Kucing Paling Beruntung di Dunia

“Aku pulang!” sahut Felisha sambil membuka pintu. Piki bergegas bangun untuk menyambut majikannya. Ia menggosokkan badannya ke kaki Felisha dengan manja. Tetapi Felisha tidak langsung menggendong Piki seperti biasa. Gadis kecil malah asyik mengelus-elus anak kucing berwarna hitam di pelukannya.
Dengan kesal, Piki menonton manjikannya memandikan anak kucing itu. Sehabis mandi, Felisha mengeringkan tubuh si kucing mungil dengan handuk milik Piki. Tadi Felisha tak acuh padanya, kini ia harus rela barang miliknya dipakai kucing lain. Piki mencakar-cakar balok dengan gemas.
“Piki yang baik, Olong minta susu kamu ya..” ujar Felisha sambil mengelus kepala Piki. Kucing Persia berbulu abu-abu itu tidak mengeong, ia justru menjauh dan bersembunyi di bawah meja belajar. “Mulai hari ini, Piki dan Olong jadi adik-kakak ya,” lanjut Felisha Piki mengibas-ngibaskan ekor tanda tak setuju.
Hari silih berganti. Bantal tidur kini milik Olong dan Piki tidur di atas keset. Kalau Felisha sedang belajar, Olong di pangkuannya. Piki merasa sangat sedih. Ia merasa kehilangan kasih sayang Felisha.
Diam-diam Piki kabur dari rumah lewat jendela kamar. Ia ingin mencari majikan baru. Di suatu tempat pasti ada manusia semanis Felisha yang juga sayang kepada kucing. Demikian Piki berusaha menghibur diri.
Kucing gendut itu menyusuri jalan-jalan setapak dengan hati yang sangat sedih. Ia tidak sekali pun menoleh ke belakang. Ia terus berjalan hingga tiba di sebuah taman. Piki tidur di bawah perosotan sambil mengingat-ingat kenangan bersama Felisha.
Saat tengah malam, Piki mendengar tangisan bayi. “Ah, pasti hanya mimpi,” batin Piki. Ia tidur kembali. Namun suara itu muncul lagi. Kini semakin jelas terdengar. Piki beranjak mencari sumber suara.
Ia menemukan seekor anak kucing bersembunyi di balik semak. “Berisik sekali kamu. Aku sedang tidur,” kata Piki sembari beranjak pergi. “Paman, aku takut..” anak kucing itu terisak. “Memangnya di mana ibumu, di mana saudara-saudaramu?” tanya Piki padanya. Anak kucing itu pun bercerita bahwa ia ketiga saudaranya dibuang di taman ini. Dua saudaranya dipungut manusia. Dan saudarinya tertabrak sepeda motor. Tinggal dia sendiri, ketakutan, menunggu ibunya datang.
Mendengar cerita itu, Piki merasa tidak tega padanya. Sejak Felisha membelinya di toko hewan peliharaan, hidupnya selalu bahagia. Ia makan berkecukupan. Banyak susu untuk di minum. Bantal tidur yang empuk. Berlimpah elusan, pelukan, dan ciuman dari Felisha. “Malang sekali nasibmu,” kata Piki sembari membersihkan wajah anak kucing itu dengan lidahnya. “Ikutlah denganku, ke rumahku,”  
Piki menuntun anak kucing itu pulang ke rumah Felisha. Sepanjang perjalanan, keduanya tampak bahagia. Piki menceritakan betapa manis dan baik hati Felisha itu. “Seperti kita, Felisha juga tidak punya Ibu. Tetapi dia punya ayah yang penyayang. Felisha dan ayahnya sangat menyayangiku. Mereka tidak pernah kasar padaku,” Piki bercerita panjang lebar. Ia berharap rasa takut kucing kecil itu perlahan menghilang.
Menjelang fajar, keduanya tiba di rumah. Tampak Felisha sedang menggendong Olong di ambang pintu. Air mata tak henti mengalir dari sepasang mata Felisha. Di pelukan Felisha, Olong pun tampak sedih. Sementara ayah Felisha berkeliling rumah, menyahut-nyahutkan nama Piki.

Melihat Piki muncul dari pagar, Felisha berhambur memeluk dan menciumnya. Kucing berbulu kapas itu merasa sangat bersalah telah membuat Felisha bersedih. Dalam pelukan, ia berjanji tidak akan meninggalkan Felisha lagi. “Maafkan aku, Piki. Aku sayang kamu, aku sayang Olong. Aku sayang kalian berdua,” isak Felisha sembari mempererat pelukannya.
‘Meong’ Felisha mendengar suara seekor anak kucing. Suara itu dari semak di balik pagar. “Oh, kamu pulang membawa hadiah untukku?” Felisha menatap Piki dengan mata berbinar-binar. Piki meloncat dari pelukan menuju semak. Ia membujuk anak kucing itu keluar. “Tidak usah takut, dia Felisha-ku,” kata Piki.
Dengan perasaan malu dan takut, anak kucing itu perlahan menampakkan diri. Felisha bahagia melihatnya. “Ayah, lihatlah, betapa cantik anak kucing ini!” tanpa ragu Felisha meraih anak kucing belang tiga itu ke pelukannya. “Sansa!” kata Felisha. “Oh, sungguh nama yang indah,” batin Piki bahagia.
Pagi itu, Piki, Olong, dan Sansa menikmati mandi air hangat bersama. Mereka juga makan dengan satu mangkuk yang sama. Di malam hari, Piki dan kedua adik barunya berbagi pelukan hangat yang sama. Pelukan dari majikan mereka yang baik hati.

Akhirnya Piki sadar bahwa memiliki banyak makanan, susu, dan pelukan Felisha adalah anugerah yang luar biasa. Tetapi yang lebih baik dari itu adalah membaginya bersama Olong dan Sansa. Ia merasa menjadi kucing yang paling beruntung di dunia ini.

Terima Kasih, Mama Kucing

“Wah… bekal kamu cantik sekali. Kalau cantik begitu, pasti rasanya enak,” kata Nayla, teman sebangku Rika.
“Tentu saja. Ini buatan ibuku. Rasanya eeenaaaaak banget,” timpal Rika lalu memasukkan sepotong tempe goreng ke dalam mulutnya, padahal ia belum selesai mengunyah makanan sebelumnya.
“Bagi dooong… pliis,” kata Nayla. Gadis berkuncir itu menatap Rika penuh harap. Tetapi Rika malah menutup kotak makannya dan pergi.
Rika anak perempuan dengan tubuh yang sangat gendut. Tubuhnya membesar setiap hari karena dia suka sekali makan. Rika jarang membagi makanannya. Karena itu, anak-anak lain tidak senang berteman dengannya. Pada suatu hari, saat istirahat siang, Rika mengajak Nayla dan anak-anak lain untuk makan bersama di taman sekolah. Namun mereka menolak ajakan Rika. Ia pun menikmati sandwich sendirian di bawah pohon.
Saat sedang asyik mengunyah, seekor kucing menghampiri Rika. Kucing itu sangat kurus, tidak seperti tubuhnya yang besar. Kelihatannya, si kucing meminta makanan. Dasar Rika pelit, Ia malah menghabiskan roti itu sendirian. Si kucing tampak kecewa, namun ia masih berada di sisi Rika.
“Pergi, sana! Makananku sudah habis,” kata Rika kepada si kucing. Kucing itu tetap di sana. Ia merapikan duduknya. Seolah-olah si kucing ingin berkata, “Walau begitu, biarkan aku menemanimu di sini. Sepertinya kamu anak kecil yang kesepian.” Rika dan kucing itu pun menghabiskan waktu istirahat siang di bangku taman.
Esok harinya, Rika melakukan hal yang sama. Ia mengajak teman-teman sekelasnya untuk makan siang bersama di taman. Namun mereka menolak ajakan Rika lagi. Rika bertanya-tanya, mengapa teman-temannya tidak mau makan bersamanya. Akhirnya, Rika makan seorang diri lagi di taman.
“Meong….” Seekor kucing bertubuh sangat kurus menghampirinya.“Kamu lagi. Tidak ada makanan untukmu,” kata Rika pada kucing itu. “Meong... meong … meong…” suara bayi kucing ramai bersahutan. Rupanya kucing kurus itu adalah seekor induk. Hari ini ia membawa ketiga anaknya ikut serta.
Rika memperhatikan sepasang tangannya yang besar dan tebal. Lalu ia melihat betapa kecil kepala si induk kucing dibanding kepalan tangannya. Apalagi tubuh ketiga anak kucing itu, jauh lebih kecil.
“Ini… buat kalian. Aku sedang tidak ingin makan,” ujar Rika. Ia menyodorkan kotak makanannya kepada keluarga kucing. Dari kejauhan, tampak teman-teman sekelasnya menggelar tikar di bawah pohon. Kemudian mereka makan siang bersama. Rika menghampiri mereka. Tetapi, tidak satu pun yang mempedulikannya. Ia Rika pun kembali ke bangku taman. Siang itu, Rika tidak makan sama sekali. Ia hanya menonton keluarga kucing menghabiskan bekal makan siang miliknya.
Keesokan harinya lagi, Rika tidak lagi mengajak teman-teman sekelasnya makan siang bersama. Ia takut mereka menolak ajakannya lagi. Setelah bel istirahat berdentang, Rika membawa kotak bekalnya menuju taman. Di sana, keluarga kucing sudah menunggu. Rika membagi makan siangnya sama banyak. Setengah untuk dirinya, setengah untuk keluarga kucing. Mereka pun makan siang bersama.
Begitulah yang dilakukan Rika setiap hari. Ia berbagi makan siang bersama keluarga kucing. Hingga suatu waktu, Rika membanding-bandingkan tangannya dengan kepala si induk kucing. “Kamu semakin gendut, yah. Sekarang kepalamu sama besar dengan kepalan tanganku,” ujar Rika pelan, sambil menonton teman-temannya dari kejauhan.
“Wah… anak kucing yang imut!” seru Nayla dari jauh. Nayla menunjuk anak kucing di dekat Rika. “Yuk, kita ke sana!” seru salah seorang anak. Mereka pun beranjak menghampiri bangku tempat Rika duduk. Tiba-tiba Rika merasa kikuk.
“Anak-anak kucing ini lucu sekali. Mereka bersih dan sehat. Apa mereka kucing-kucingmu?” tanya Nayla kepadanya. “Oh.. ehmm.. bukan. Mereka teman-temanku. Yang ini induknya,” kata Rika sambil mengelus-elus tengkuk si induk kucing.
“Lucunya….,” ujar Nayla sembari meletakkan si induk kucing di pangkuannya. Anak-anak yang lain tak mau kalah. Mereka juga mengambil salah satu anak kucing untuk dielus. Sekeliling Rika mendadak ramai oleh teman-temannya. Rika tidak lagi melihat mereka dari kejauhan. Kini mereka berada di sisinya. Rika merasa bahagia.


Bel pertanda istirahat siang selesai berdentang. Nayla dan anak-anak lainnya berhamburan kembali ke kelas. Mereka berpamitan pada keluarga kucing dan berjanji akan kembali lagi setelah pulang sekolah. Tetapi Rika tidak segera kembali ke kelas. Gadis kecil itu sedang mengelus-elus tengkuk si induk kucing sembari berbisik, “Terima kasih, ya mama kucing.”

definisi kenangan

Aku ingin mempelajari cara mewarnai ingatan yang memudar. Aku terlalu sering berdoa agar melupakan hal-hal buruk yang telah terjadi padaku dengan pengabaian-pengabaian. Melupakan menjadi kemampuan terbaikku belakangan ini. Padahal, selalu kuingatkan orang lain bahwa melupakan adalah berbuat dosa. Kita harus mengikhlaskan sesuatu. Karena ikhlas tidak memudarkan ingatan, namun melipatnya dengan rapih di bagian terputih dari ingatan. Ikhlas mengubah ingatan menjadi kenangan. Kenangan tidak dapat dilupakan.


Kenangan adalah rekaman kejadian, rasa, mula dan akhir yang tak lagi dihinggapi


dendam.

Sampai Jumpa di Surga, Alliesa

semasa kuliah, aku nomaden. dari satu kos ke kos lainnya. atau dari satu rumah orang baik ke rumah orang baik lainnya. setelah beberapa bulan merasa tidak nyaman tanpa kucing, suatu malam aku bertemu anak manis itu.

motorku nyaris menginjak lehernya. seekor kucing bersembunyi di bawah roda sepeda motorku sedari tadi. warna mantelnya cokelat gelap, nyaris menyatu dengan warna malam. saat aku berusaha memindahkannya ke tempat terbuka, ia memberikanku tatapan itu. tapapan yang sekelam semesta, yang memiliki ratusan bintang pijar. kurangkul tubuhnya yang besar dan hangat.

tanpa berpikir panjang, kucing besar itu kubawa ke kosan. dia begitu pandai dan penurut. malam pertamanya di kamar membuatku terkesan. ia membuang air seninya tepat di lubang kloset. betapa seekor kucing yang pandai. "Tinggallah bersamaku sesukamu, kucing manis. bolehkah kupanggil kau Allie?" kataku padanya. kucing manis itu mengedipkan matanya. kami memulai musim hujan tahun 2012 dengan kehangatan.

saat itu, isi kantongku terus menipis karena besar pasak daripada tiang. penghasilanku banyak kuhabiskan untuk membiayai karya ini-itu, aku tak peduli apakah akan ada laba dari modal yang telah kukeluarkan. namun aku selalu percaya, seekor kucing memiliki rejekinya sendiri. Allie dapat jatah makan tiga ekor ikan goreng dalam sehari. menu makanan Allie meningkat seiring bertambahnya hari. aku dapat membelikannya sebungkus catfood kelas B 2 kali seminggu. dan tak perlu pengeluaran untuk catsand, ia pandai membuang pee atau poo nya ke dalam lubang kloset.

catfood itu membuatnya melebar dan melebar. menggendongnya bukan lagi pekerjaan yang mudah. Allie si gendut. obesitas, kata dokter yang pernah memberinya vaksin. dokter hewan itu menyarankan diet ketat pada Allie, tetapi aku selalu tak tega melihat tatapan semestanya saat meminta makan. Allie makan lebih dari 6 kali sehari dengan snack yang membumbung tinggi di atas mangkuknya. 

Allie yang sebesar karung
kalau Allie lapar tengah malam dan aku sedang pulas, ia melakukan segala cara untuk membangunkanku. ia menarik-narik rambutku sampai aku terbangun kesakitan. paling parah, ia menggigit ketiakku yang sering terbuka saat sedang tidur. sumpah, itu sakit sekali. melihat ekspresi kesakitanku, bukannya merasa bersalah, Allie malah senang dan langsung berlari dengan pantat megal megol ke mangkuknya, matanya tertuju pada bungkusan eureka di atas lemari.

sejak saat itu, tak pernah kubiarkan mangkuknya kosong. makanan harus terus membumbung untuknya. mangkuknya yang berwarna biru pun kubaluri kapur ajaib agar tidak didatangi semut. Allie pernah tak sengaja makan makanan bersemut dan bibirnya luka-luka. ekspresinya seperti menangis kesakitan, aku memeluk tubuh bundarnya penuh kasih.

Allie kucing sosialis. ia pandai bergaul. saat itu kami tinggal di pondokan rumah panggung. Allie menghabiskan siangnya mengunjungi kamar-kamar tetangga kosan, sekedar memperlihatkan tubuhnya yang gendut atau ikutan memakan cemilan mereka. seisi kos sudah mengenal dan menyayanginya. kalau kekenyangan, Allie nongkrong di teras pondokan, tepat di depan kamar dan mengawasi halaman pondokan seperti penjaga menara. 

mungkin Allie sudah menjadi betina alfa di sekitaran pondokan dan dia berniat memperluas wilayah pergaulan lebih jauh. beberapa kali Allie seperti hilang ditelan bumi. tidak ada di kamarku atau di kamar tetangga. apalagi di balkon. ia membuatku kuatir tak terkira. aku seperti kesurupan mencarinya. orang-orang menertawaiku karena begitu ngotot mencari seekor kucing domestik. saat itu, langit sudah gelap. dunia batas perlahan muncul dan Allie belum pulang. sebentar lagi jam makannya tiba, ia belum pulang. aku termenung di ambang pagar pondokan, memikirkan cara menemukan anak manis itu. tiba-tiba, Allie berlenggak lenggok keluar lorong sempit dengan tatapan semesta padaku. seolah merasa bersalah, ia tidak menyundulkan kepala pada betisku seperti biasa, terburu-buru ia menaiki tangga dan bersembunyi di bawah meja kerjaku.

kucecar dia dengan omelan bertubi-tubi. Allie semakin merapatkan tubuhnya ke tembok. ia takut menatapku. tatapan semestanya tak ampuh bagiku saat itu. tak pernah kulihat ia setakut itu padaku. Allie terus bersembunyi di sana, melewatkan jam makan malam dan jam makan tengah malamnya. aku juga membawa kekesalanku hingga tertidur. aku dan Allie diam-diaman sampai kudengar dengkurannya seperti gemuruh karena menahan lapar. kesalku belum reda, tetapi tetap kusodorkan semangkuk eureka. Allie makan tergesa-gesa. wajahnya terus menunduk. betapa ia merasa bersalah. "Jangan begitu lagi!" kataku padanya. sejak saat itu, Allie selalu bergaul tak jauh dari pondokan. setiap kusadari ia hilang dari pandanganku, aku menyahutkan namanya dan Allie akan muncul entah dari mana, berlari tergopoh-gopoh, berusaha secepat mungkin berada di hadapanku dengan bobot tubuh seberat itu.

Allie tumbuh semakin besar dan besar. sampai-sampai lebar tubuhnya selebar badanku. bentuknya aneh tetapi menggemaskan, bulat dari leher ke bawah sementara kepala dan telinganya tetap kecil. seperti karung beras ditancapi kepala-kepalaan. kalau dia tidur di dekat pintu, tak sengaja kutendang kepalanya. karena ia tampak seperti buntelan besar kecokelatan dari belakang. tubuh yang besar itu menyembunyikan kepala kucingnya.

corak mantel Allie agak unik. loreng kecokelatan pada wajah, punggung, dan ekor. perutnya penuh totol. Allie juga agak galak untuk jenis kucing domestik. kucing domestik lain yang pernah kupelihara, saat marah cenderung mengeong keras. Allie justru menggeram dalam dan menatap tajam. sifat agak liar ini, didukung dengan ukuran tulangnya yang lebih besar dari kucing domestik , dan corak mantel yang tak biasa, memberiku kesimpulan: ada gen kucing hutan semacam Blacan dalam tubuhnya. penemuan ini membuat Allie semakin berharga buatku.

aku senang membawanya jalan-jalan. Allie tak pernah menyusahkanku selama di luar rumah. saat aku bekerja, ia berbaring di sisi kakiku dengan posisi meringkuk. kadang ia memaksa membalik tubuhnya, memperlihatkan perut lebarnya sebagai tanda mengajak bermain. saat ingin buang air, ia mengeong di depan kamar mandi, agar aku membuka pintu kamar mandi. aku menunggunya selesai berurusan dengan lubang kloset lalu menyiramnya. kemudian Allie akan kembali berbaring manja di ujung kakiku. 

suatu hari, mamaku penasaran pada Allie. kubawa ia ke rumah mama. mama histeris melihat ukurannya. sampai-sampai mama bersembunyi di balik lemari karena ketakutan. "Itu bukan kucing, itu monster!". Aku menenangkan mama, pelan-pelan kuarahkan tangan mama mengelus kepala Allie. kucing itu perlahan memperlihatkan tatapan semestanya kepada mamaku. alhasil, beliau luluh. kutinggalkan Allie di rumah mama, hingga setahun kemudian.

itu karena keuanganku merosot drastis. aku tak lagi sanggup membelikannya 2 bungkus eureka setiap bulan. pikirku, rawfood nasi-ikan akan selalu ada di rumah mama. mama juga senang bersama Allie. kucing manis itu selalu menemaninya tidur. kata mama, tidur sama Allie enak. tubuhnya besar, seperti boneka. saat keuanganku sudah membaik, aku ingin merawat Allie kembali dan mama tidak rela. sebagai anak yang mencoba berbakti, sudahlah, kubiarkan Allie bersamanya. hitung-hitung sebagai pengganti anaknya yang jarang pulang ke rumah ini. Allie digantikan dua ekor kucing persian medium bernama Piki dan Wichi. bersama kucing manapun selalu membahagiakan.

sebulan terakhir ini, aku kembali tinggal di rumah mama. Piki & Wichi dicuri orang. aku membawa pulang seekor kucing domestic tabby lainnya bernama Pikkolo. Pikkolo dan Allie saling menyayangi. corak mantel mereka juga mirip, tampak seperti ibu dan anak. senang rasanya, dua kucing kesayangan tidak bermusuhan.

suatu malam, aku pulang kantor dan menemukan muntahan berwarna hitam. sebegitu lelahku, aku tak sanggup mencari tahu siapa pemilik muntahan itu. aku langsung tersungkur di kasur, tertidur bersama Pikkolo. tak kusadari kalau Allie ternyata tidak berada di sekitar. esoknya, mama menemukan Allie terbujur kaku di rooftop. 

mengubur Allie semacam aktifitas yang menguras emosi. aku ingin ia dikuburkan dengan layak ditempat yang baik. di tanah yang pasti selama 3 bulan tidak akan digali demi pembangunan dan semacamnya. aku ingin tubuhnya benar-benar habis terurai sebelum tanah tempatnya dikubur tersentuh manusia. tempat itu adalah sepetak tanah kosong di dalam lorong yang dijadikan tempat sampah oleh warga sekitar. di bawah hujan deras, aku menggali lubang yang cukup memuat tubuhnya yang besar. tetiba seorang warga mengusirku dari tempat itu dengan alasan aku hendak mengubur kesialan di sekitar rumahnya. dengan kesal aku mengangkat mayat kucing manisku ke dalam pelukanku. kubungkus kembali tubuhnya dengan kain putih dan kubawa mayat itu dengan sepeda motor.

aku menguburnya tepat di bawah pohon, di halaman warung kopi tempatku menuliskan kisah ini. pemilik warkop tidak melihatku melakukannya. aku ingin ada satu tempat yang dapat kukunjungi diam-diam, sekedar untuk merasakan kenanganku bersama Allie selama hampir 4 tahun. aku bersyukur pernah dipercaya Tuhan hidup bersama salah satu makhluknya yang hebat. kelak, kalau aku masuk surga, kupastikan berdoa pada Tuhan agar Allie dihidupkan kembali. akan kudoakan pula semoga ada catfood jenis eureka di surga. karena beberapa hari sebelum Allie pergi, aku sempat berkata padanya;

"Allie... doakan mama.. supaya banyak rejeki, supaya bisa belikan kamu sebungkus eureka kesukaanmu itu,..."

ibu adalah kebenaran paling nyata

dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember saya tidak suka ada dua puluh dua desember untuk mengingat ibu yang satu-satunya sepanjang masa


karena manusia mengandalkan panca indera untuk membenarkan apapun, yang satu dan satu-satunya paling materialistik hanyalah ibu. tak mungkin ada seorang manusia yang lahir dari dua rahim. aku dapat melihat ibu memberiku kasih sayang tanpa pamrih. aku mendengar cara ibu menyayangiku dengan kata-katanya. aku dapat menyentuh kulitnya yang berkerut seiring bertambah usianya. aku dapat mencecap setiap masakan dan minuman yang dibuatnya gratis untukku. dan aku dapat meneri maaroma apapun yang tercium dari tangannya saat sungkem. maka ibu adalah kebenaran. 

untuk kebenaran yang senyata ibu, perlakuan spesial baginya tak cukup dilakukan pada satu hari tertentu. dua puluh dua desember hanyalah tanggal, satu hari dari 365 hari dalam setahun. aku lebih senang berasumsi bahwa dari 365 hari itu, hanya pada dua puluh dua desember aku sengaja lupa untuk memberinya ucapan selamat hari ibu. karena dalam hidupku, selalu ada satu hal yang mainstream. misalnya tidak mencintai ibu pada tanggal dua puluh dua desember. 

ibuku bukan ibu orang lain. ibuku satu-satunya dan kuingat beliau setiap detik. ibuku mainstream bagiku. ibuku mewariskan semua ciri fisik dirinya kepadaku, itulah mengapa dia begitu mainstream. ibu mengajarku mencintai kucing dan tumbuhan. cara hidupnya ada dalam diriku, makanya dia mainstream bagiku. ibuku sama dengan diriku. mengapa perlu hari khusus untuk mengingat mengingat kebenaran yang nyata?


Alfa adalah Api

Manusia memang makhluk yang sempurna. Dikatakan dalam kitab-kitab Samawi – saya tidak menyebutkannya karena alasan keliman -, bahwa Tuhan menciptakan satu sifat dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluknya yang lain: kebebasan. Pembuktian ilmiah, secara psikologis, manusia memang memiliki kehendak. Selalu ada kehendak bebas dalam diri manusia untuk memilih. Pilihan paling pertama adalah hidup atau mati. Yang memilih hidup tentulah sekarang sedang bekerja dan mempertahankan asupan gizi bagi dirinya sendiri, yang memilih mati, entah dia yang bunuh diri atau dia yang menyengsarakan diri sebelum mati.


Para manusia yang berkehendak untuk mempertahankan diri kemudian dihadapkan pada pilihan-pilihan turunan, yang lebih kompleks. Dalam proses  pembentukan karakter pribadi, seseorang selalu memiliki pilihan. Pakaian sederhana atau pakaian mewah. Makanan mahal atau makanan yang murah. Bersekolah atau tidak. Memimpin atau dipimpin. Yin atau yang.

Secara pribadi, manusia memiliki kehendak untuk menjadi si protagonis atau si antagonis. Mudah saja. Pilihan terus dibuat lurus dengan cara lebih sering mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak. Orang-orang tipe ini adalah mereka yang tampak seperti pecundang. Berkali-kali disebut bodoh karena memikirkan orang lain cenderung berakhir pada kondisi menyakiti diri sendiri. Kebalikannya, mementingkan kebutuhan pribadi melahirkan konsekuensi kerusakan bagi pihak-pihak lain. Dan secara social, tindakan ini disepakati menjadi sebuah kesalahan beretika. Pelakunyalah yang antagonis itu.
Dalam konteksi bertahan hidup, setiap hari, manusia memiliki banyak pilihan. Kadang menjadi protagonis, kadang menjadi si antagonis. Kadang-kadang pula, demi hasil terbaik, seseorang harus melakoni kedua peran ini. Membuatnya disebut si muka dua. Mungkin tak masalah bermuka dua jika sebenarnya sedang memperjuangkan kepentingan orang banyak.

Saya berkali-kali harus melakukan tindakan ini. Berpura A di sini dan berpura B di sana. Lantas siapakah diri saya? Saya adalah manusia berwajah seribu. Berat menjadi seorang manusia yang memiliki kesensitifan tinggi pada sekitarnya. Mungkin ini sebuah berkah. Saya dan kamu diberi kemampuan memahami situasi lebih cepat dan lebih detail dari orang lain. Dalam sebuah kerja tim, tipe manusia seperti ini adalah si pemimpin.

Sekali waktu, saya akan tampak sangat polos. Mempertanyakan banyak hal, tersenyum pada apapun dengan tingkah yang membuat orang lain tak mencurigai motif asli saya. Dalam kesempatan lain, saya akan bertindak sebagai orang yang paling sok tahu, cenderung tegas, dan kasar. Lain kesempatannya lagi, saya berperangai berada di antaranya, berarti tidak memedulikan apapun. Mengedepankan apatisme.

Sikap ini lah yang disebut “pandai membawa diri”, memiliki pembawaan yang baik. Namun pembawan diri yang baik sekedar untuk tujuan kesuksesan bersosial agaknya kurang pantas terus dipertahankan. Setidak-tidaknya, sikap ini dapat membuat kita bosan. Saya bisa saja menjadi anak manis, yang patuh, lurus, dan tidak berambisi apapun. Tidak juga memerintah. Tidak juga memimpin banyak orang melakukan sesuatu. Saya bisa saja membuat segalanya tidak bergantung kepada saya. Dan saya tidak bergantung kepada apapun.

Namun, apakah itu kemudian menjadi pilihan yang pantas bagi kita yang diberkahi kemampuan untuk membaca urgensi social lebih dari orang lain? Ketika saya memilih menjadi antagonis, saya mungkin dapat dengan mudah memanipulasi sekitar demi kepentingan saya sendiri. Pilihan lain, saya dapat memanfaatkannya untuk melakukan keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan bagi kemaslahatan seluruh makhluk hidup.

Namun, di saat-saat sacral, pertanyaan ini biasaya muncul tiba-tiba. Apakah saya dan kamu yang merasakan hal yang sama untuk berkehendak menjadi pahwalan? Benarkah? Ataukah kita hanya sedang menerima apa yang disebut kodrat dan menjalankan tugas kita?

Renungkanlah kembali siapa dirimu sebernarnya, mengapa kamu diciptakan, apa fungsi dirimu bagi dunia ini. Pertanyakan mengapa kamu terlahir belakangan, mengapa kamu anak kesekian dari sekian bersaudara, renungkan mengapa kamu lahir dari rahim yang itu, renungkan mengapa jalan hidupmu berada dalam jalur yang sekarang?

Tidakkah semua jawaban itu memberimu kepada satu kesimpulan: kedirianku. Kedirian dan fungsinya di muka bumi. Setidaknya dalam satu kelompok manusia terkecil, ada 5 karakter manusia yang berbeda-beda. Dari 5 itu jika terintegrasi akan membentuk satu tim kokoh untuk melakukan sebuah perubahan. Tentu saja, ada pemimpin di antara mereka. Bukan dia yang yang memproklamirkan diri atau semata didukung oleh ketinggian derajat keturunannya, tetapi dia yang mampu menyatukan suara yang berbeda-beda dalam kelompok tersebut. Tanyakan pada dirimu, apakah kamu sang alfa atau bukan?

Jangan takut menjadi alfa. Alfa adalah api. Adalah pengobar semangat. Adalah dia yang menjadi junjungan manusia lain. Juga menjadi yang bertanggung jawab atas segala tindakan baik dan buruk kawanannya. Alfa bukan si penyombong. Alfa justru merupakan si kambing hitam dalam rimba raya. Sementara kambing hitam yang sebenarnya adalah yang kau lindungi.


Keluarga

Yang imaginatif, murah, dan mudah dikreasikan adalah cita-cita. Saking mudahnya, aku tak ingin membuang-buang waktu melamukan cita-cita yang sederhana. Saat masih mengenakan rok merah, aku bercita-cita ingin memiliki satu ruangan yang dipenuhi rak buku, disesaki majalah anak-anak, komik, buku-buku cerita, dan ensiklopedia. 

Rok sekolahku berganti warna jadi biru, aku bercita-cita meninggalkan rumah dan memulai petualangan sendiri. Petualangan dari kota ke desa. Perjalanan yang seru, bertemu orang banyak, bermain, berbagi kegemaran dan lagu-lagu kesukaan.

Lalu sebagai pemakai rok abu-abu, aku bercita-cita ingin membuat banyak film. Documenter atau film cerita. Saat itu aku tak pernah memikirkan dari mana semua kelengkapan bikin film berasal, yang penting aku membuatnya, yang banyak.

Kini, di usia 25 tahun, baru kusadari, setelah mencuri waktu untuk mengenang masa lalu, ternyata aku telah mewujudkan semuanya. Sekali dalam hidupku. Walaupun banyak yang tidak dapat kupelihara dengan baik. Aku pernah memiliki ruangan dengan buku-buku yang banyak. Ukurannya kecil, tidak seperti perpustakaan wilayah yang sering kukunjungi dahulu. Hanya satu ruangan bermain tiga kali tiga meter. Majalah, komik, aneka buku, ensiklopedia, dan kamus-kamus, mereka menumpuk karuan di atas terpal. Begitu adanya karena aku selalu jatuh tertidur sambil membaca.

Cita-cita berpetualang, sebenarnya tidak betul-betul meninggalkan rumah. Aku hanya berkeliling kota, ke mana saja yang kuinginkan dengan sepeda motor. Ke pantai, ke hutan, ke kedai-kedai, ke tempat nongkrong, ke pinggiran kanal, ke mana saja. Dan aku akan kembali ke rumah sebelum maghrib. Di rumah, dengan buku, computer, atau khayalanku sendiri, aku melanjutkan perjalanan itu. Kadang-kadang, aku tak ingin melupakan banyak rincian, aku menuliskannya.

Perkara membuat film, kalau kuhitung-hitung (dibuat bersama orang lain, membuatkan film orang, dan film sendiri), hitungan jari tangan sudah tak cukup lagi. Bahkan aku masih belum puas. Mungkin takkan pernah puas dengan semua produksi itu.



Mana dari semua cita-cita yang berhasil kugapai akhirnya kutinggalkan? Tidak satu pun. Sebab mereka ternyata saling berkaitan. Saling menghidupi. Dengan bacaan aku menghasilkan banyak ide. Kemudian untuk menguji ide-ide, aku bertualang. sepanjang bertualang, kepalaku terus-terusan memikirkan gagasan-gagasan visual. Ternyata, mereka adalah keluarga besar yang kutemukan satu-persatu. Dengan keluarga inilah aku memutuskan untuk terus menyambung tali silaturahmi. Membaca terus sampai bodoh, bertualang terus sampai lumpuh, berkreasi terus sampai mati.

Jalan Kaki dari Tepi Makassar ke Pangkep

Kalau takdir, alam memberikan jalannya. Awalnya Monyek enggan mengajakku tracking, katanya ini simulasi personal. Dia tidak ingin membagi rutenya denganku. Apalagi, sekali pernah ia ceplos mengutarakan maksud terdalam di balik semua petualangannya selama ini. Dia pikir, aku tipe orang yang akan menceritakan apapun kepada siapapun. Mungkin benar, mungkin juga salah. Aku hanya menulis dan tak peduli siapa pun yang akan  membaca tulisanku. 

foto oleh admin | pemandangan melewati Leang-leang (diambil dari atas pick-up tumpangan)

Begitu aku mendapat bbm “bala bantuan, datanglah!” aku tergelincir karena tertawa terbahak-bahak. Pemimpin hebat mana pun di dunia ini, butuh buah pikir seorang wanita. “Susulka. Trouble kaki kiriku. Dari paha ke jemari. Ransum juga out of stock” demikian isi bbmnya. Aku memang telah bersiap-siap untuk menyusul Monyek saat ia tiba di titik paling strategis dari rute pulang-kampung edisi jalan kaki versinya. Paling-paling dia akan melintasi poros Maros-Camba untuk mencapai Pakalu, pintu gerbang Leang-leang. Bbm minta tolong itu ia kirimkan saat mendapatkan satu bar signal di sekitaran Ta’deang, beratus meter dari Biseang Labboro (Bislab). Tampaknya Monyek mengerahkan seluruh kekuatan, menyeret sepasang kaki yang telah payah, menuju SoaSoa AdventurePark, tempat beberapa orang yang dikenalnya berada.

Bbm itu kuterima hari Kamis, sekisar pukul 14.00. Sembari mencari pesanan Ayah, aku berkeliling toko outdoor, mencari hammock, pisau lipat, headlamp dan perlengkapan lain. Sayangnya, sepatu ukuran kakiku tidak diproduksi massal. Aku hanya mengenakan sandal gunung merek segala umat yang sudah buluk. Pukul 4 dini hari, Jumat, 18 September 2015 aku meninggalkan area pemukiman Biring Romang tanpa tidur sekejap mata pun. Lantaran menurut Dwiky dan Nila merasa kurang enak melihat aku pergi menyusul Monyek, tanpa perlengkapan camp dan tracking yang  baik. Aku optimis, keadaan Monyek tidak Se-SOS isi Bbmnya. Dia bukan petualang kemarin sore. Lagipula Monyek menggendong carrier 80liter berisi peralatan camp lengkap dan tenda yang muat untuk empat orang. Tak perlu GPS pula untuk melacak kordinat Monyek. Anak PA domestic akan baik-baik saja di sekitaran TN. Bantimurung-Bulusaraung.

foto oleh admin | berkumpul bersama sekumpulan para Manggala Agni dari timur

Aku membawa carrier 60 liter berisi dua lembar kaos, satu jaket parasut, pakaian dalam, mukenah, peralatan mandi dan anti kulit terbakar. Hammock kurasa cukup. Di antara sekian banyak perlengkapan outdoor, penemuan hammock yang paling hebat, menurutku. Kantong tidur gantung berbahan taslan dapat berfungsi sebagai sleeping bag atau tenda flysheet. Penemuan yang multifungsi. Carrier-ku juga berisi ransum untuk  makan 2 kali sehari selama 3 hari. Tambahan, kelengkapan P3K untuk membereskan trouble di kaki Monyek.

3 senjata

Dalam kantong celana cargo selutut, kusematkan pisau lipat dan ponsel dengan aplikasi tracking terbaik. Hanya untuk berjaga-jaga, kalau Monyek kelewat pede memutuskan beristirahat di tempat sepi dan jarang dilalui anak PA lain. Dan Nikon untuk mengabadikan ekspedisi kurang kerjaan ini.

Ryan mengantarku dengan sepeda motor – karena tidak enak hati melihatku jalan kaki, dini hari, tanpa tidur – higga ke pusat kota Maros. Aku memejamkan mata sejenak di masjid. Begitu matahari terbit, aku menelusuri pasar Maros, mencari bandage dan microsd untuk backup data camera. Pencarianku selesai pukul 09.30. Aku tiba di gerbang Bislap pukul 10.11 wita dan beristirahat sejenak di balai-balai, halaman area Waterpark Maros.

Di balai-balai, sekelompok orang mendatangiku. Mereka melihat ukuran bahu dan lenganku yang cukup besar untuk perempuan. Betisku pun, mereka kagum melihatnya. “Wah, tubuhmu didesain jadi orang liar,” Aku tersenyum getir, aku rasa kelakar mereka agak aneh-, 

Satu per satu mereka memperkenalkan diri. Masing-masing berasal dari Balai Taman Nasional dari seluruh wilayah Indonesia Timur, dari Pegunungan Laurentz hingga tuan rumah TN. Bantimurung-Bulusaraung. Mereka mengajakku berkunjung ke daerah kekuasaan mereka suatu hari nanti. Benar-benar pertemuan yang menyenangkan. Tentu saja, aku akan mengunjungi tempat-tempat itu, kelak jika Tuhan memberi jalan.

gerbang Soasoa Adventure Park

Pukul 11.45 aku menyeberang jalan menuju jembatan yang membatasi jalan poros dan gerbang Bislab. Pada mula jalur, ternyata ada semacam resort area, bertajuk “Soa-Soa Adventure Park”. Aku berbincang lama dengan Aryo, salah seorang pengelola Park. Aku agak ragu, benarkan Monyek berada di sini atau jangan-jangan dia mendirikan tenda di camping area Bislab.

“Mau ke mana?” tanya Aryo. Dia alumni Fisika, Unhas.
“Menyusul temanku di sekitar sini. Katanya dia ada sedikit masalah,”
“Dayat?”
“Yah, si Monyek,”
“Dia ada di belakang sana, lagi mandi”

Kulihat carrier Monyek tergeletak di balai-balai, di belakang Aryo. Ternyata memang dia tidak se-SOS itu. Monyek muncul dari kamar mandi dengan selembar handuk di bahunya. Ia sumringah “Lu datang beneran ternyata,”

bertemu Monyek

Iyalah, gue datang. Emang gue mau bertualang, kok. Kataku dalam hati. Lalu kami coffee break sejenak di teras pos pengelola, bersama Aryo dan bung Andy, si pemilik SoaSoa. Kami menghabiskan sore hari dengan belajar teknik dasar rafting. Malamnya, Yudi, salah seorang pengelola juga, dan anak-anak membakar sekantung jambu mete untuk dibuat tenteng, sebagai bekal stamina kami esok hari.

sebelum meninggalkan Soasoa
Kami meninggalkan SoaSoa pukul 09.30 pagi menuju desa Pakalu, pintu gerbang gua Leang-Leang. Perjalanan ini diawali dengan kaki kanan, menyusur kembali jalur kedatangan kami. Monyek ingin perjalanan kami tidak diselingi kendaraan, seolah staminanya tanpa batas. Aku memilih tidak memaksakan kemampuan fisik. Saat beristirahat di warung jagung rebus, Monyek menghentikan sebuah truk dari Bone. Supirnya bersedia membawa kami hingga ke gerbang Pakalu. Si supir bercerita, menjadi supir truk adalah pekerjaan pilihannya. Baginya, mengangkut hasil bumi dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya bukan hal yang mudah. Ribuan jiwa bergantung pada keselamatan angkutannya. Bapak itu tidak memperkenalkan namanya, namun kami takkan melupakan wajahnya.

Estimasi perjalanan dari Pakalu ke Bosowa sekisar 3 jam dengan taksiran 4 km per 30 menit jika dengan stamina dan kecepatan langkah yang stabil, sesuai estimasi waktu perjalannya Kamis lalu. Hari itu tentu, Monyek berhasil memenuhi rencana tracking-nya, karena dia berjalan sendiri. Namun, menurut taksiranku, Monyek memperlakukan tubuhnya semena-mena, karena itu kaki kirinya kena trouble. Estimasi waktu yang tepat menurutku, 3 km per 30 menit dan diselingi istirahat setiap 15 menit.
foto oleh admin: gerbang Leang Leang

Monyek tidak mendengarkan imbauanku, tetapi diam-diam aku memperlambat langkah agar memenuhi estimasiku sendiri. Aku tidak ingin tracking ini menjadi yang terakhir kalinya. Rencana perjalanan dengan kaki dari Pare-Pare ke Menado masih jauh dari hari ini. Kami harus memantapkan fisik. Jangan kalah di simulasi.

3 km per 30 menit. Kami tiba di pertigaan menuju Bosowa pada pukul 15.30 wita. Dengan 2 kali istirahat: 1 kali di Gua Leang-Leang dan 2 kali di sepanjang jalan beton Kalabirrang, berarti jarak tempuh kami sekitar 15 km. Di pertigaan Bosowa tersebut, kami berpapasan dengan rekan Operasi Rekor Muri Leang Pute pada Agustus lalu. Mereka mengantar kami dengan sepeda motor hingga ke gerbang Salenrang: jalur darat menuju dusun Rammang-Rammang.

foto oleh admin | sepanjang perjalanan, kami bertemu banyak anak-anak

singgah minta air di posko pengelola Leang-leang


di depan gerbang Leang-leang

Salenrang ke Rammang-Rammang dimulai pukul 16.05 wita dan berakhir pukul 17.15 wita. Perjalanan yang cukup singkat, melewati jalur penuh batu curam dan memotong pematang-pematang sawah warga. Lebih mudah melewati jalur ini karena kami tak perlu mengeluarkan energi ekstra demi mengimbangi suhu yang dipantulkan beton. Apalagi, mataku minus dan tubuhku tidak cukup tinggi, sehingga langkahku mudah diperlambat terik matahari.

foto oleh admin | memasuki Rammang-Rammang, lewat jalur darat Salenrang

Kami disambut surau bersahaja di tengah sawah, dikelilingi bukit-bukit karst, penduduk local, dan aroma pepohonan nipah. Memasuki Rammang-Rammang melalui jalur darat, seperti memasuki hidden paradise. Atau seperti memasuki dusun yang memencilkan dari di tengah pegunungan. Apalagi melihat kondisi tanah dan ekosistem Rammang-Rammang yang kurang baik untuk pertanian. Dusun ini dihuni 17 kepala keluarga dengan 15 rumah panggung. Penduduk bertani, menambak dan mengurus pariwisata sebagai mata pencaharian. Untuk bersekolah, anak-anak dusun harus berjalan kaki ke jalan poros atau menumpang rakit-rakit buatan ayah mereka.

foto oleh admin | para kepala keluarga di dusun Rammang-rammang, menanti turis

Objek wisata utama di dusun ini adalah perjalanan menyusuri sungai dengan perahu, mengunjungi mata air, telaga bidadari, telusur gua, dan yang paling menarik adalah menonton ribuan kalelawar buah meninggalkan sarangnya setiap pukul 6 pagi dan pukul 6 sore. Kelelawar-kelelawar itu tumpah memenuhi langit selatan, sementara puluhan elang putih berputar-putar siap memangsa.

foto oleh admin | mengintip proses pembuatan kapal

Menarik menyaksikan sekelompok peneliti dari Rusia memekik girang menyakikan fenomena kelelawar membentuk ombak hitam di langit. Mereka mengeluarkan kamera foto dan video, mengabadikan. Sementara adzan maghrib merdu terdengar, seolah menjadi lagu latar pertunjukan alam itu.


Kami berencana membangun tenda di salah satu pematang sawah yang cukup lebar, tepat berhadapan surau yang indah itu, ketika seorang pria paruh baya mengajak Monyek berbincang. Percakapan itu berujung ajakan bermalam di rumahnya. Dari sebelah utara surau, muncul seorang pria paruh baya lain, menghampiri kami dan mengucapkan kalimat kunci. Kata yang membuat Monyek tak dapat menolak ajakannya. “Anaknya Pak Nurdin?”
“Eh, iya. Dia bapak saya,” jawab Monyek.
“Waah… saya bersyukur sekali. Bapak kamu waktu masih muda sering ke sini. Dia teman kecilku. Kamu juga sering dibawa ke sini oleh Ibumu,” lanjut bapak itu. Ibu Monyek seorang bidan. Rammang-rammang termasuk wilayah pelayanannya.
“Bermalamlah di rumah kami. Dulu dia yang membantu persalinan istri saya. Ibu kamu baik sekali. Dia menerima apapun yang kami berikan, tidak pernah meminta bayaran mahal,”


foto oleh adamin | Pak Darwis, sesaat sebelum menunjukkan jalur ke terowongan
Kami pun berakhir di rumah bapak itu. Istrinya menggelar tikar di ruang tamu untukku dan Monyek. Aku tidur lebih dahulu, punggungku rasanya sakit sekali. Monyek menemani si bapak dan anak lelaki tertuanya, bercerita tentang masa lalu orang tuanya, hingga dini hari.

Pak Darwis, bapak itu menunjukkan kami jalur menuju terowongan Sakeang: jalur terbaik menuju Balocci dari Rammang-rammang. Kami meninggalkan rumah bapak Darwis pukul sepuluh pagi. Jalur tersebut melewati sisi tebing dan hilir sungai. Kami tiba di telaga kering. Jalur terbagi dua. Ke kanan menuju tebing sebelah, ke kiri entah menuju ke mana. Dari jauh tampak jarang dijamah. Jangan-jangan ini jalur memutar karena jalur kiri agak berbahaya, kataku. Monyek berkata, berdasarkan pengalamanku, jalur kanan selalu membuat tersesat. Kita coba saja, menyesatkan diri untuk mengetahui kebenaran.

sebelum meninggalkan Rammang-rammang

Akhirnya kami belok kanan. Aku tergelincir. Darah mengalir di bagian bawah lututku, menyisakan bekas hingga kini. Sembari mengobati kakiku, Monyek menelusuri kembali jalur tadi, mencoba mencari ujung dari jalur kiri yang kami abaikan. “Wuuu…..” sahutnya. “Fufiiifuuu….” Balasku. Monyek membantuku berdiri. “Masih sanggup?” tanyanya. “Bisalah,” kataku. “Aku baru sadar kita dibimbing potongan-potongan kertas HVS sedari gerbang Salenrang,” katanya dalam nafas tersengal-sengal. Aku tak menyadari petunjuk masih berlanjut hingga ke terowongan. Aku memang kehilangan perhatianku pada benda itu sejak tiba di surau. Kami pun mengikutinya hingga tiba di area yang cukup berbeda dari area di sekitarnya. Di sisi karst yang abu-abu, tumbuh jenis kaktus yang menjulang jauh lebih tinggi dari Monyek, di sekitarnya tumbuh benalu anggrek. Inilah gerbang terowongan Sakeang.



Aku menyalakan kamera, mode video. Merekam perjalanan menelusuri terowongan keren ini cukup sulit. Yang kusesali, aku kurang menikmati eksotisme berjalan di lorong yang dibentuk aliran sungai beratus tahun silam. Terowongan berakhir di pertingaan, lagi. Kali ini cukup baik. Sebab jalur kiri jelas tidak menuju pedesaan. Tampak sunyi dan kelam. Jalur kanan dipenuhi dedaunan patah dan sisa-sia pijakan hewan ternak. Kami berjalan menuju jembatan yang menghubungkan wilayah Sakeang dan desa di tepian kecamatan Balocci. Tibalah kami di peradaban yang lebih maju. Rumah-rumah sudah terbuat dari batu, dan tentu saja semen hasil pabrikan Tonasa yang mahsyur itu. Kami melintasi perumahan Tonasa 1 yang telah ditinggal banyak penduduknya. Monyek mempercepat langkahnya. Ia ingin kami tiba di perempatan utama sebelum pukul 5 sore.

Kami menenggak “air rasa-rasa” saat beristirahat di halte tua. Halte kusam, hitam, dan sepertinya tak pernah digunakan lagi. Para penduduk banyak telah memiliki kendaraan pribadi, sehingga angkutan umum bukan lagi kebutuhan utama. Kami berpisah di sana. Ia terus berjalan menuju rumahnya, sekisar 100m dari halte. Dan aku menumpang truk pengangkut semen menuju jalan poros Pangkep-Barru.

Sungguh perjalanan dengan kaki yang takkan pernah kulupakan. Bukan karena kami tidak pernah menggunakan peralatan camping dan tak satu pun ransum dikeluarkan, tetapi perjalanan ini hanyalah jalan uji coba. Kelak, jika tiba saatnya, kami akan melakukan perjalanan dari ujung Pare-Pare ke Manado di utara Sulawesi.

terowongan Sakeang
Lebih dari 75km telah ia tempuh dengan berjalan kaki dan aku menempuh seperdua angka itu. Cara ini rasanya lebih ampuh untuk mengenal tanah kelahiran kami dengan cara yang lebih karib. Semoga kita panjang umur, Nyek. Semoga rencana gila kita bukan sekedar rencana. Hari itu kuakhiri dengan segelas kopi hitam buatan seorang sahabat di koridor sastra Unhas.