Aku merindukanmu seperti petani kepada hujan di bulan
September.
...
Hujan pertama Oktober, membasahi tanah yang kutatap geram.
Ada kesejukan yang tidak selesai. Aku enggan meratap, ini keputusan yang kami
buat bersama tanpa kata-kata.
Aku merasakannya, ayah. Perasaanmu pasti remuk kala itu,
menyimak anak-anakmu bertengkar dan kau tidak dapat berbuat apa-apa. Aku
merasakannya, ayah. Bagaimana kau ingin kupapah beranjak meninggalkan rumah itu
demi menjalani sisa usiamu bersamaku, ya, juga dengan kucing-kucing ini. Aku
merasakannya, ayah. karena itu aku menangis di sini.
Pohon yang tumbuh di dalamku
sekali-kali kunjungilah, wahai kawan lamaku
tetapi jangan membawa garam
tidakkah kau inginkan buahnya
- sebagai penggenap sarapan
nanti, di meja makan keluargamu
yang di sisinya duduk sebatang pohon?
Your Ex-Cave
Makassar, 7 September 2018
I want to paint my helmet all black and stick on a "cat does fvck you" sticker in the middle of its back side, like I give the same to all riders and drivers behind, while I am knifing the wind with speed and sound.
I fell in love, stupidly
See his shadows ever since, on every corner
haunting like the bad habit I left years ago
I left my life with him, high hope
to that low percentage, I don't even pray for
I belong to somebody else, I can feel it.
Sinful lovers once shared things,
as pressures to ask forgiveness in this holy day.
Seakan dahulu, seorang saman berhasil membuka mata ketigaku: untuk melihat hal-hal buruk di dunia ini. Pada ritual kedua, dukun itu menutup bagian dari jiwaku yang mampu merasakan kebahagian di dunia ini. Kini aku hanya mampu melihat keburukan-keburukan dan bersedih terhadapnya.
Sebagai seorang prajurit yang dibaiat di puncak bukit kharismatik, ada perang yang tak perlu aku ladeni. Yaitu perang melawan sekelompok manusia lemah dan dungu. Tentu saja tak adil melawan mereka, sebab saya memiliki tingkat pemikiran yang lebih baik dan kekuatan yang jauh lebih besar. Lalu prajurit sepertiku hanya dapat menunjukkan rasa kasihan.
Dengan perasaan itu, aku melangkah pergi, menuju tanah baru dengan segala kejutannya. Ya, prajurit pengembara. Menggunakan mata batinnya untuk melihat kepedihan, menyerapnya, membantu orang-orang baik dan berpikiran tinggi yang sedang berusaha mengobati luka-luka dunia. Perang yang melibatkan mereka akan menjadi tempatku berada.
Sekarang, paling tepat memutar lagu Tame Impala - Feels Like We Only Go Backwards special buat diriku sendiri (exactly, I'm playing it, singalong with my laptop) terkait kehidupan saya yang lagi lucu-lucunya.
Years ago I was wild enough to move in an apartment, living with many different new friends. Saat itu semua baik-baik saja, mumpung rencana masa depan belum banyak dan penting-penting amat. Saat ini, rencana saya tidak seraksasa dahulu, yang terasa besar dan lebar adalah tanggung jawab yang pastinya akan sulit kutunaikan jika sebagian besar waktu dan pikiranku masih menjadi milik orang lain.
Aku mauku melanjutkan kehidupan yang baru, dengan target baru, orang-orang baru, dunia baru, dan kisah-kisah baru. Nggak mau ada pengulangan ataupun ciri khas dari masa laluku yang sudah tak relevan lagi dengan perubahan karakterku.
Ah, entah takdir mau bawa ke mana lagi
kok, aku kayak jalan mundur begini
-________________________-"