. Dari sebelah utara surau, muncul seorang pria paruh baya lain, menghampiri kami dan mengucapkan kalimat kunci. Kata yang membuat Monyek tak dapat menolak ajakannya. “Anaknya Pak Nurdin?”
“Eh, iya. Dia bapak saya,” jawab Monyek.
“Waah… saya bersyukur sekali. Bapak kamu waktu masih muda sering ke sini. Dia teman kecilku. Kamu juga sering dibawa ke sini oleh Ibumu,” lanjut bapak itu. Ibu Monyek seorang bidan. Rammang-rammang termasuk wilayah pelayanannya.
“Bermalamlah di rumah kami. Dulu dia yang membantu persalinan istri saya. Ibu kamu baik sekali. Dia menerima apapun yang kami berikan, tidak pernah meminta bayaran mahal,”


foto oleh adamin | Pak Darwis, sesaat sebelum menunjukkan jalur ke terowongan
Kami pun berakhir di rumah bapak itu. Istrinya menggelar tikar di ruang tamu untukku dan Monyek. Aku tidur lebih dahulu, punggungku rasanya sakit sekali. Monyek menemani si bapak dan anak lelaki tertuanya, bercerita tentang masa lalu orang tuanya, hingga dini hari.

Pak Darwis, bapak itu menunjukkan kami jalur menuju terowongan Sakeang: jalur terbaik menuju Balocci dari Rammang-rammang. Kami meninggalkan rumah bapak Darwis pukul sepuluh pagi. Jalur tersebut melewati sisi tebing dan hilir sungai. Kami tiba di telaga kering. Jalur terbagi dua. Ke kanan menuju tebing sebelah, ke kiri entah menuju ke mana. Dari jauh tampak jarang dijamah. Jangan-jangan ini jalur memutar karena jalur kiri agak berbahaya, kataku. Monyek berkata, berdasarkan pengalamanku, jalur kanan selalu membuat tersesat. Kita coba saja, menyesatkan diri untuk mengetahui kebenaran.

sebelum meninggalkan Rammang-rammang

Akhirnya kami belok kanan. Aku tergelincir. Darah mengalir di bagian bawah lututku, menyisakan bekas hingga kini. Sembari mengobati kakiku, Monyek menelusuri kembali jalur tadi, mencoba mencari ujung dari jalur kiri yang kami abaikan. “Wuuu…..” sahutnya. “Fufiiifuuu….” Balasku. Monyek membantuku berdiri. “Masih sanggup?” tanyanya. “Bisalah,” kataku. “Aku baru sadar kita dibimbing potongan-potongan kertas HVS sedari gerbang Salenrang,” katanya dalam nafas tersengal-sengal. Aku tak menyadari petunjuk masih berlanjut hingga ke terowongan. Aku memang kehilangan perhatianku pada benda itu sejak tiba di surau. Kami pun mengikutinya hingga tiba di area yang cukup berbeda dari area di sekitarnya. Di sisi karst yang abu-abu, tumbuh jenis kaktus yang menjulang jauh lebih tinggi dari Monyek, di sekitarnya tumbuh benalu anggrek. Inilah gerbang terowongan Sakeang.



Aku menyalakan kamera, mode video. Merekam perjalanan menelusuri terowongan keren ini cukup sulit. Yang kusesali, aku kurang menikmati eksotisme berjalan di lorong yang dibentuk aliran sungai beratus tahun silam. Terowongan berakhir di pertingaan, lagi. Kali ini cukup baik. Sebab jalur kiri jelas tidak menuju pedesaan. Tampak sunyi dan kelam. Jalur kanan dipenuhi dedaunan patah dan sisa-sia pijakan hewan ternak. Kami berjalan menuju jembatan yang menghubungkan wilayah Sakeang dan desa di tepian kecamatan Balocci. Tibalah kami di peradaban yang lebih maju. Rumah-rumah sudah terbuat dari batu, dan tentu saja semen hasil pabrikan Tonasa yang mahsyur itu. Kami melintasi perumahan Tonasa 1 yang telah ditinggal banyak penduduknya. Monyek mempercepat langkahnya. Ia ingin kami tiba di perempatan utama sebelum pukul 5 sore.

Kami menenggak “air rasa-rasa” saat beristirahat di halte tua. Halte kusam, hitam, dan sepertinya tak pernah digunakan lagi. Para penduduk banyak telah memiliki kendaraan pribadi, sehingga angkutan umum bukan lagi kebutuhan utama. Kami berpisah di sana. Ia terus berjalan menuju rumahnya, sekisar 100m dari halte. Dan aku menumpang truk pengangkut semen menuju jalan poros Pangkep-Barru.

Sungguh perjalanan dengan kaki yang takkan pernah kulupakan. Bukan karena kami tidak pernah menggunakan peralatan camping dan tak satu pun ransum dikeluarkan, tetapi perjalanan ini hanyalah jalan uji coba. Kelak, jika tiba saatnya, kami akan melakukan perjalanan dari ujung Pare-Pare ke Manado di utara Sulawesi.

terowongan Sakeang
Lebih dari 75km telah ia tempuh dengan berjalan kaki dan aku menempuh seperdua angka itu. Cara ini rasanya lebih ampuh untuk mengenal tanah kelahiran kami dengan cara yang lebih karib. Semoga kita panjang umur, Nyek. Semoga rencana gila kita bukan sekedar rencana. Hari itu kuakhiri dengan segelas kopi hitam buatan seorang sahabat di koridor sastra Unhas.



Simulasi Bulusaraung



Masih ingat “Pada suatu hari di sebuah desa yang jauh,….” atau “Konon di puncak sebuah gunung yang sangat tinggi…,”? kalimat-kalimat itu hampir selalu jadi pembuka cerita anak, dongeng, atau fable di masa kecil kita. Kalimat-kalimat itu berfungsi sebagai pengantar sekaligus pembenaran atas dunia khayal pengarang, sebab menyajikan cerita fiktif. Namun, bukan hal-hal fiktif yang menjadi topik utama. Cerita-cerita anak dialamatkan untuk memberi pelajaran moral lewat bacaan yang sederhana.  Yang menarik menurut saya, pengaruhnya kepada alam bawah sadar manusia. Cerita-cerita tersebut yang akhirnya membentuk perilaku kita hingga sekarang. Di sisi lain, cerita-cerita itu membentuk mimpi dan kegemaran kita.

Sebab sering membaca cerita-cerita fantasi dari gunung, hutan, atau desa yang jauh, aku merasa tumbuh menjadi orang yang memiliki hasrat melakukan banyak perjalanan. Dua kota yang ingin kukunjungi, sangat, yakni Quebec di timur Kanada dan Timbuktu di dekat Gurun Sahara (sering disebut dalam komik Paman Gober). Hutan Amazon, Gunung Kilimanjaro, Sungai Kapuas, Danau Kelimutu dan sebagainya merupakan tempat-tempat yang ril namun masih fiktif dalam kepalaku, karena aku belum pernah ke sana. Sungguh, rasa penasaran saya pada ornament-ornamen natural di permukaan bumi tidak pernah cukup cara untuk terbendung.

Nasib buruk para born-to-be-explorer yang terlahir di kota besar. Aku jadi sulit memiliki waktu untuk melakukan semua itu. Ketika manusia lain dengan gampang memetik buah di kebun mereka, di desa-desa, aku harus mencari cara terlebih dahulu untuk mendapatkan uang dan membelinya di pasar. Sebagian besar waktu dan tenaga manusia-manusia kota dihabiskan untuk menjadi pekerja agar dapat bertahan hidup.

Keterbatasan ini kemudian mengecilkan volume mimpiku. Aku ingin menginjak daerah-daerah di pulauku terlebih dahulu. Ekspedisi pertama sukses, aku berhasil menjelajah kota Makassar dari bibir pantai hingga ke pesisir kota sebelum tamat SMA. Misi kedua, menjelajah kabupaten-kabupaten selama tahun-tahun perkuliahan. Aku telah menelusuri seluruh Sulawesi-Selatan, selain wilayah Eropa (Enrekang-Toraja-Palopo), bahkan sudah kuinjakkan kakiku ke Bombana, di Sulawesi Tenggara sana. Dalam hitunganku, aku masih punya PR yang panjang. Sulawesi Barat, Mamuju belum kukunjungi, Pasang Kayu yang sedikit lagi mencapai Palu di Sulwesi Tengah pun belum kudatangi. Bau-Bau, dan Kendari masih menempati daftar teratas.

Dalam setahun ini, aku telah berhasi membayar cicilan. April lalu, aku mengunjungi Bulukumba dan Bantaeng untuk mengenal mereka lebih dekat. Agustus, aku mendatangi dua gua vertical besar di Maros, Leang Pute dan Gua Dinosaurus (meskipun skill SRT belum cukup mumpuni untuk mendapatkan ijin menelusurinya). September, aku melakukan perjalanan yang cukup gila: jalan kaki dari Pattunuang (Maros) ke Balocci (Pangkep) melalui terowongan Rammang-Rammang. Pada bulan Oktober, kulakukan pendakian gunung lebih dari 1000mdpl yang hanya kusebut sebagai simulasi Bulusaraung.

Pendakian ini memang hanya simulasi. Sebagai anak dengan garis keturunan kuat dari orang-orang di kaki gunung Lompobattang, alangkah afdhal jika gunung pertama yang kudaki adalah Lompobattang. Maka, kulatih mental dan fisikku terlebih dahulu dan menyelesaikan satu gunung terendah di Sulawesi-Selatan tanpa acara camping di puncak. Aku mendaki dan menuruni Bulusaraung tidak cukup sehari.

Sudah kukatakan pada Monyek (salah seorang kawan seperjalananku), “Aku akan segera mendaki Bulusaraung. Jika tidak bersamamu aku akan pergi dengan orang lain, kalau perlu sendirian” Monyek bersikeras melarangku pergi saat itu, iya karena aku cukup tolol ingin langsung melanjutkan perjalanan ke puncak Bulusaraung begitu kami mengakhiri long march di depan masjid besar Komp. Tonasa 1. Namun, belum cukup 2 minggu, aku benar-benar melakukannya.





Saat itu aku ditemani kawan perjalanan lainnya. Kami hanya berdua. Tanpa carrier. Isi daypack seadanya.  Dengan sepeda motor, kami tiba di desa terakhir pukul 11 siang. Aku dan teman (sebut saja Begal) menunggu posisi matahari berada di titik cukup ramah dengan ritual sarapan yang tertunda. Di kedai kopi yang menyajikan air putih istimewa (berwarna kemerahan karena dimasak dengan tungku dan kayu berkhasiat), aku dan Begal bercengkrama bersama pemuda setempat. Mereka masih kelas tiga SMA. Pagi itu, mereka baru saja turun dari puncak. Semalam mereka camping di Pos 9 untuk mengisi akhir pekan. Mereka mengeluhkan meramainya pengunjung gunung beberapa bulan terakhir, “Kami kehilangan suasana gunung yang selalu bikin rindu,” ujar salah seorang di antara mereka.

Bagian terbaik dari menghabiskan waktu di gunung adalah kesunyian yang dalam, udara dan cahaya bebas polusi, dan tema-tema percakapan yang jauh dari unsur kekotaan. Sekarang, seolah kota dipindahkan ke gunung oleh ramainya kelompok pendaki. Inilah sebabnya aku tidak pernah berniat memasuki KPA tertentu. Kami memulai pendakian pukul 13.30 wita setelah melaporkan kedatangan di pos jaga TN Babul.

Pos 1: Pematang Sawah. Jalur menuju gunung melalui setapak kecil di belakang kedai kopi. Melewati sebuah rumah tua, setapak kebun, pematang sawah, kemudian melintasi pagar anti hama. Kemiringan sekisar 350 menuju pos 2.

Pos 2: Bidang Landai pertama. Sebuah gazebo atau tempat berteduh sederhana dibangun sebagai penanda Pos 2. Kami singgah sejenak, sekedar minum seteguk dua teguk air putih sembari memperhatikan “jejak tangan” para pendaki sebelumnya. Mereka cukup “kreatif” meninggalkan sampah visual pada tiang-tiang gazebo.
foto oleh admin

Pos 3: No Space. Jalur dari pos 1 hingga pos 3 statis pada kemiringan yang sama, kadang-kadang landai namun tidak panjang. Gully semakin banyak dan dalam. Kaki-kaki pendaki tidak memberi sejenak waktu bagi permukaan tanah untuk merapikan diri. Tidak gazebo, hanya papan penanda bertuliskan himbauan bagi para pendaki, yang tampaknya tidak dipedulikan. Debu-debu beterbangan. Udara pegunungan yang bersih tidak berasa di tempat ini.

Pos 4, dan 5 tidak lagi dapat kunikmati. Jalur semakin curam. Apalagi arus mudik dari puncak memperlambat jalanku. Menjelang pos 5, aku dan Begal beristirahat sejenak, bersandar di sisi bebatuan. Tak kusangka lalu lintas cukup padat. Jalur terbagi dua, mungkin karena para pendaki tidak sabaran mengantri akhirnya mereka membuat jalur di sisi lain. Kedua jalur ini mengerucut menjadi satu jalur, tempat beberapa batang pohon berdiri. Karena kemiringan cukup menggetarkan (sekaligus mengasyikkan), para pendari berlarian turun, meluncur hingga ke pohon tersebut, kemudian berputar, meloncat, lalu mendarat dengan (sebut saja) keren pada bidang yang cukup landai. Namun euphoria hanya dapat dilakukan dengan pekikan, karena kemiringan selanjutnya menyambut. Mereka pun terus meluncur hingga pos 1. Bagi orang-orang yang memiliki engsel kaki serapuh aku, tidak disarankan melakukan adegan ini. Takut jatuh lebih penting.



Terus terang, tontonan ini sangat menghibur, namun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Begitu jalur mulai sepi, kami melanjutkan pendakian menuju pos 6. Jalur perlahan melandai, gullies sudah mengecil. Jalur berupa akar-akar pepohonan besar. Sangat membantu agar terhindar dari gelincir. Jalur juga semakin menyempit. Udara semakin segar. Debu-debu berkurang. Serasa mendekati sumber kerinduan.

Karena mengejar ketibaan di puncak sebelum maghrib, kami kurang memperhatikan penanda Pos 7. Kami sempat berhenti untuk mengabadikan beberapa titik yang kuanggap khas dari gunung ini. Aku sempat beristirahat cukup lama, namun Begal mengingatkan bahwa sia-sia kita lama istirahat di tempat itu, sebab pemandangan di Pos 8 sangat menjanjikan. Dia tidak berbohong. Di pos 8 dibangun menara air, tepat di sisi tebing. Pemandangan hutan tropis kaki gunung membuatku takjub. Aku mengeluarkan “air rasa-rasa” dan kretek mild andalan. Ada pagar kawat yang dipasang di sepanjang tebing, tapi kuterobos saja. Tanggung rasanya menikmati pemandangan dengan pembatas.


foto oleh admin

Kami harus tiba di puncak sebelum “dunia batas” datang, sebelum kabut memperpendek jarak pandang, dan suasana mencekam memaksa kami bermalam. Di pikiranku, aku sudah berencana akan “nebeng” di salah satu tenda pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan, jika rencana kali ini tidak sesuai. Dari pos 8 menuju pos 9 membutuhkan waktu kurang dari 15 menit. Kami menjumpai sisa-sia camp semalam dan beberapa kelompok KPA yang bersiap membangun tenda.

Jalur nyaris mencapai kemiringan 80 derajat menuju pos terakhir. Sungguh menguras tenaga dan perasaan. Bebatuan yang dipijaki cukup besar, mengingatkanku pada tangga Minas Morgul di LOTR, jalur tersembunyi Frodo dan Sam menuju kawah api. Sayangnya, puncak cukup mengecewakan. Awan-awan tipis yang biasanya menghampiri sedang berada menutupi wilayah lain. Benchmark kotor, tak ada penanda nama selain kotoran-kotoran spidol para pendaki alay. Area juga seramai pasar senin di desa-desa. Namun, aku dan Begal tetap bersyukur, kami tiba di puncak dengan selamat dan sesuai rencana. Kami menikmati hembusan angin menuju dunia batas hingga matahari benar-benar tidak ada lagi untuk menghangatkan.

Pulang. Untung pertemuan singkat dengan seorang operator menara provider di pos 3 tadi menyisakan sebuah headlamp. Niatku yang cukup terburu-buru dan yakin kalau akan tiba di bawah sebelum gelap membuatku lupa membawa penerangan. Dengan bantuan headlamp, dan senter berlumens rendah, kami menelusuri kembali jalur tadi. Adrenalin dan rasa takut dua kali lebih besar dari saat mendakit tadi. Tentu saja, karena hanya kami yang memaksa diri untuk turun gunung di malam hari. Aku terjatuh berkali-kali dalam gully yang curam. Kuukur-ukur, dalamnya dapat menenggelamkan tubuhku. Sekujur tubuhku dipenuhi debu. Begitu tiba di Makassar, kaki hingga paha diserang gatal-gatal karena debu itu. Gatal, sungguh gatal. Garukan membuat bagian-bagian yang gatal menyisakan luka totol. Kata orang, itu namanya “mor-mor”. Selama dua minggu, kulit sepasang kakiku tidak semulus sebelumnya. Akan tetapi, apalah arti bekas perjalanan seperti itu dibandingkan simulasi yang sukses.


Terima kasih 1.323 mdpl, puncak tertinggi di pegunungan Bulusaraung. Lain kesempatan aku datang lagi. Semoga pihak TN memberimu libur sejenak untuk memperbaiki diri dan rehat dari sentuhan para pendaki. Cukuplah kau disiksa 2000 pasang kaki dalam seminggu, setahun terakhir ini. See you, soon!


Om Bob dan Surga Kecilnya

“Aku percaya, surga memiliki keindahan yang tak dapat dicapai alam pikir manusia. Namun, Tuhan menjatuhkan potongan-potongannya ke bumi agar manusia dapat menikmatinya semasa hidup. Salah satu potongan itu jatuh di pantai-pantai Makassar. Sementara uncle Bob, sukarela mengelola surga kecil itu untuk kaum merah-kuning-hijau”

Dalam hidupku, aku berusaha membaginya sama adil untuk tiap kesenanganku. Menulis, membuat film, dan bercinta. Bertualang merupakan benang merah ketiga doping-ku ini. Demi bertualang, aku dapat mengorbankan apa pun.

“Terkadang, petualangan paling menarik adalah yang tak terencana”

Seminggu belakangan -- mungkin karena keputusanku meninggalkan begitu banyak tanggungjawab yang sudah menumpangi tubuhku selama beberapa tahun-- aku merasa sangat bosan. Walau tetap kubuat keseharianku seacak mungkin, tetap saja bosan dapat menyergap. Sepulang operasi Leang Puteh, aku mendapatkan banyak lingkaran baru, yang lebih berwarna dari lingkaran lamaku. Salah seorang manusia, yang kini menjadi partner in crime baruku, kupanggil Begal, mendapatkan sms dari anak pantai Lae-lae, saat ‘high’ kami menurun. Anak-anak pantai itu rindu padanya. “Yuk, ke Lae-lae malam ini!” ajaknya.


Dengan kargo pendek, eiger pinjaman, kemeja flannel, dan sling bag yang telah menempel di tubuhku selama dua hari, aku mengiyakan ajakan si Begal. Ia memasukkan tenda, matras, headlamp, dan pakaian ganti ke dalam drybag hijau andalannya. Kami siap berangkat.

Aku dan Begal mengendarai motor trail pinjaman (entah didapatkannya dari mana, karena Begal mengendarai CB klasik) menuju dermaga Kayu Bangkoa, di jalan Pasar Ikan, dekat Makassar Golden Hotel. Tak lama menunggu, Sandi, salah seorang pemilik Speedboat siap mengantar kami menyeberang ke pulau Lae-lae.

Arsitektur penerangan sepanjang pelabuhan Makassar, Pantai Losari, dan Jalan Penghibur tampak menakjubkan dari jarak 1,5 km dari bibir daratan. Gedung-gedung tinggi tak berjejer rapi seperti dalam poster iklan pariwisata Makassar di google. Tampak apa adanya, sederhana, namun penuh misteri. Seolah kota itu tengah berujar, “Kami baik-baik saja dengan kondisi ini, jangan polesi kami jadi menor,” aku menghela nafas panjang. Ketakutan tampak menyelimuti kotaku.

Puluhan anak-anak pantai menyambut kami di dermaga utama. Sandi berjanji akan menjemput kami besok malam. Aku dan Begal berjalan kaki ke arah timur pulau, tempat karang pemecah ombak sepanjang satu kilometer berada. Karang ini menjadi titik wisata utama Lae-lae. Melewati jejeran pohon tinggi dan balla-balla, dibangun area bersantai sepanjang 20 meter oleh seorang pemuda pantai hebat bernama Bob Samalona. Baiklah, beliau memang sudah tidak muda lagi. Akan tetapi, caranya memandang hidup dapat membuat anak muda merasa cukup tua untuk berada di dekatnya. Kami di sambut uncle Bob di gerbang masuk, ia ditemani beberapa anak pantai dan sepotong ukiran kayu berbentuk kepalanya sendiri.





Oktober 2014 lalu, uncle mengadakan acara bersama puluhan musisi Makassar lainnya. Beliau memang dikenal sebagai musisi reggae senior (silakan lihat karya-karyanya di youtube). Band-band anthem Makassar, seperti Galarasta dan Melismatis ikut serta dengan sukarela dalam event yang uncle adakan, bertajuk “Sunset to Sunrise”. Tahun ini, uncle berencana mengadakannya lagi. Untuk itu, tampaknya uncle tak butuh banyak bantuan dari orang-orang di daratan Makassar.

Uncle Bob telah mengumpulkan alat dan bahan untuk membangun venue-nya: Bob Beach. Area pemecah ombak yang sudah indah, ia tambahkan sedikit pemanis, dengan rumah pohon, net tents, pagar-pagar dari kayu, hammock buatan, stage, pahatan kayu, balla-balla dari bamboo, dan meja berhiaskan kerang-kerang mutiara.







Ia mendatangkan sendiri, potongan-potongan kayu, bamboo, dan peralatan yang dibutuhkannya entah dari mana. Orang-orang di pulau tak pernah heran dengan kemampuannya, Uncle telah dikenal sebagai semacam waterman, yang dapat merenangi jejeran pulau spermonde tanpa bersusah payah. Uncle pernah berenang dari Lae-lae ke Samalona, tempat ia berjodoh dengan istrinya yang sekarang.

Uncle Bob memberi kami kuasa untuk menggunakan pantainya sesuka kami. Begal pun memasang tenda agak menjorok ke laut, tepat di sisi balla-balla. Aku mengeluarkan ransum ke atas meja, mengatur paket untuk makan malam dan sarapan. Uncle akan kembali, membawa sesajen khas agamanya. Tetapi, uncle tak tahu kami membawa sesajen kami sendiri. Yah, bakar satu biar laper dulu!




Sayangnya, Bob Beach belum dapat memiliki penerangan yang cukup. Mungkin uncle sedang mencari cara selain mendatangkan genset raksasa dari daratan. Sumber listrik di pulau juga terbatas, para penduduk baru dapat menikmatinya saat malam tiba. Di siang hari, hanya fasilitas utama yang mendapatkan listrik, sekolah misalnya.

Semalam Tidak di Bumi
Uncle kembali bersama beberapa anak pantai. Rata-rata masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kami berbaring dalam net tent pribadinya, menikmati panduan navigasi utama para pelaut di permukaan langit sana. Weeds berpindah dari jemari ke jemari. Uncle secara sengaja menjatuhkan pocongan yang sisa sepotong ke pasir. Salah seorang anak memungutnya. Uncle membiarkan anak itu menghirup asapnya yang membahagiakan. Begitulah cara uncle mendidik para anak pantai. Bukan hal yang pantas mengajari anak kecil merokok, tetapi bagi uncle, merokok bukan alat ukur hati manusia. Ia berkata, anak-anak pantai ini tidak boleh tumbuh jadi pribadi-pribadi lembek. Dalam jadwal yang tak teratur, uncle mengajari mereka berenang, snorkling, dan diving secara cuma-cuma. Aku melihat anak-anak pantai itu ibarat pengikut seorang nabi, nabi kecil yang diutus ke pulau kecil.




Uncle membagi banyak cerita pada kami. Tentang dua gadis dari Bone yang menyempatkan diri mengunjungi surga kecilnya, tentang dua gadis lain yang membawakannya ponsel smartphone berkemampuan rekam video yang cadas, tentang bule-bule yang pernah ia dampingi dan tetap menjadi temannya hingga kini. Begal bercerita bahwa istri pertama uncle adalah seorang wanita bule. Aku mencoba menghubungkannya dengan jalur hidup uncle sekarang, yang kosong tapi berisi. Akan tetapi, kisah ini mungkin bakal jadi kisah film televisi murahan.




Uncle tak suka jika anak-anak pantai, atau siapapun yang pernah berkunjung ke pantainya dan merasa sungkan untuk melakukan apapun dalam area itu. Uncle ingin setiap orang merasa memiliki Bob Beach, setiap orang memperlakukan inspirasi yang ditemukannya dengan baik. Singkat cerita, uncle ingin anak-anak pantai dapat menemukan dirinya dalam Bob Beach. Area relaksasi yang dibuatnya ini adalah cara Uncle Bob berbagi surga kecil yang dititipkan padanya.




Aku menuliskan penggalan cerita ini di bawah pohon mangga, di halaman studio Inkmotion Screenprinting, tempatku menghabiskan waktu-waktu selow sebulan ini. Semoga teman-teman Inkmotion sempat menemui uncle Bob sebelum surga kecil di pucuk pulau Lae-lae ini disentuh tim dekorasi proyek CPI.





Lost and Fun di Pantai Bara



Dua ekor anjing ras mixed what-what yang merekatkan kami, tiga petualang sejati. Tersebutlah si Dwiky (lebih sering dipanggil Opa) yang akrab dengan anjing sejak kecil. Kemudian, Nila si gadis dangdutan sejak dahulu kala ngidam memelihara anjing, dan aku si tante kegirangan yang pada dasarku suka binatang, kucing atau anjing. Jadi kami bertiga memelihara seekor Beagel mixed what-what bernama Mandang (nama yang diambil dari sebuah akun facebook terkenal) dan Betty si Norrbottenspets also mixed what-what. Nila mamaknya Mandang dan Betty, Dwiky bapaknya Mandang dan Betty, aku tante kue mereka. Ya begitulah.

Cerita ini bermula di kontrakan Nila, di area pemukiman paling padat di daerah Tamalanrea Makassar. 2013 kemarin, Awalnya aku yang nebeng tinggal di sana, kemudian Dwiky sering datang membawa Betty bermain dengan Mandang. Entahlah, mungkin urutannya kebalik. Pokoknya aku lupa-lupa ingat, karena kadang over bahagia bisa bikin hangover dan amnesia. cerita berlanjut ke 2015. Baru-baru ini, kami bertiga tersesat bahagia di Pantai Bara. Dwiky menyebutnya “Into The Wild”, Nila menyebutnya “Lost and Fun”, aku bilang sederhana saja, “Menjauh dari kerasnya hidup di Makassar”.

Sebenarnya Aku dan Nila lagi tidak pengen liburan keluar kota, karena sumpah kantong kami lebih tipis dari rambut dibelah tujuh. Dwiky juga lagi kere sih. Untung ada Bang Ego (paman Dwiky, usianya 2 tahun lebih tua dari Dwiky, 5 tahun lebih tua dari aku, dan 9 tahun lebih tua dari Nila. Itulah pokoknya. Bang Ego niat isi liburan mancing di pantai Bulukumba. Dwiky yang memilih destinasi Pantai Bara (adik Pantai Bira yang tersohor). Pantai Bara jadi special karena diperuntukkan untuk Diving dan Camping. Catat, bukan untuk mancing.

1 Agustus 2015, kami berangkat dari Perum. Tamarunang, Gowa (dari rumah Nenenk Dwiky) dengan dua sepeda motor. Dwiky boncengan dengan Bang Ego membawa satu carrier 60 kg, satu daypack dan seperangkat alat pancing. Nila dan Aku boncengan membawa satu daypack dan Betty. Oh, iya Mandang sudah wafat tahun lalu. Perjalanan santai kami menghabiskan waktu kurang lebih 6 jam dengan satu kali singgah di rest area Jeneponto.

(gambar menyusul)

Sekilas tentang Jeneponto, kampung Turatea. Area ini paling kering di antara kabupaten-kabupaten pesisir timur Sulawesi Selatan. Banyak tambak garam, kuda, pedati, dan jagung. Inilah kampung halaman gubernur Sulawesi Selatan dan menurut cerita nenekku, dulu menjadi daerah ribuan pasukan dan bangsawan. Makanya di daerah ini banyak kuda dan rumah panggung Saoraja yang bertingkap tiga.

I don’t wanna get too far. Jarak Makassar ke Bara kurang lebih 200km. Jarak ini cukup untuk membuat tulang punggung remuk. Rest area tempat kami sarapan dan menenggak gelas kopi pertama kami disebut Boyong, salah satu objek pariwisata kabupaten Jeneponto. Sebagai sentra bisnis, area ini memiliki Water Boom, wisata Tambak Garam, dan tak lupa coto Kuda yang… ah, kalian para cowok ngertilah.

Tapi kami tidak mencicipi coto kuda, lantaran Betty tampaknya tak sabar ingin berenang di laut. Perjalanan segera kami lanjutkan. Kami mengendarai sepeda motor tanpa henti dengan kecepatan santai 60 km/ jam. Kami tiba di kawasan pantai Bulukumba tidak lewat dari pukul 2 siang. Untuk mengembalikan punuk pantat, kami beristirahat sejenak di rest area Pelabuhan Bira.

di depan pelabuhan Bira

Agaknya kedatangan kami kurang tepat, sepanjang pesisir Bira sedang menderita kekurangan air tawar, lantaran musim kemarau sedang memuncak. Berkali-kali kami melihat mobil pick-up melintas, membawa satu atau dua reservoir. Aktivitas pelabuhan juga sedang sepi. Pelabuhan Bira merupakan tempat merapat kapal-kapal ke Pulau Selayar hingga ke Labuan Bajo.


Pantai-Pantai di Bira
Kalau dijejer dari jalan utama, Pantai PanrangLuhu yang pertama ditemui, kemudian pelabuhan Bira, selanjutnya Pantai Bira, kemudian Pantai Malboro, dan yang paling ujung adalah Pantai Bara.  Lainnya ada pula Pantai Appalarang yang sedang anthem itu.

Karena kami bertiga termasuk Alien local, kami tidak mencari objek wisata primadona. Kami memilih Pantai Bara yang terpencilkan di ujung tebing. Setelah menempuh jalan sempit sejauh 1 km, kami tiba di bibir pantai yang juga sempit. Tidak banyak orang (mungkin segera ramai setelah tulisan ini aku publikasikan), camp tent berjejeran, lapakan penduduk local hanya sepetak, ada satu cottage, dan beberapa bule yang sedang naik ke daratan. Tampaknya, beberapa puluh meter dari bibir pantai terdapat objek snorkeling yang menarik.

Kami bergegas mendirikan tenda di bagian paling ujung Pantai, tepat di bawah karang yang membentuk cekungan. Kami pikir, tak perlu dekat dengan toilet umum dan sumber logistic. We just wanna feel a little wilderness for some days. Inilah tenda kami.

(gambar menyusul)


Lulur Pasir Putih dan Betty yang Konyol
Bang Ego bilang pasir pantai putih berkhasiat layaknya lulur yang dijual di toko. Plus, air laut dapat segera menyembuhkan luka termasuk jerawat tentunya. Sehabis berkata seperti itu, Bang Ego dan Dwiky berlari nyemplung ke laut, aku buru-buru ganti pakaian buat basah-basahan. Meninggalkan Nila yang sibuk mengajak Betty keliling pantai.

Bang Ego pun sibuk menggosok punggung Dwiky yang penuh rajahan. Sementara si Dwiky keenakan dilayani paman sendiri. Aku mencari pasir terlembut di dasar pantai dan membalurkannya ke seluruh tubuh dan wajahku. Sembari menunggu khasiatnya meresap, kuapungkan tubuh di air. The feeling was amazing.

Setelah membersihkan tubuhnya, Dwiky mencari Betty. “Betty berenang…. Betty berenang!” si Dwiky bersenandung sambil menggendong anaknya memasuki air. Aku bergegas membersihkan tubuh pula dan mengambil DSLR di tenda. Nila? Well, we had no idea where she was.

Satu, dua, tiga, Dwiky melepas Betty di ujung pecahan ombak dan ternyata anjing mixed what-what itu takut air laut!

(gambar menyusul juga, yaah)


Senja Hilang dan Purnama Rekah
Sehabis luluran, berenang, memandikan Betty, membangun tenda, kami menenggak kopi senja di sisi tenda, di dekat hammock yang terpancang di antara karang. Sayangnya, matahari senja bersembunyi di balik karang, di belakang punggung kami. Sementara di bentang air di hadapan kami hanya ada ombak bergulung-gulung, cahaya yang memudar, dan angin kemarau dari laut.

“Senja berada di Losari, aku lupa” Kataku. Walau sedikit kecewa karena kebodohan sendiri, kami tetap bahagia karena kopi panas benar menghangatkan kami. Betty pun tampak senang di sisi tebing. Nila? Dia sibuk selfie. Maklum, baru kenal Iphone.

selfie terbaik dari 1000 selfie Nila

Kemudian hari berlalu dengan demikian cepat, diganti malam yang hadir perlahan. Kami (kecuali Nila) mengganti pakaian dengan yang kering. Bang Ego memanjat ke hutan di atas tebing, mencari kayu bakar. Aku membereskan lemari alam kami. Dwiky mempersiapkan makan malam. Maklum, sedari berangkat tadi, kami belum juga makan. Nila? Adik kesayangan kami itu sibuk berayun di atas hammock, menikmati angin malam dan kesepian jiwanya. Aku berharap, saat kutuliskan cerita ini, dia pun sedang merancang outline versinya sendiri.

Seolah Tuhan ingin membayar kekecewaan kami, Dia menerbitkan purnama yang dekat, kuning, dan bulat sempurna. Kami bersorak. Semakin semangat Bang Ego hendak memancing. “Tunggu airnya pasang lebih tinggi, kita pesta ikan bakar malam ini!” serunya.


Tragedi Daypack Pinjaman
Inilah fragmen paling menyedihkan dalam tulisan ini. Well, aku membukanya dengan sedikit aib. Karena buru-buru ingin lost n fun, aku lupa membawa rangkapan pakaian dalam. Jadinya, terpaksa, aku harus menitip belanjaan pakaian dalam kepada seorang teman (?) yang kebetulan akan reunian di Bara juga malam itu. Dengan sisa baterai ponsel pinjaman dari Nila, aku menghubunginya. Jeleknya, jaringan benar-benar menjengkelkan. Ponselku segera mati total, begitu aku tertidur menunggu balasan bbm.

Di saat yang bersamaan, Nila entah berada di mana bersama Betty. Sementara Bang Ego dan Dwiky memancing 20 meter dari tenda. Aku terbangun saat Dwiky berseru, “Kapan lagi kau nikmati makanan seharga 100ribu di restoran, Nila? Makan ki .. enak ini bulu babi,” ternyata, mereka tidak berhasil mendapatkan seekor ikan pun. Mungkin karena guguran rumput laut yang esok harinya menutupi pasir pantai. Tidak ingin rugi, akhirnya mereka memungut bulu babi. Sore tadi, kawanan bulu babi itu memakan dua korban. Tenda kami jadi Tim Bantuan Medis pantai Bara. Nila, Dwiky, dan Bang Ego membantu mengeluarkan duri si bulu babi. Ada tips menarik, kalau ingin lekas sembuh dari penderitaan tusukan bulu babi, kencingi area yang tertusuk! Kata Bang Ego, luka tusukan segera membaik sehabis dikencingi.

Aku terbangun dengan, iya, perasaan tidak enak di bagian bawah perut karena dalaman yang basah. Ponsel yang mati total perlu segera dinyalakan, supaya dapat kabar dari si temanku itu. Akhirnya aku mengajak Nila ke warung di dekat pintu masuk pantai, mencari colokan untuk charging. Agak mahal sih, Rp 10.000 hingga baterai ponsel penuh. Sembari menunggu charging-an, barangkali ada satu jam lebih. Aku juga agak memaksakan charging ini, karena kerjaanku jadi melambat gara-gara ponsel dan jaringan yang bermasalah. Cottage di atas tebing pun sudah sepi, jika saja aku bisa meminjam wifi di sana dan menyelesaikan laporan kerjaku, jika saja. Padahal baru pukul 10 malam.

Aku dan Nila kembali ke tenda 1 jam kemudian. Dwiky dan Bang Ego ternyata belum menyerah, mereka kembali memancing. Kerjaan dan pakaian dalam pun beres. Aku menyalakan kembali api unggun di depan tenda, udara malam saat itu sungguh menggigilkan. Bang Ego dan Dwiky kembali ke tenda dengan ember kosong. Sejenak kami duduk melingkar di depan api, tidak membicarakan apa-apa. Tidak memikirkan sesuatu pun.

Ketika Bang Ego beranjak mencari tisu basah (mungkin doi sedang kebelet pengen bab), Bang Ego kaget tisu basah tidak berada di tempatnya, di celah tebing. Kami mencari benda itu bersama-sama dengan bantuan headlamp dan flashlight ponsel masing-masing.

“Lho, ke mana semua tas kita?” seruku. Daypack aku dan Nila, daypak Bang Ego dan Dwiky tidak berada di antara bebatuan. Kami mencari ke sana kemari, dan tidak ada. Rampok pasti. Kami segera berpencar. Nila dan Betty menjaga tenda, Dwiky menelusuri hingga ke ujung selatan pantai, sementara aku dan Bang Ego mencari ke hutan di atas tebing. Kami mengintari semua jalan setapak dan halaman cottage, camp area, hingga ke spot buat barbeque-an di bagian utara. Tidak ada jejak yang ditinggalkan tas itu. Aku dan Bang Ego kembali ke tenda dengan sekantung sabut kelapa, seikat kayu bakar, dan beberapa kantung kresek yang bertebaran di sana.

“Lumayan, setidaknya lelah kita bisa terobati dengan kehangatan,”

Nila dan Dwiky tertidur di dalam tenda, barangkali dengan perasaan campur aduk. Betty terikat di antara tebing, ia pun tertidur dengan perasaan yang tak dapat kami baca. Sementara aku dan Bang Ego menjaga api tetap menyala, hingga kantuk memanggilku. Kedua daypack tersebut entah berada di mana. Ikhlas itu sulit.


Makan Siang dengan Tai
Hari kedua di Pantai Bara, kami mulai pada pukul 9.30 pagi. Tragedi semalam memaksa kami tidur lebih lama dari rencana. Belumlah sempat cuci muka dan sikat gigi, Bang Ego dan Dwiky telah melempar kail ke tengah laut, dengan harapan dapat membakar satu-dua ekor ikan untuk makan siang. Aku mengenakan kaos pantai kesukaanku dan bergegas menyusur pantai, mencari pesanan Claren (si monyet Toraja), yaitu beberapa ekor Kalomang. Lupakan Daypack dan segala isinya yang hilang. Toh, pakaian dapat kami adakan kembali di Makassar nanti.

Memulung Kalomang

Para lelaki telah mengemas 50% peralatan camping, hingga tersisa tenda dan peralatan masak. Dwiky memindahkan hammock ke tebing di sisi kiri camp, tepat di bawah cerukan yang lebih menjorok ke pantai. Rupanya, jika siang hari, area camp kami disinari matahari terik. Bang Ego berhasil mendapatkan seekor ikan. Dwiky meminta Nila memasak Nasi sementara ia sendiri membakar ikan tersebut dengan bara api sisa semalam. Aku sibuk mengemas beberapa ekor Kalomang ke dalam botol plastic bekas air mineral.


Don’t Leave a Mess on the Beach
Dari Makassar, Dwiky membawa kantong kresek hitam buat ngepak mayat korban mutilasi. Aku menggunakannya untuk mengumpulkan semua sampah pelastik di sekitaran camp area kami. Sementara itu, Bang Ego membakar hasil pulunganku di antara tebing. Masakan siap, camp sudah bersih, saatnya makan siang.


dwiky sebagai anjing beagel jadi-jadian, sedang berlagak kecakepan di atas hammock, sehabis makan siang

“Nil, mau lihat selfi-selfie ku tadi?” Nila berseru pengen. Dwiky memperlihatkan gallery Nikon milik Nila. Benar-benar selfie seonggok tinja yang cokelat eksotis. Dwiky tertawa pecah. Kami tertawa pecah. Sepasang mata Nila berkaca-kaca. “Kerjai terusma, orang tua…. Aaa… aaa….”


(gambar nyusul, nyeet) 


Kembali Makassar
Bang Ego seorang pegawai bank, Dwiky seorang Koki harus segera kembali ke Makassar mengurus volks wagen yang disulapnya menjadi Food Wagen. Aku kini, seorang promotional assistant dibebani tugas segera kembali ke kota besar demi jaringan internet cepat. Dan Nila, kemarin dia melamar kerja part-time sebagai ranger di salah satu coffee shop and senin besok adalah hari pertamanya masuk kerja. Rasanya ingin menghabiskan satu malam lagi di Bara, namun kami harus kembali menyesakkan diri di Makassar.

Kami meninggalkan Bara sekisar pukul 2 siang. Betty sepertinya senang dapat menjauh dari debur-debur ombak dengan segera. Dia tak suka dikagetkan deburan ombak. Kami menyusuri jalur yang sama menuju Makassar: Bulumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar. Dengan jarak 200 km yang sama.

Di perbatasan Bantaeng-Jeneponto, kami singgah sejenak mencicipi kopi hitam local dan tentu saja, menemukan jaringan internet. Dwiky kembali menunjukkan foto tinja eksotisnya kepada Nila, sembari aku dan Bang Ego merencanakan trip bulan depan. Aku mengajaknya mengujungi kampung nenek moyangku di lembah Lompobattang, sebuah desa bernama Parangkeke. Lembah yang sangat subur, sejuk, dan kaya akan hasil bumi. Aku berencana membawa pulang beberapa kentang besar dan tembakau Malakaji, nantinya. Bang Ego tampak antusias.

Masih ingat temanku yang kutitipi dalaman? Ternyata temannya menemukan salah satu tas kami di dalam hutan. Kami bersyukur sebab tas itu ternyata tas pinjaman. Bahkan dua hari setelahnya aku baru tahu kalau Dwiky menculik tas itu saat pemiliknya sedang tidak di rumah. Beberapa hari berikutnya, Dwiky bercerita kalau dia menyimpan ratusan ribu uang di dalamnya. Uang itu untuk membayar utang kepada seseorang. Tragedy!

daypack yang diculik itu


Dua Pengalaman Mistis
Saat aku dan Nila menunggu charging-an di warung, ia mendengar kikikan perempuan dari dalam hutan dan melihat sekelebat bayangan melintas di belakangku. Dia baru menceritakannya padaku setelah aku menceritakan pengalaman mistisku bersama Bang Ego malam itu:

Sehabis menyusuri hutan, aku dan Bang Ego tidak sengaja memasuki area sebuah villa yang sudah reot. Kami disambut semerbak wangi melati. Wangi tersebut hanya dapat dihasilkan dari satu kebun bunga melati, tidak dari sebatang tanaman melati. Kami mendekati villa yang berbentuk rumah panggung tersebut,  berharap menemukan salah satu dari daypack kami di kolong rumah. Belumlah sempat berdiri di ambang villa, wangi melati semakin menyengat. Bang Ego mengarahkan senter ke sekitaran villa dan berkata “Tidak lihat ka satu pun tanaman melati,” kami melangkah mundur, menjauh dari tempat tersebut dengan langkah cepat.

Villa ini bersisian dengan cottage ter-mewah di Pantai Bara, saat siang hari tampak hanya seperti bangunan rusak pada umumnya dan banyak turis yang memarkir mobil di halamannya. Sepertinya kikikan perempuan yang Nila dengar berasal dari tempat itu.

(cerita ini akan kulanjutkan setelah ingatan detailku kembali dan foto-foto kami sudah pindah ke dalam laptopku. berikut beberapa yang sempat terkirim via line)

AlieNilEkiOki


ditulis oleh Rezkiyah Saleh Tjako