Kepada, Kepada

ilustrasi milik Puung

Kepada hati yang menabahkan tubuhmu, kukirimkan degup kencang hasil berlari sesanggupku mengelilingi lapangan yang dahulu menjarakkan pandangan kita. Saat kuhadapi sore tadi, kurasakan waktu silam memanjangkan tangannya memberiku semangat, mengajarkanku kembali arti mengejar mimpi-mimpi

Kepada sepasang mata yang tak kunjung habis asa menembus ke depan, kunyalakan lilin doa-doa dari tempatku menandaskan dua gelas kopi hitam di sini. Walau kuhabiskan sendiri, sepasang mata itu melihat niatku membuatnya bukan untuk diriku sendiri. beri kesempatan pada jeda-jeda yang manis dengan sendirinya itu – membuat isi cangkir-cangkir membentuk semesta ketenangan

Kepada strategi yang berhamburan di dalam kepalamu, aku berharap ada sihir yang menjadikannya cawan putik sari di mana kelak aku menjelma tinkerbell penebar dalam tanah-tanah subur yang dipinjamkan tuhan. Kamu tahu, pikirmu mendapatkan hutan tak tumbuh dalam sehari.


Kepada kita, mari bersabar. Lautan, arah angin, garis imajinier, dan jadwal penerbangan yang sering dikacaukan awan itu, kelak merupakan kendaraan untuk melihat alam yang lebih luas, alam yang membijakkan kita.

Favorit Kafe

Sebagai penulis, aku tidak mengenal penyakit “writer’s block”. Bagiku, writer’s block hanya alasan-alasan yang dibuat penulis itu sendiri untuk tidak menyelesaikan karyanya. Bagiku, yang ada adalah suasana-suasana yang tidak mendukung untuk menulis. Terkadang, aku nyaman melakukannya saat sepi, biasanya dini hari. Terkadang pula, saat aku menyendiri. Yaitu, suasana di saat aku tenggelam dalam tulisanku sendiri sementara di sekitarku penuh balon-balon percakapan yang dibuat oleh keramaian. Aku lebih produktif saat menyendiri. Untuk mendapatkannya, aku sering membawa laptop dan kretekku ke warung kopi.

Ada beberapa warung kopi yang sering aku kunjungi sejak tahun 2011. Oh, iya tulisan ini bukan untuk mempromosikan warkop-warkop itu, melainkan untuk menyimpan ingatanku semata. Kedai-kedai minum kopi tersebut sering aku kunjungi karena dua alasan utama. Pertama, sajian kopi yang nikmat tentu saja. Kedua, suasana yang menenangkan. Mungkin tempat tersebut memiliki sudut manis bagiku untuk duduk dan tenggelam bersama kata-kata, atau tempat itu berkonsep, yang dengan cara tertentu dapat membuatku nyaman secara pribadi.

sketch form etsy.com
Di ujung jalur Borong Raya, tepatnya sudah masuk wilayah jalan Ujung Bori (batas antar kedua jalan ini tidak jelas), pada sudut jejeran ruko terbaik di sana, ada sebuah warung kopi yang menarik. Mengikut namanya, sang pemilik memarkir bendi (pedati/kereta kuda) tepat di parkiran depan. Bendi yang telah berusia puluhan tahun dan didatangkan langsung dari Jeneponto (Tanah Seribu Kuda). Selain itu, asbak-asbak yang diletakkan di atas meja terbuat dari pahatan batu sungai. Pemiliknya sudah hapal tempat favoritku, di sudut kiri kafe, sudut yang memungkinkanku memandang pada tiga arah dan di saat ramai, para pengunjung tidak akan memperhatikanku. Jika bosan menatap laptop, aku akan naik ke lantai dua, memainkan guitar hero sampai kurindukan laptop itu kembali.

Kafe lain yang masih membawa suasana pedesaan dan keunikan daerah Jeneponto terletak di JL Saripah Raya (belakang Unifa). Kedai berdesain sederhana ini adalah milik bapak bersahaja bernama Om Najib. Hubunganku dengan kedai ini terbilang unik. Aku telah menjadi pelanggan tetap sejak kedai ini didirikan pada tahun 2011. Kursi dan meja bambu, atap rumbia, dinding gamacca, penerangan lampu-lampu kuning 5 watt dan music instrument sunda mampu membuatku duduk berlama-lama di dalamnya. Suasana seperti ini sudah langka di Makassar. Saat kafe-kafe lain berlomba-lomba mengusung desain minimalis, vintage, atau street art, Warkop 88 masih bersahaja dengan konsepnya. Kini Warkop 88 telah berganti pengelola dan mereka dengan ramah selalu menyambutku, walau aku sering tidak tahu diri nongkrong dari pagi hingga malam.

Kucing Paling Beruntung di Dunia

“Aku pulang!” sahut Felisha sambil membuka pintu. Piki bergegas bangun untuk menyambut majikannya. Ia menggosokkan badannya ke kaki Felisha dengan manja. Tetapi Felisha tidak langsung menggendong Piki seperti biasa. Gadis kecil malah asyik mengelus-elus anak kucing berwarna hitam di pelukannya.
Dengan kesal, Piki menonton manjikannya memandikan anak kucing itu. Sehabis mandi, Felisha mengeringkan tubuh si kucing mungil dengan handuk milik Piki. Tadi Felisha tak acuh padanya, kini ia harus rela barang miliknya dipakai kucing lain. Piki mencakar-cakar balok dengan gemas.
“Piki yang baik, Olong minta susu kamu ya..” ujar Felisha sambil mengelus kepala Piki. Kucing Persia berbulu abu-abu itu tidak mengeong, ia justru menjauh dan bersembunyi di bawah meja belajar. “Mulai hari ini, Piki dan Olong jadi adik-kakak ya,” lanjut Felisha Piki mengibas-ngibaskan ekor tanda tak setuju.
Hari silih berganti. Bantal tidur kini milik Olong dan Piki tidur di atas keset. Kalau Felisha sedang belajar, Olong di pangkuannya. Piki merasa sangat sedih. Ia merasa kehilangan kasih sayang Felisha.
Diam-diam Piki kabur dari rumah lewat jendela kamar. Ia ingin mencari majikan baru. Di suatu tempat pasti ada manusia semanis Felisha yang juga sayang kepada kucing. Demikian Piki berusaha menghibur diri.
Kucing gendut itu menyusuri jalan-jalan setapak dengan hati yang sangat sedih. Ia tidak sekali pun menoleh ke belakang. Ia terus berjalan hingga tiba di sebuah taman. Piki tidur di bawah perosotan sambil mengingat-ingat kenangan bersama Felisha.
Saat tengah malam, Piki mendengar tangisan bayi. “Ah, pasti hanya mimpi,” batin Piki. Ia tidur kembali. Namun suara itu muncul lagi. Kini semakin jelas terdengar. Piki beranjak mencari sumber suara.
Ia menemukan seekor anak kucing bersembunyi di balik semak. “Berisik sekali kamu. Aku sedang tidur,” kata Piki sembari beranjak pergi. “Paman, aku takut..” anak kucing itu terisak. “Memangnya di mana ibumu, di mana saudara-saudaramu?” tanya Piki padanya. Anak kucing itu pun bercerita bahwa ia ketiga saudaranya dibuang di taman ini. Dua saudaranya dipungut manusia. Dan saudarinya tertabrak sepeda motor. Tinggal dia sendiri, ketakutan, menunggu ibunya datang.
Mendengar cerita itu, Piki merasa tidak tega padanya. Sejak Felisha membelinya di toko hewan peliharaan, hidupnya selalu bahagia. Ia makan berkecukupan. Banyak susu untuk di minum. Bantal tidur yang empuk. Berlimpah elusan, pelukan, dan ciuman dari Felisha. “Malang sekali nasibmu,” kata Piki sembari membersihkan wajah anak kucing itu dengan lidahnya. “Ikutlah denganku, ke rumahku,”  
Piki menuntun anak kucing itu pulang ke rumah Felisha. Sepanjang perjalanan, keduanya tampak bahagia. Piki menceritakan betapa manis dan baik hati Felisha itu. “Seperti kita, Felisha juga tidak punya Ibu. Tetapi dia punya ayah yang penyayang. Felisha dan ayahnya sangat menyayangiku. Mereka tidak pernah kasar padaku,” Piki bercerita panjang lebar. Ia berharap rasa takut kucing kecil itu perlahan menghilang.
Menjelang fajar, keduanya tiba di rumah. Tampak Felisha sedang menggendong Olong di ambang pintu. Air mata tak henti mengalir dari sepasang mata Felisha. Di pelukan Felisha, Olong pun tampak sedih. Sementara ayah Felisha berkeliling rumah, menyahut-nyahutkan nama Piki.

Melihat Piki muncul dari pagar, Felisha berhambur memeluk dan menciumnya. Kucing berbulu kapas itu merasa sangat bersalah telah membuat Felisha bersedih. Dalam pelukan, ia berjanji tidak akan meninggalkan Felisha lagi. “Maafkan aku, Piki. Aku sayang kamu, aku sayang Olong. Aku sayang kalian berdua,” isak Felisha sembari mempererat pelukannya.
‘Meong’ Felisha mendengar suara seekor anak kucing. Suara itu dari semak di balik pagar. “Oh, kamu pulang membawa hadiah untukku?” Felisha menatap Piki dengan mata berbinar-binar. Piki meloncat dari pelukan menuju semak. Ia membujuk anak kucing itu keluar. “Tidak usah takut, dia Felisha-ku,” kata Piki.
Dengan perasaan malu dan takut, anak kucing itu perlahan menampakkan diri. Felisha bahagia melihatnya. “Ayah, lihatlah, betapa cantik anak kucing ini!” tanpa ragu Felisha meraih anak kucing belang tiga itu ke pelukannya. “Sansa!” kata Felisha. “Oh, sungguh nama yang indah,” batin Piki bahagia.
Pagi itu, Piki, Olong, dan Sansa menikmati mandi air hangat bersama. Mereka juga makan dengan satu mangkuk yang sama. Di malam hari, Piki dan kedua adik barunya berbagi pelukan hangat yang sama. Pelukan dari majikan mereka yang baik hati.

Akhirnya Piki sadar bahwa memiliki banyak makanan, susu, dan pelukan Felisha adalah anugerah yang luar biasa. Tetapi yang lebih baik dari itu adalah membaginya bersama Olong dan Sansa. Ia merasa menjadi kucing yang paling beruntung di dunia ini.

Terima Kasih, Mama Kucing

“Wah… bekal kamu cantik sekali. Kalau cantik begitu, pasti rasanya enak,” kata Nayla, teman sebangku Rika.
“Tentu saja. Ini buatan ibuku. Rasanya eeenaaaaak banget,” timpal Rika lalu memasukkan sepotong tempe goreng ke dalam mulutnya, padahal ia belum selesai mengunyah makanan sebelumnya.
“Bagi dooong… pliis,” kata Nayla. Gadis berkuncir itu menatap Rika penuh harap. Tetapi Rika malah menutup kotak makannya dan pergi.
Rika anak perempuan dengan tubuh yang sangat gendut. Tubuhnya membesar setiap hari karena dia suka sekali makan. Rika jarang membagi makanannya. Karena itu, anak-anak lain tidak senang berteman dengannya. Pada suatu hari, saat istirahat siang, Rika mengajak Nayla dan anak-anak lain untuk makan bersama di taman sekolah. Namun mereka menolak ajakan Rika. Ia pun menikmati sandwich sendirian di bawah pohon.
Saat sedang asyik mengunyah, seekor kucing menghampiri Rika. Kucing itu sangat kurus, tidak seperti tubuhnya yang besar. Kelihatannya, si kucing meminta makanan. Dasar Rika pelit, Ia malah menghabiskan roti itu sendirian. Si kucing tampak kecewa, namun ia masih berada di sisi Rika.
“Pergi, sana! Makananku sudah habis,” kata Rika kepada si kucing. Kucing itu tetap di sana. Ia merapikan duduknya. Seolah-olah si kucing ingin berkata, “Walau begitu, biarkan aku menemanimu di sini. Sepertinya kamu anak kecil yang kesepian.” Rika dan kucing itu pun menghabiskan waktu istirahat siang di bangku taman.
Esok harinya, Rika melakukan hal yang sama. Ia mengajak teman-teman sekelasnya untuk makan siang bersama di taman. Namun mereka menolak ajakan Rika lagi. Rika bertanya-tanya, mengapa teman-temannya tidak mau makan bersamanya. Akhirnya, Rika makan seorang diri lagi di taman.
“Meong….” Seekor kucing bertubuh sangat kurus menghampirinya.“Kamu lagi. Tidak ada makanan untukmu,” kata Rika pada kucing itu. “Meong... meong … meong…” suara bayi kucing ramai bersahutan. Rupanya kucing kurus itu adalah seekor induk. Hari ini ia membawa ketiga anaknya ikut serta.
Rika memperhatikan sepasang tangannya yang besar dan tebal. Lalu ia melihat betapa kecil kepala si induk kucing dibanding kepalan tangannya. Apalagi tubuh ketiga anak kucing itu, jauh lebih kecil.
“Ini… buat kalian. Aku sedang tidak ingin makan,” ujar Rika. Ia menyodorkan kotak makanannya kepada keluarga kucing. Dari kejauhan, tampak teman-teman sekelasnya menggelar tikar di bawah pohon. Kemudian mereka makan siang bersama. Rika menghampiri mereka. Tetapi, tidak satu pun yang mempedulikannya. Ia Rika pun kembali ke bangku taman. Siang itu, Rika tidak makan sama sekali. Ia hanya menonton keluarga kucing menghabiskan bekal makan siang miliknya.
Keesokan harinya lagi, Rika tidak lagi mengajak teman-teman sekelasnya makan siang bersama. Ia takut mereka menolak ajakannya lagi. Setelah bel istirahat berdentang, Rika membawa kotak bekalnya menuju taman. Di sana, keluarga kucing sudah menunggu. Rika membagi makan siangnya sama banyak. Setengah untuk dirinya, setengah untuk keluarga kucing. Mereka pun makan siang bersama.
Begitulah yang dilakukan Rika setiap hari. Ia berbagi makan siang bersama keluarga kucing. Hingga suatu waktu, Rika membanding-bandingkan tangannya dengan kepala si induk kucing. “Kamu semakin gendut, yah. Sekarang kepalamu sama besar dengan kepalan tanganku,” ujar Rika pelan, sambil menonton teman-temannya dari kejauhan.
“Wah… anak kucing yang imut!” seru Nayla dari jauh. Nayla menunjuk anak kucing di dekat Rika. “Yuk, kita ke sana!” seru salah seorang anak. Mereka pun beranjak menghampiri bangku tempat Rika duduk. Tiba-tiba Rika merasa kikuk.
“Anak-anak kucing ini lucu sekali. Mereka bersih dan sehat. Apa mereka kucing-kucingmu?” tanya Nayla kepadanya. “Oh.. ehmm.. bukan. Mereka teman-temanku. Yang ini induknya,” kata Rika sambil mengelus-elus tengkuk si induk kucing.
“Lucunya….,” ujar Nayla sembari meletakkan si induk kucing di pangkuannya. Anak-anak yang lain tak mau kalah. Mereka juga mengambil salah satu anak kucing untuk dielus. Sekeliling Rika mendadak ramai oleh teman-temannya. Rika tidak lagi melihat mereka dari kejauhan. Kini mereka berada di sisinya. Rika merasa bahagia.


Bel pertanda istirahat siang selesai berdentang. Nayla dan anak-anak lainnya berhamburan kembali ke kelas. Mereka berpamitan pada keluarga kucing dan berjanji akan kembali lagi setelah pulang sekolah. Tetapi Rika tidak segera kembali ke kelas. Gadis kecil itu sedang mengelus-elus tengkuk si induk kucing sembari berbisik, “Terima kasih, ya mama kucing.”

definisi kenangan

Aku ingin mempelajari cara mewarnai ingatan yang memudar. Aku terlalu sering berdoa agar melupakan hal-hal buruk yang telah terjadi padaku dengan pengabaian-pengabaian. Melupakan menjadi kemampuan terbaikku belakangan ini. Padahal, selalu kuingatkan orang lain bahwa melupakan adalah berbuat dosa. Kita harus mengikhlaskan sesuatu. Karena ikhlas tidak memudarkan ingatan, namun melipatnya dengan rapih di bagian terputih dari ingatan. Ikhlas mengubah ingatan menjadi kenangan. Kenangan tidak dapat dilupakan.


Kenangan adalah rekaman kejadian, rasa, mula dan akhir yang tak lagi dihinggapi


dendam.

Sampai Jumpa di Surga, Alliesa

semasa kuliah, aku nomaden. dari satu kos ke kos lainnya. atau dari satu rumah orang baik ke rumah orang baik lainnya. setelah beberapa bulan merasa tidak nyaman tanpa kucing, suatu malam aku bertemu anak manis itu.

motorku nyaris menginjak lehernya. seekor kucing bersembunyi di bawah roda sepeda motorku sedari tadi. warna mantelnya cokelat gelap, nyaris menyatu dengan warna malam. saat aku berusaha memindahkannya ke tempat terbuka, ia memberikanku tatapan itu. tapapan yang sekelam semesta, yang memiliki ratusan bintang pijar. kurangkul tubuhnya yang besar dan hangat.

tanpa berpikir panjang, kucing besar itu kubawa ke kosan. dia begitu pandai dan penurut. malam pertamanya di kamar membuatku terkesan. ia membuang air seninya tepat di lubang kloset. betapa seekor kucing yang pandai. "Tinggallah bersamaku sesukamu, kucing manis. bolehkah kupanggil kau Allie?" kataku padanya. kucing manis itu mengedipkan matanya. kami memulai musim hujan tahun 2012 dengan kehangatan.

saat itu, isi kantongku terus menipis karena besar pasak daripada tiang. penghasilanku banyak kuhabiskan untuk membiayai karya ini-itu, aku tak peduli apakah akan ada laba dari modal yang telah kukeluarkan. namun aku selalu percaya, seekor kucing memiliki rejekinya sendiri. Allie dapat jatah makan tiga ekor ikan goreng dalam sehari. menu makanan Allie meningkat seiring bertambahnya hari. aku dapat membelikannya sebungkus catfood kelas B 2 kali seminggu. dan tak perlu pengeluaran untuk catsand, ia pandai membuang pee atau poo nya ke dalam lubang kloset.

catfood itu membuatnya melebar dan melebar. menggendongnya bukan lagi pekerjaan yang mudah. Allie si gendut. obesitas, kata dokter yang pernah memberinya vaksin. dokter hewan itu menyarankan diet ketat pada Allie, tetapi aku selalu tak tega melihat tatapan semestanya saat meminta makan. Allie makan lebih dari 6 kali sehari dengan snack yang membumbung tinggi di atas mangkuknya. 

Allie yang sebesar karung
kalau Allie lapar tengah malam dan aku sedang pulas, ia melakukan segala cara untuk membangunkanku. ia menarik-narik rambutku sampai aku terbangun kesakitan. paling parah, ia menggigit ketiakku yang sering terbuka saat sedang tidur. sumpah, itu sakit sekali. melihat ekspresi kesakitanku, bukannya merasa bersalah, Allie malah senang dan langsung berlari dengan pantat megal megol ke mangkuknya, matanya tertuju pada bungkusan eureka di atas lemari.

sejak saat itu, tak pernah kubiarkan mangkuknya kosong. makanan harus terus membumbung untuknya. mangkuknya yang berwarna biru pun kubaluri kapur ajaib agar tidak didatangi semut. Allie pernah tak sengaja makan makanan bersemut dan bibirnya luka-luka. ekspresinya seperti menangis kesakitan, aku memeluk tubuh bundarnya penuh kasih.

Allie kucing sosialis. ia pandai bergaul. saat itu kami tinggal di pondokan rumah panggung. Allie menghabiskan siangnya mengunjungi kamar-kamar tetangga kosan, sekedar memperlihatkan tubuhnya yang gendut atau ikutan memakan cemilan mereka. seisi kos sudah mengenal dan menyayanginya. kalau kekenyangan, Allie nongkrong di teras pondokan, tepat di depan kamar dan mengawasi halaman pondokan seperti penjaga menara. 

mungkin Allie sudah menjadi betina alfa di sekitaran pondokan dan dia berniat memperluas wilayah pergaulan lebih jauh. beberapa kali Allie seperti hilang ditelan bumi. tidak ada di kamarku atau di kamar tetangga. apalagi di balkon. ia membuatku kuatir tak terkira. aku seperti kesurupan mencarinya. orang-orang menertawaiku karena begitu ngotot mencari seekor kucing domestik. saat itu, langit sudah gelap. dunia batas perlahan muncul dan Allie belum pulang. sebentar lagi jam makannya tiba, ia belum pulang. aku termenung di ambang pagar pondokan, memikirkan cara menemukan anak manis itu. tiba-tiba, Allie berlenggak lenggok keluar lorong sempit dengan tatapan semesta padaku. seolah merasa bersalah, ia tidak menyundulkan kepala pada betisku seperti biasa, terburu-buru ia menaiki tangga dan bersembunyi di bawah meja kerjaku.

kucecar dia dengan omelan bertubi-tubi. Allie semakin merapatkan tubuhnya ke tembok. ia takut menatapku. tatapan semestanya tak ampuh bagiku saat itu. tak pernah kulihat ia setakut itu padaku. Allie terus bersembunyi di sana, melewatkan jam makan malam dan jam makan tengah malamnya. aku juga membawa kekesalanku hingga tertidur. aku dan Allie diam-diaman sampai kudengar dengkurannya seperti gemuruh karena menahan lapar. kesalku belum reda, tetapi tetap kusodorkan semangkuk eureka. Allie makan tergesa-gesa. wajahnya terus menunduk. betapa ia merasa bersalah. "Jangan begitu lagi!" kataku padanya. sejak saat itu, Allie selalu bergaul tak jauh dari pondokan. setiap kusadari ia hilang dari pandanganku, aku menyahutkan namanya dan Allie akan muncul entah dari mana, berlari tergopoh-gopoh, berusaha secepat mungkin berada di hadapanku dengan bobot tubuh seberat itu.

Allie tumbuh semakin besar dan besar. sampai-sampai lebar tubuhnya selebar badanku. bentuknya aneh tetapi menggemaskan, bulat dari leher ke bawah sementara kepala dan telinganya tetap kecil. seperti karung beras ditancapi kepala-kepalaan. kalau dia tidur di dekat pintu, tak sengaja kutendang kepalanya. karena ia tampak seperti buntelan besar kecokelatan dari belakang. tubuh yang besar itu menyembunyikan kepala kucingnya.

corak mantel Allie agak unik. loreng kecokelatan pada wajah, punggung, dan ekor. perutnya penuh totol. Allie juga agak galak untuk jenis kucing domestik. kucing domestik lain yang pernah kupelihara, saat marah cenderung mengeong keras. Allie justru menggeram dalam dan menatap tajam. sifat agak liar ini, didukung dengan ukuran tulangnya yang lebih besar dari kucing domestik , dan corak mantel yang tak biasa, memberiku kesimpulan: ada gen kucing hutan semacam Blacan dalam tubuhnya. penemuan ini membuat Allie semakin berharga buatku.

aku senang membawanya jalan-jalan. Allie tak pernah menyusahkanku selama di luar rumah. saat aku bekerja, ia berbaring di sisi kakiku dengan posisi meringkuk. kadang ia memaksa membalik tubuhnya, memperlihatkan perut lebarnya sebagai tanda mengajak bermain. saat ingin buang air, ia mengeong di depan kamar mandi, agar aku membuka pintu kamar mandi. aku menunggunya selesai berurusan dengan lubang kloset lalu menyiramnya. kemudian Allie akan kembali berbaring manja di ujung kakiku. 

suatu hari, mamaku penasaran pada Allie. kubawa ia ke rumah mama. mama histeris melihat ukurannya. sampai-sampai mama bersembunyi di balik lemari karena ketakutan. "Itu bukan kucing, itu monster!". Aku menenangkan mama, pelan-pelan kuarahkan tangan mama mengelus kepala Allie. kucing itu perlahan memperlihatkan tatapan semestanya kepada mamaku. alhasil, beliau luluh. kutinggalkan Allie di rumah mama, hingga setahun kemudian.

itu karena keuanganku merosot drastis. aku tak lagi sanggup membelikannya 2 bungkus eureka setiap bulan. pikirku, rawfood nasi-ikan akan selalu ada di rumah mama. mama juga senang bersama Allie. kucing manis itu selalu menemaninya tidur. kata mama, tidur sama Allie enak. tubuhnya besar, seperti boneka. saat keuanganku sudah membaik, aku ingin merawat Allie kembali dan mama tidak rela. sebagai anak yang mencoba berbakti, sudahlah, kubiarkan Allie bersamanya. hitung-hitung sebagai pengganti anaknya yang jarang pulang ke rumah ini. Allie digantikan dua ekor kucing persian medium bernama Piki dan Wichi. bersama kucing manapun selalu membahagiakan.

sebulan terakhir ini, aku kembali tinggal di rumah mama. Piki & Wichi dicuri orang. aku membawa pulang seekor kucing domestic tabby lainnya bernama Pikkolo. Pikkolo dan Allie saling menyayangi. corak mantel mereka juga mirip, tampak seperti ibu dan anak. senang rasanya, dua kucing kesayangan tidak bermusuhan.

suatu malam, aku pulang kantor dan menemukan muntahan berwarna hitam. sebegitu lelahku, aku tak sanggup mencari tahu siapa pemilik muntahan itu. aku langsung tersungkur di kasur, tertidur bersama Pikkolo. tak kusadari kalau Allie ternyata tidak berada di sekitar. esoknya, mama menemukan Allie terbujur kaku di rooftop. 

mengubur Allie semacam aktifitas yang menguras emosi. aku ingin ia dikuburkan dengan layak ditempat yang baik. di tanah yang pasti selama 3 bulan tidak akan digali demi pembangunan dan semacamnya. aku ingin tubuhnya benar-benar habis terurai sebelum tanah tempatnya dikubur tersentuh manusia. tempat itu adalah sepetak tanah kosong di dalam lorong yang dijadikan tempat sampah oleh warga sekitar. di bawah hujan deras, aku menggali lubang yang cukup memuat tubuhnya yang besar. tetiba seorang warga mengusirku dari tempat itu dengan alasan aku hendak mengubur kesialan di sekitar rumahnya. dengan kesal aku mengangkat mayat kucing manisku ke dalam pelukanku. kubungkus kembali tubuhnya dengan kain putih dan kubawa mayat itu dengan sepeda motor.

aku menguburnya tepat di bawah pohon, di halaman warung kopi tempatku menuliskan kisah ini. pemilik warkop tidak melihatku melakukannya. aku ingin ada satu tempat yang dapat kukunjungi diam-diam, sekedar untuk merasakan kenanganku bersama Allie selama hampir 4 tahun. aku bersyukur pernah dipercaya Tuhan hidup bersama salah satu makhluknya yang hebat. kelak, kalau aku masuk surga, kupastikan berdoa pada Tuhan agar Allie dihidupkan kembali. akan kudoakan pula semoga ada catfood jenis eureka di surga. karena beberapa hari sebelum Allie pergi, aku sempat berkata padanya;

"Allie... doakan mama.. supaya banyak rejeki, supaya bisa belikan kamu sebungkus eureka kesukaanmu itu,..."

ibu adalah kebenaran paling nyata

dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember dua puluh dua desember saya tidak suka ada dua puluh dua desember untuk mengingat ibu yang satu-satunya sepanjang masa


karena manusia mengandalkan panca indera untuk membenarkan apapun, yang satu dan satu-satunya paling materialistik hanyalah ibu. tak mungkin ada seorang manusia yang lahir dari dua rahim. aku dapat melihat ibu memberiku kasih sayang tanpa pamrih. aku mendengar cara ibu menyayangiku dengan kata-katanya. aku dapat menyentuh kulitnya yang berkerut seiring bertambah usianya. aku dapat mencecap setiap masakan dan minuman yang dibuatnya gratis untukku. dan aku dapat meneri maaroma apapun yang tercium dari tangannya saat sungkem. maka ibu adalah kebenaran. 

untuk kebenaran yang senyata ibu, perlakuan spesial baginya tak cukup dilakukan pada satu hari tertentu. dua puluh dua desember hanyalah tanggal, satu hari dari 365 hari dalam setahun. aku lebih senang berasumsi bahwa dari 365 hari itu, hanya pada dua puluh dua desember aku sengaja lupa untuk memberinya ucapan selamat hari ibu. karena dalam hidupku, selalu ada satu hal yang mainstream. misalnya tidak mencintai ibu pada tanggal dua puluh dua desember. 

ibuku bukan ibu orang lain. ibuku satu-satunya dan kuingat beliau setiap detik. ibuku mainstream bagiku. ibuku mewariskan semua ciri fisik dirinya kepadaku, itulah mengapa dia begitu mainstream. ibu mengajarku mencintai kucing dan tumbuhan. cara hidupnya ada dalam diriku, makanya dia mainstream bagiku. ibuku sama dengan diriku. mengapa perlu hari khusus untuk mengingat mengingat kebenaran yang nyata?


Alfa adalah Api

Manusia memang makhluk yang sempurna. Dikatakan dalam kitab-kitab Samawi – saya tidak menyebutkannya karena alasan keliman -, bahwa Tuhan menciptakan satu sifat dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluknya yang lain: kebebasan. Pembuktian ilmiah, secara psikologis, manusia memang memiliki kehendak. Selalu ada kehendak bebas dalam diri manusia untuk memilih. Pilihan paling pertama adalah hidup atau mati. Yang memilih hidup tentulah sekarang sedang bekerja dan mempertahankan asupan gizi bagi dirinya sendiri, yang memilih mati, entah dia yang bunuh diri atau dia yang menyengsarakan diri sebelum mati.


Para manusia yang berkehendak untuk mempertahankan diri kemudian dihadapkan pada pilihan-pilihan turunan, yang lebih kompleks. Dalam proses  pembentukan karakter pribadi, seseorang selalu memiliki pilihan. Pakaian sederhana atau pakaian mewah. Makanan mahal atau makanan yang murah. Bersekolah atau tidak. Memimpin atau dipimpin. Yin atau yang.

Secara pribadi, manusia memiliki kehendak untuk menjadi si protagonis atau si antagonis. Mudah saja. Pilihan terus dibuat lurus dengan cara lebih sering mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak. Orang-orang tipe ini adalah mereka yang tampak seperti pecundang. Berkali-kali disebut bodoh karena memikirkan orang lain cenderung berakhir pada kondisi menyakiti diri sendiri. Kebalikannya, mementingkan kebutuhan pribadi melahirkan konsekuensi kerusakan bagi pihak-pihak lain. Dan secara social, tindakan ini disepakati menjadi sebuah kesalahan beretika. Pelakunyalah yang antagonis itu.
Dalam konteksi bertahan hidup, setiap hari, manusia memiliki banyak pilihan. Kadang menjadi protagonis, kadang menjadi si antagonis. Kadang-kadang pula, demi hasil terbaik, seseorang harus melakoni kedua peran ini. Membuatnya disebut si muka dua. Mungkin tak masalah bermuka dua jika sebenarnya sedang memperjuangkan kepentingan orang banyak.

Saya berkali-kali harus melakukan tindakan ini. Berpura A di sini dan berpura B di sana. Lantas siapakah diri saya? Saya adalah manusia berwajah seribu. Berat menjadi seorang manusia yang memiliki kesensitifan tinggi pada sekitarnya. Mungkin ini sebuah berkah. Saya dan kamu diberi kemampuan memahami situasi lebih cepat dan lebih detail dari orang lain. Dalam sebuah kerja tim, tipe manusia seperti ini adalah si pemimpin.

Sekali waktu, saya akan tampak sangat polos. Mempertanyakan banyak hal, tersenyum pada apapun dengan tingkah yang membuat orang lain tak mencurigai motif asli saya. Dalam kesempatan lain, saya akan bertindak sebagai orang yang paling sok tahu, cenderung tegas, dan kasar. Lain kesempatannya lagi, saya berperangai berada di antaranya, berarti tidak memedulikan apapun. Mengedepankan apatisme.

Sikap ini lah yang disebut “pandai membawa diri”, memiliki pembawaan yang baik. Namun pembawan diri yang baik sekedar untuk tujuan kesuksesan bersosial agaknya kurang pantas terus dipertahankan. Setidak-tidaknya, sikap ini dapat membuat kita bosan. Saya bisa saja menjadi anak manis, yang patuh, lurus, dan tidak berambisi apapun. Tidak juga memerintah. Tidak juga memimpin banyak orang melakukan sesuatu. Saya bisa saja membuat segalanya tidak bergantung kepada saya. Dan saya tidak bergantung kepada apapun.

Namun, apakah itu kemudian menjadi pilihan yang pantas bagi kita yang diberkahi kemampuan untuk membaca urgensi social lebih dari orang lain? Ketika saya memilih menjadi antagonis, saya mungkin dapat dengan mudah memanipulasi sekitar demi kepentingan saya sendiri. Pilihan lain, saya dapat memanfaatkannya untuk melakukan keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan bagi kemaslahatan seluruh makhluk hidup.

Namun, di saat-saat sacral, pertanyaan ini biasaya muncul tiba-tiba. Apakah saya dan kamu yang merasakan hal yang sama untuk berkehendak menjadi pahwalan? Benarkah? Ataukah kita hanya sedang menerima apa yang disebut kodrat dan menjalankan tugas kita?

Renungkanlah kembali siapa dirimu sebernarnya, mengapa kamu diciptakan, apa fungsi dirimu bagi dunia ini. Pertanyakan mengapa kamu terlahir belakangan, mengapa kamu anak kesekian dari sekian bersaudara, renungkan mengapa kamu lahir dari rahim yang itu, renungkan mengapa jalan hidupmu berada dalam jalur yang sekarang?

Tidakkah semua jawaban itu memberimu kepada satu kesimpulan: kedirianku. Kedirian dan fungsinya di muka bumi. Setidaknya dalam satu kelompok manusia terkecil, ada 5 karakter manusia yang berbeda-beda. Dari 5 itu jika terintegrasi akan membentuk satu tim kokoh untuk melakukan sebuah perubahan. Tentu saja, ada pemimpin di antara mereka. Bukan dia yang yang memproklamirkan diri atau semata didukung oleh ketinggian derajat keturunannya, tetapi dia yang mampu menyatukan suara yang berbeda-beda dalam kelompok tersebut. Tanyakan pada dirimu, apakah kamu sang alfa atau bukan?

Jangan takut menjadi alfa. Alfa adalah api. Adalah pengobar semangat. Adalah dia yang menjadi junjungan manusia lain. Juga menjadi yang bertanggung jawab atas segala tindakan baik dan buruk kawanannya. Alfa bukan si penyombong. Alfa justru merupakan si kambing hitam dalam rimba raya. Sementara kambing hitam yang sebenarnya adalah yang kau lindungi.