Semesta

Hati merupakan singularitas yang kelam, seperti langit dan lubang raksasa itu. Seperti mata dengan bagian tengahnya. Hati adalah semesta. 

Aku memiliki semesta yang lapang. Tempat sehamparan kasih sayang kupelihara. Tempat segala resah berpulang. Dalam nyanyian degub, degub kerinduan. Semestaku adalah kesabaran, menanti si pengembara dari perjalanan menemukan dirinya.  

Om Bob dan Surga Kecilnya

“Aku percaya, surga memiliki keindahan yang tak dapat dicapai alam pikir manusia. Namun, Tuhan menjatuhkan potongan-potongannya ke bumi agar manusia dapat menikmatinya semasa hidup. Salah satu potongan itu jatuh di pantai-pantai Makassar. Sementara uncle Bob, sukarela mengelola surga kecil itu untuk kaum merah-kuning-hijau”

Dalam hidupku, aku berusaha membaginya sama adil untuk tiap kesenanganku. Menulis, membuat film, dan bercinta. Bertualang merupakan benang merah ketiga doping-ku ini. Demi bertualang, aku dapat mengorbankan apa pun.

“Terkadang, petualangan paling menarik adalah yang tak terencana”

Seminggu belakangan -- mungkin karena keputusanku meninggalkan begitu banyak tanggungjawab yang sudah menumpangi tubuhku selama beberapa tahun-- aku merasa sangat bosan. Walau tetap kubuat keseharianku seacak mungkin, tetap saja bosan dapat menyergap. Sepulang operasi Leang Puteh, aku mendapatkan banyak lingkaran baru, yang lebih berwarna dari lingkaran lamaku. Salah seorang manusia, yang kini menjadi partner in crime baruku, kupanggil Begal, mendapatkan sms dari anak pantai Lae-lae, saat ‘high’ kami menurun. Anak-anak pantai itu rindu padanya. “Yuk, ke Lae-lae malam ini!” ajaknya.


Dengan kargo pendek, eiger pinjaman, kemeja flannel, dan sling bag yang telah menempel di tubuhku selama dua hari, aku mengiyakan ajakan si Begal. Ia memasukkan tenda, matras, headlamp, dan pakaian ganti ke dalam drybag hijau andalannya. Kami siap berangkat.

Aku dan Begal mengendarai motor trail pinjaman (entah didapatkannya dari mana, karena Begal mengendarai CB klasik) menuju dermaga Kayu Bangkoa, di jalan Pasar Ikan, dekat Makassar Golden Hotel. Tak lama menunggu, Sandi, salah seorang pemilik Speedboat siap mengantar kami menyeberang ke pulau Lae-lae.

Arsitektur penerangan sepanjang pelabuhan Makassar, Pantai Losari, dan Jalan Penghibur tampak menakjubkan dari jarak 1,5 km dari bibir daratan. Gedung-gedung tinggi tak berjejer rapi seperti dalam poster iklan pariwisata Makassar di google. Tampak apa adanya, sederhana, namun penuh misteri. Seolah kota itu tengah berujar, “Kami baik-baik saja dengan kondisi ini, jangan polesi kami jadi menor,” aku menghela nafas panjang. Ketakutan tampak menyelimuti kotaku.

Puluhan anak-anak pantai menyambut kami di dermaga utama. Sandi berjanji akan menjemput kami besok malam. Aku dan Begal berjalan kaki ke arah timur pulau, tempat karang pemecah ombak sepanjang satu kilometer berada. Karang ini menjadi titik wisata utama Lae-lae. Melewati jejeran pohon tinggi dan balla-balla, dibangun area bersantai sepanjang 20 meter oleh seorang pemuda pantai hebat bernama Bob Samalona. Baiklah, beliau memang sudah tidak muda lagi. Akan tetapi, caranya memandang hidup dapat membuat anak muda merasa cukup tua untuk berada di dekatnya. Kami di sambut uncle Bob di gerbang masuk, ia ditemani beberapa anak pantai dan sepotong ukiran kayu berbentuk kepalanya sendiri.





Oktober 2014 lalu, uncle mengadakan acara bersama puluhan musisi Makassar lainnya. Beliau memang dikenal sebagai musisi reggae senior (silakan lihat karya-karyanya di youtube). Band-band anthem Makassar, seperti Galarasta dan Melismatis ikut serta dengan sukarela dalam event yang uncle adakan, bertajuk “Sunset to Sunrise”. Tahun ini, uncle berencana mengadakannya lagi. Untuk itu, tampaknya uncle tak butuh banyak bantuan dari orang-orang di daratan Makassar.

Uncle Bob telah mengumpulkan alat dan bahan untuk membangun venue-nya: Bob Beach. Area pemecah ombak yang sudah indah, ia tambahkan sedikit pemanis, dengan rumah pohon, net tents, pagar-pagar dari kayu, hammock buatan, stage, pahatan kayu, balla-balla dari bamboo, dan meja berhiaskan kerang-kerang mutiara.







Ia mendatangkan sendiri, potongan-potongan kayu, bamboo, dan peralatan yang dibutuhkannya entah dari mana. Orang-orang di pulau tak pernah heran dengan kemampuannya, Uncle telah dikenal sebagai semacam waterman, yang dapat merenangi jejeran pulau spermonde tanpa bersusah payah. Uncle pernah berenang dari Lae-lae ke Samalona, tempat ia berjodoh dengan istrinya yang sekarang.

Uncle Bob memberi kami kuasa untuk menggunakan pantainya sesuka kami. Begal pun memasang tenda agak menjorok ke laut, tepat di sisi balla-balla. Aku mengeluarkan ransum ke atas meja, mengatur paket untuk makan malam dan sarapan. Uncle akan kembali, membawa sesajen khas agamanya. Tetapi, uncle tak tahu kami membawa sesajen kami sendiri. Yah, bakar satu biar laper dulu!




Sayangnya, Bob Beach belum dapat memiliki penerangan yang cukup. Mungkin uncle sedang mencari cara selain mendatangkan genset raksasa dari daratan. Sumber listrik di pulau juga terbatas, para penduduk baru dapat menikmatinya saat malam tiba. Di siang hari, hanya fasilitas utama yang mendapatkan listrik, sekolah misalnya.

Semalam Tidak di Bumi
Uncle kembali bersama beberapa anak pantai. Rata-rata masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kami berbaring dalam net tent pribadinya, menikmati panduan navigasi utama para pelaut di permukaan langit sana. Weeds berpindah dari jemari ke jemari. Uncle secara sengaja menjatuhkan pocongan yang sisa sepotong ke pasir. Salah seorang anak memungutnya. Uncle membiarkan anak itu menghirup asapnya yang membahagiakan. Begitulah cara uncle mendidik para anak pantai. Bukan hal yang pantas mengajari anak kecil merokok, tetapi bagi uncle, merokok bukan alat ukur hati manusia. Ia berkata, anak-anak pantai ini tidak boleh tumbuh jadi pribadi-pribadi lembek. Dalam jadwal yang tak teratur, uncle mengajari mereka berenang, snorkling, dan diving secara cuma-cuma. Aku melihat anak-anak pantai itu ibarat pengikut seorang nabi, nabi kecil yang diutus ke pulau kecil.




Uncle membagi banyak cerita pada kami. Tentang dua gadis dari Bone yang menyempatkan diri mengunjungi surga kecilnya, tentang dua gadis lain yang membawakannya ponsel smartphone berkemampuan rekam video yang cadas, tentang bule-bule yang pernah ia dampingi dan tetap menjadi temannya hingga kini. Begal bercerita bahwa istri pertama uncle adalah seorang wanita bule. Aku mencoba menghubungkannya dengan jalur hidup uncle sekarang, yang kosong tapi berisi. Akan tetapi, kisah ini mungkin bakal jadi kisah film televisi murahan.




Uncle tak suka jika anak-anak pantai, atau siapapun yang pernah berkunjung ke pantainya dan merasa sungkan untuk melakukan apapun dalam area itu. Uncle ingin setiap orang merasa memiliki Bob Beach, setiap orang memperlakukan inspirasi yang ditemukannya dengan baik. Singkat cerita, uncle ingin anak-anak pantai dapat menemukan dirinya dalam Bob Beach. Area relaksasi yang dibuatnya ini adalah cara Uncle Bob berbagi surga kecil yang dititipkan padanya.




Aku menuliskan penggalan cerita ini di bawah pohon mangga, di halaman studio Inkmotion Screenprinting, tempatku menghabiskan waktu-waktu selow sebulan ini. Semoga teman-teman Inkmotion sempat menemui uncle Bob sebelum surga kecil di pucuk pulau Lae-lae ini disentuh tim dekorasi proyek CPI.





Lost and Fun di Pantai Bara



Dua ekor anjing ras mixed what-what yang merekatkan kami, tiga petualang sejati. Tersebutlah si Dwiky (lebih sering dipanggil Opa) yang akrab dengan anjing sejak kecil. Kemudian, Nila si gadis dangdutan sejak dahulu kala ngidam memelihara anjing, dan aku si tante kegirangan yang pada dasarku suka binatang, kucing atau anjing. Jadi kami bertiga memelihara seekor Beagel mixed what-what bernama Mandang (nama yang diambil dari sebuah akun facebook terkenal) dan Betty si Norrbottenspets also mixed what-what. Nila mamaknya Mandang dan Betty, Dwiky bapaknya Mandang dan Betty, aku tante kue mereka. Ya begitulah.

Cerita ini bermula di kontrakan Nila, di area pemukiman paling padat di daerah Tamalanrea Makassar. 2013 kemarin, Awalnya aku yang nebeng tinggal di sana, kemudian Dwiky sering datang membawa Betty bermain dengan Mandang. Entahlah, mungkin urutannya kebalik. Pokoknya aku lupa-lupa ingat, karena kadang over bahagia bisa bikin hangover dan amnesia. cerita berlanjut ke 2015. Baru-baru ini, kami bertiga tersesat bahagia di Pantai Bara. Dwiky menyebutnya “Into The Wild”, Nila menyebutnya “Lost and Fun”, aku bilang sederhana saja, “Menjauh dari kerasnya hidup di Makassar”.

Sebenarnya Aku dan Nila lagi tidak pengen liburan keluar kota, karena sumpah kantong kami lebih tipis dari rambut dibelah tujuh. Dwiky juga lagi kere sih. Untung ada Bang Ego (paman Dwiky, usianya 2 tahun lebih tua dari Dwiky, 5 tahun lebih tua dari aku, dan 9 tahun lebih tua dari Nila. Itulah pokoknya. Bang Ego niat isi liburan mancing di pantai Bulukumba. Dwiky yang memilih destinasi Pantai Bara (adik Pantai Bira yang tersohor). Pantai Bara jadi special karena diperuntukkan untuk Diving dan Camping. Catat, bukan untuk mancing.

1 Agustus 2015, kami berangkat dari Perum. Tamarunang, Gowa (dari rumah Nenenk Dwiky) dengan dua sepeda motor. Dwiky boncengan dengan Bang Ego membawa satu carrier 60 kg, satu daypack dan seperangkat alat pancing. Nila dan Aku boncengan membawa satu daypack dan Betty. Oh, iya Mandang sudah wafat tahun lalu. Perjalanan santai kami menghabiskan waktu kurang lebih 6 jam dengan satu kali singgah di rest area Jeneponto.

(gambar menyusul)

Sekilas tentang Jeneponto, kampung Turatea. Area ini paling kering di antara kabupaten-kabupaten pesisir timur Sulawesi Selatan. Banyak tambak garam, kuda, pedati, dan jagung. Inilah kampung halaman gubernur Sulawesi Selatan dan menurut cerita nenekku, dulu menjadi daerah ribuan pasukan dan bangsawan. Makanya di daerah ini banyak kuda dan rumah panggung Saoraja yang bertingkap tiga.

I don’t wanna get too far. Jarak Makassar ke Bara kurang lebih 200km. Jarak ini cukup untuk membuat tulang punggung remuk. Rest area tempat kami sarapan dan menenggak gelas kopi pertama kami disebut Boyong, salah satu objek pariwisata kabupaten Jeneponto. Sebagai sentra bisnis, area ini memiliki Water Boom, wisata Tambak Garam, dan tak lupa coto Kuda yang… ah, kalian para cowok ngertilah.

Tapi kami tidak mencicipi coto kuda, lantaran Betty tampaknya tak sabar ingin berenang di laut. Perjalanan segera kami lanjutkan. Kami mengendarai sepeda motor tanpa henti dengan kecepatan santai 60 km/ jam. Kami tiba di kawasan pantai Bulukumba tidak lewat dari pukul 2 siang. Untuk mengembalikan punuk pantat, kami beristirahat sejenak di rest area Pelabuhan Bira.

di depan pelabuhan Bira

Agaknya kedatangan kami kurang tepat, sepanjang pesisir Bira sedang menderita kekurangan air tawar, lantaran musim kemarau sedang memuncak. Berkali-kali kami melihat mobil pick-up melintas, membawa satu atau dua reservoir. Aktivitas pelabuhan juga sedang sepi. Pelabuhan Bira merupakan tempat merapat kapal-kapal ke Pulau Selayar hingga ke Labuan Bajo.


Pantai-Pantai di Bira
Kalau dijejer dari jalan utama, Pantai PanrangLuhu yang pertama ditemui, kemudian pelabuhan Bira, selanjutnya Pantai Bira, kemudian Pantai Malboro, dan yang paling ujung adalah Pantai Bara.  Lainnya ada pula Pantai Appalarang yang sedang anthem itu.

Karena kami bertiga termasuk Alien local, kami tidak mencari objek wisata primadona. Kami memilih Pantai Bara yang terpencilkan di ujung tebing. Setelah menempuh jalan sempit sejauh 1 km, kami tiba di bibir pantai yang juga sempit. Tidak banyak orang (mungkin segera ramai setelah tulisan ini aku publikasikan), camp tent berjejeran, lapakan penduduk local hanya sepetak, ada satu cottage, dan beberapa bule yang sedang naik ke daratan. Tampaknya, beberapa puluh meter dari bibir pantai terdapat objek snorkeling yang menarik.

Kami bergegas mendirikan tenda di bagian paling ujung Pantai, tepat di bawah karang yang membentuk cekungan. Kami pikir, tak perlu dekat dengan toilet umum dan sumber logistic. We just wanna feel a little wilderness for some days. Inilah tenda kami.

(gambar menyusul)


Lulur Pasir Putih dan Betty yang Konyol
Bang Ego bilang pasir pantai putih berkhasiat layaknya lulur yang dijual di toko. Plus, air laut dapat segera menyembuhkan luka termasuk jerawat tentunya. Sehabis berkata seperti itu, Bang Ego dan Dwiky berlari nyemplung ke laut, aku buru-buru ganti pakaian buat basah-basahan. Meninggalkan Nila yang sibuk mengajak Betty keliling pantai.

Bang Ego pun sibuk menggosok punggung Dwiky yang penuh rajahan. Sementara si Dwiky keenakan dilayani paman sendiri. Aku mencari pasir terlembut di dasar pantai dan membalurkannya ke seluruh tubuh dan wajahku. Sembari menunggu khasiatnya meresap, kuapungkan tubuh di air. The feeling was amazing.

Setelah membersihkan tubuhnya, Dwiky mencari Betty. “Betty berenang…. Betty berenang!” si Dwiky bersenandung sambil menggendong anaknya memasuki air. Aku bergegas membersihkan tubuh pula dan mengambil DSLR di tenda. Nila? Well, we had no idea where she was.

Satu, dua, tiga, Dwiky melepas Betty di ujung pecahan ombak dan ternyata anjing mixed what-what itu takut air laut!

(gambar menyusul juga, yaah)


Senja Hilang dan Purnama Rekah
Sehabis luluran, berenang, memandikan Betty, membangun tenda, kami menenggak kopi senja di sisi tenda, di dekat hammock yang terpancang di antara karang. Sayangnya, matahari senja bersembunyi di balik karang, di belakang punggung kami. Sementara di bentang air di hadapan kami hanya ada ombak bergulung-gulung, cahaya yang memudar, dan angin kemarau dari laut.

“Senja berada di Losari, aku lupa” Kataku. Walau sedikit kecewa karena kebodohan sendiri, kami tetap bahagia karena kopi panas benar menghangatkan kami. Betty pun tampak senang di sisi tebing. Nila? Dia sibuk selfie. Maklum, baru kenal Iphone.

selfie terbaik dari 1000 selfie Nila

Kemudian hari berlalu dengan demikian cepat, diganti malam yang hadir perlahan. Kami (kecuali Nila) mengganti pakaian dengan yang kering. Bang Ego memanjat ke hutan di atas tebing, mencari kayu bakar. Aku membereskan lemari alam kami. Dwiky mempersiapkan makan malam. Maklum, sedari berangkat tadi, kami belum juga makan. Nila? Adik kesayangan kami itu sibuk berayun di atas hammock, menikmati angin malam dan kesepian jiwanya. Aku berharap, saat kutuliskan cerita ini, dia pun sedang merancang outline versinya sendiri.

Seolah Tuhan ingin membayar kekecewaan kami, Dia menerbitkan purnama yang dekat, kuning, dan bulat sempurna. Kami bersorak. Semakin semangat Bang Ego hendak memancing. “Tunggu airnya pasang lebih tinggi, kita pesta ikan bakar malam ini!” serunya.


Tragedi Daypack Pinjaman
Inilah fragmen paling menyedihkan dalam tulisan ini. Well, aku membukanya dengan sedikit aib. Karena buru-buru ingin lost n fun, aku lupa membawa rangkapan pakaian dalam. Jadinya, terpaksa, aku harus menitip belanjaan pakaian dalam kepada seorang teman (?) yang kebetulan akan reunian di Bara juga malam itu. Dengan sisa baterai ponsel pinjaman dari Nila, aku menghubunginya. Jeleknya, jaringan benar-benar menjengkelkan. Ponselku segera mati total, begitu aku tertidur menunggu balasan bbm.

Di saat yang bersamaan, Nila entah berada di mana bersama Betty. Sementara Bang Ego dan Dwiky memancing 20 meter dari tenda. Aku terbangun saat Dwiky berseru, “Kapan lagi kau nikmati makanan seharga 100ribu di restoran, Nila? Makan ki .. enak ini bulu babi,” ternyata, mereka tidak berhasil mendapatkan seekor ikan pun. Mungkin karena guguran rumput laut yang esok harinya menutupi pasir pantai. Tidak ingin rugi, akhirnya mereka memungut bulu babi. Sore tadi, kawanan bulu babi itu memakan dua korban. Tenda kami jadi Tim Bantuan Medis pantai Bara. Nila, Dwiky, dan Bang Ego membantu mengeluarkan duri si bulu babi. Ada tips menarik, kalau ingin lekas sembuh dari penderitaan tusukan bulu babi, kencingi area yang tertusuk! Kata Bang Ego, luka tusukan segera membaik sehabis dikencingi.

Aku terbangun dengan, iya, perasaan tidak enak di bagian bawah perut karena dalaman yang basah. Ponsel yang mati total perlu segera dinyalakan, supaya dapat kabar dari si temanku itu. Akhirnya aku mengajak Nila ke warung di dekat pintu masuk pantai, mencari colokan untuk charging. Agak mahal sih, Rp 10.000 hingga baterai ponsel penuh. Sembari menunggu charging-an, barangkali ada satu jam lebih. Aku juga agak memaksakan charging ini, karena kerjaanku jadi melambat gara-gara ponsel dan jaringan yang bermasalah. Cottage di atas tebing pun sudah sepi, jika saja aku bisa meminjam wifi di sana dan menyelesaikan laporan kerjaku, jika saja. Padahal baru pukul 10 malam.

Aku dan Nila kembali ke tenda 1 jam kemudian. Dwiky dan Bang Ego ternyata belum menyerah, mereka kembali memancing. Kerjaan dan pakaian dalam pun beres. Aku menyalakan kembali api unggun di depan tenda, udara malam saat itu sungguh menggigilkan. Bang Ego dan Dwiky kembali ke tenda dengan ember kosong. Sejenak kami duduk melingkar di depan api, tidak membicarakan apa-apa. Tidak memikirkan sesuatu pun.

Ketika Bang Ego beranjak mencari tisu basah (mungkin doi sedang kebelet pengen bab), Bang Ego kaget tisu basah tidak berada di tempatnya, di celah tebing. Kami mencari benda itu bersama-sama dengan bantuan headlamp dan flashlight ponsel masing-masing.

“Lho, ke mana semua tas kita?” seruku. Daypack aku dan Nila, daypak Bang Ego dan Dwiky tidak berada di antara bebatuan. Kami mencari ke sana kemari, dan tidak ada. Rampok pasti. Kami segera berpencar. Nila dan Betty menjaga tenda, Dwiky menelusuri hingga ke ujung selatan pantai, sementara aku dan Bang Ego mencari ke hutan di atas tebing. Kami mengintari semua jalan setapak dan halaman cottage, camp area, hingga ke spot buat barbeque-an di bagian utara. Tidak ada jejak yang ditinggalkan tas itu. Aku dan Bang Ego kembali ke tenda dengan sekantung sabut kelapa, seikat kayu bakar, dan beberapa kantung kresek yang bertebaran di sana.

“Lumayan, setidaknya lelah kita bisa terobati dengan kehangatan,”

Nila dan Dwiky tertidur di dalam tenda, barangkali dengan perasaan campur aduk. Betty terikat di antara tebing, ia pun tertidur dengan perasaan yang tak dapat kami baca. Sementara aku dan Bang Ego menjaga api tetap menyala, hingga kantuk memanggilku. Kedua daypack tersebut entah berada di mana. Ikhlas itu sulit.


Makan Siang dengan Tai
Hari kedua di Pantai Bara, kami mulai pada pukul 9.30 pagi. Tragedi semalam memaksa kami tidur lebih lama dari rencana. Belumlah sempat cuci muka dan sikat gigi, Bang Ego dan Dwiky telah melempar kail ke tengah laut, dengan harapan dapat membakar satu-dua ekor ikan untuk makan siang. Aku mengenakan kaos pantai kesukaanku dan bergegas menyusur pantai, mencari pesanan Claren (si monyet Toraja), yaitu beberapa ekor Kalomang. Lupakan Daypack dan segala isinya yang hilang. Toh, pakaian dapat kami adakan kembali di Makassar nanti.

Memulung Kalomang

Para lelaki telah mengemas 50% peralatan camping, hingga tersisa tenda dan peralatan masak. Dwiky memindahkan hammock ke tebing di sisi kiri camp, tepat di bawah cerukan yang lebih menjorok ke pantai. Rupanya, jika siang hari, area camp kami disinari matahari terik. Bang Ego berhasil mendapatkan seekor ikan. Dwiky meminta Nila memasak Nasi sementara ia sendiri membakar ikan tersebut dengan bara api sisa semalam. Aku sibuk mengemas beberapa ekor Kalomang ke dalam botol plastic bekas air mineral.


Don’t Leave a Mess on the Beach
Dari Makassar, Dwiky membawa kantong kresek hitam buat ngepak mayat korban mutilasi. Aku menggunakannya untuk mengumpulkan semua sampah pelastik di sekitaran camp area kami. Sementara itu, Bang Ego membakar hasil pulunganku di antara tebing. Masakan siap, camp sudah bersih, saatnya makan siang.


dwiky sebagai anjing beagel jadi-jadian, sedang berlagak kecakepan di atas hammock, sehabis makan siang

“Nil, mau lihat selfi-selfie ku tadi?” Nila berseru pengen. Dwiky memperlihatkan gallery Nikon milik Nila. Benar-benar selfie seonggok tinja yang cokelat eksotis. Dwiky tertawa pecah. Kami tertawa pecah. Sepasang mata Nila berkaca-kaca. “Kerjai terusma, orang tua…. Aaa… aaa….”


(gambar nyusul, nyeet) 


Kembali Makassar
Bang Ego seorang pegawai bank, Dwiky seorang Koki harus segera kembali ke Makassar mengurus volks wagen yang disulapnya menjadi Food Wagen. Aku kini, seorang promotional assistant dibebani tugas segera kembali ke kota besar demi jaringan internet cepat. Dan Nila, kemarin dia melamar kerja part-time sebagai ranger di salah satu coffee shop and senin besok adalah hari pertamanya masuk kerja. Rasanya ingin menghabiskan satu malam lagi di Bara, namun kami harus kembali menyesakkan diri di Makassar.

Kami meninggalkan Bara sekisar pukul 2 siang. Betty sepertinya senang dapat menjauh dari debur-debur ombak dengan segera. Dia tak suka dikagetkan deburan ombak. Kami menyusuri jalur yang sama menuju Makassar: Bulumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar. Dengan jarak 200 km yang sama.

Di perbatasan Bantaeng-Jeneponto, kami singgah sejenak mencicipi kopi hitam local dan tentu saja, menemukan jaringan internet. Dwiky kembali menunjukkan foto tinja eksotisnya kepada Nila, sembari aku dan Bang Ego merencanakan trip bulan depan. Aku mengajaknya mengujungi kampung nenek moyangku di lembah Lompobattang, sebuah desa bernama Parangkeke. Lembah yang sangat subur, sejuk, dan kaya akan hasil bumi. Aku berencana membawa pulang beberapa kentang besar dan tembakau Malakaji, nantinya. Bang Ego tampak antusias.

Masih ingat temanku yang kutitipi dalaman? Ternyata temannya menemukan salah satu tas kami di dalam hutan. Kami bersyukur sebab tas itu ternyata tas pinjaman. Bahkan dua hari setelahnya aku baru tahu kalau Dwiky menculik tas itu saat pemiliknya sedang tidak di rumah. Beberapa hari berikutnya, Dwiky bercerita kalau dia menyimpan ratusan ribu uang di dalamnya. Uang itu untuk membayar utang kepada seseorang. Tragedy!

daypack yang diculik itu


Dua Pengalaman Mistis
Saat aku dan Nila menunggu charging-an di warung, ia mendengar kikikan perempuan dari dalam hutan dan melihat sekelebat bayangan melintas di belakangku. Dia baru menceritakannya padaku setelah aku menceritakan pengalaman mistisku bersama Bang Ego malam itu:

Sehabis menyusuri hutan, aku dan Bang Ego tidak sengaja memasuki area sebuah villa yang sudah reot. Kami disambut semerbak wangi melati. Wangi tersebut hanya dapat dihasilkan dari satu kebun bunga melati, tidak dari sebatang tanaman melati. Kami mendekati villa yang berbentuk rumah panggung tersebut,  berharap menemukan salah satu dari daypack kami di kolong rumah. Belumlah sempat berdiri di ambang villa, wangi melati semakin menyengat. Bang Ego mengarahkan senter ke sekitaran villa dan berkata “Tidak lihat ka satu pun tanaman melati,” kami melangkah mundur, menjauh dari tempat tersebut dengan langkah cepat.

Villa ini bersisian dengan cottage ter-mewah di Pantai Bara, saat siang hari tampak hanya seperti bangunan rusak pada umumnya dan banyak turis yang memarkir mobil di halamannya. Sepertinya kikikan perempuan yang Nila dengar berasal dari tempat itu.

(cerita ini akan kulanjutkan setelah ingatan detailku kembali dan foto-foto kami sudah pindah ke dalam laptopku. berikut beberapa yang sempat terkirim via line)

AlieNilEkiOki


ditulis oleh Rezkiyah Saleh Tjako


get some, i'm good i'm gone, dance-dance-dance

aku mendengarkan Lykke li, dance-dance-dance
sambil duduk, sepasang penjalan di bawah sana bersenang-senang di porosnya
mereka bahagia, akan segera dilangkahkan
menjejalkan diri di atas tanah-tanah yang cemburu
tanah-tanah pendengki,
surat-surat akan segera terjawab dengan kedatangan

aku mendengarkan Lykke li, get some
dari seorang prostitusi murahan yang makan dari secuil kasih sayang
mereka akan mendapatkan yang lebih
dari hari-hariku yang semakin lapang, semakin panjang
mereka akan dibayar

aku mendengarkan Lykke li, I'm Good I'm Gone
yang baik-baik tak bertahan lama,
kalaupun begitu, yang baik akan berubah
digerus janji-janji dan nota kesalahpahaman
i'm good, i'm gone
perjalanan akan memulihkan,
i'm good,
i'm gone.

photo by @alienile





Kucing Hitam si Bung

model: Olong the Cat. Photo by admin

Tuanku, si Bung itu laki-laki bertubuh besar dan bersuara lantang. wajahnya tegas, namun teduh pada semburat senja dan lurik langit pagi. Ia melangkah dalam rima yang bijak. Ia berbicara dengan nada lagu-lagu Bond, tidak terlalu cepat dan berdiksi terpilih. Kepadaku, tuanku berbicara lemah dan lembut. Tuan pria tua yang rapih. Ia selalu mengenakan setelan kain yang habis disetrika dan wangi. Sepatunya pun selalu mengilat. Peci hitam dikenakannya setiap saat, baru saat mau tidur dan mandi ia lepaskan.

Aku menjadi bagian keluarganya lewat pintu dapur. Saat itu, pintu dapur terbuka setengah, karena wangi ikan goreng, aku yang sedang berjalan-jalan di pekarangannya tertuntun memasuki pintu. Tuan membiarkanku masuk pintu, mendekati piring berisi ikan-ikan habis digoreng, namun melarangku menyentuhnya. Ia memilih sepotong ikan yang paling besar, meletakkannya di atas piring kecil, lalu menyodorkannya padaku. Aku menikmatinya sambil dielus-elus jemarinya yang besar-besar.

Sebagai seekor kucing dengan bulu-bulu yang tidak menenggelamkan jemari, kehadiranku tidak berpengaruh banyak di sini. Misalkan Pusi, kucing si jenderal, ketika ia tidak sengaja dibawa ke mari oleh anaknya – saat itu, anak jenderal ikut ayahnya ke mari, singgah sebentar sebelum dibawa ke dokter hewan-, Pusi bercerita kadang-kadang jenderal menangis di hadapan pusi, bercerita betapa rendah dia di mata tuan Bung saat membahas masalah penting. Tuan Bung dan aku tidak pernah terlibat dalam suasana meluap-luap begitu, paling-paling ia melihatku melintas dari dapur ke ruang tengah, mengelusku jika sempat, dan tidak ada lagi kejadian setelahnya.

Pusi melanjutkan cerita, pernah jenderal terlambat ke lokasi penting lantaran belum selesai menyisirnya. Pusi senang memiliki pengaruh sebesar itu pada manusia penting. Ah, dia kucing sok. Disangka bulu tebalnya dapat menyelamatkan jabatan tuan jenderal. Jenderal cengeng itu dipecat tuan Bung kemarin pagi karena terlambat tugas atas alasan yang tidak ada hubungannya dengan urusan negara. Selanjutnya, aku tidak pernah bertemu Pusi lagi. Semoga dia masih dapat mengeluarkan bola bulu dalam perutnya.

Itu dia tuanku Bung, dia berlajan ke arahku. Dia meletakkan peci hitam di atas meja, masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air. Ini kesempatanku. Tidak ada orang lain di antara kami, aku akan menunjukkan diri padanya, untuk mengucapkan, “Aku bersamamu, tuanku,”. Tuan Bung keluar kamar mandi, ia terpaku melihat tubuhku yang hitam dan mataku yang kuning kemerahan. Pupilku membesar tiba-tiba karena tuan berdiri membelakangi jendela.

Tuan berlutut, membuat jarak yang lebih dekat padaku. Ia menyodorkan tangannya, langsung saja kusodorkan hidungku pada jari tengahnya yang gemuk dan tegas bercincin giok. Tuan Bung tidak canggung padaku, dahi dan punggung telingaku diusapnya lembut. Permukaan tangan bung agak kasar. Wangi tembakau dan bau badan manusia tua menyebar. “Meong”, sapaku.

Tuan tersenyum. Kemudian berlalu ke mushallah, tempat ia biasa menyembah tuhan yang kusembah pula. Caraku menyembah tuhan yang itu tidak dengan gerakan naik-turun. Aku menyembahnya dengan menatap langit dalam-dalam, seperti ingin kuterbang padanya. Aku duduk di sisi karpet sembahyang tuan Bung sampai ia selesai mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah, dan kuikuti ia menuju kamar tidur. Kurasa tuan akan beristirahat siang sejenak. Tuan bangun dua jam kemudian, itu kebiasaannya. Manusia dewasa tidur siang tidak selama kaumku. Kami sanggup tidur beberapa kali dalam sehari karena bergerak seperti ini sangat melelahkan. Apalagi, rumah tuan sangat luas dan penuh ruangan.

Tempat tinggal kami lengang. Anak-anak Tuan belum kembali dari sekolah. Istri Tuan Bung ada di halaman belakang, menyulam taplak meja. sementara, di ruang depan yang lapang, menumpuk beberapa rekan tuan, bercakap-cakap, serius dan berat. Tuan sembahyang pelan-pelan. Aku menantinya di atas sofa, menikmati tiap gerakannya.

Lanang beringsuk masuk lewat fentilasi, kemudian bertolak ke atas meja dari lemari, untuk bertengger dan memulai percakapan khas bangsa kami.
“Ada makanan sisakah di rumahmu?” Lanang menjilati kuku kelimanya.
“Rasanya tidak mau makan siang, rasanya mataku berat sekali,”
“Mewowowong... mewowowong... kamu sok seperti tuanmu,” Lanang menatapku sinis. Dia kucing kampung belang dua, hitam dan cokelat. Liar, tanpa majikan. Lanang iri pada kami, kucing-kucing kampung yang tidak sengaja diadopsi saat mengendap-endap di dapur.

“Meong!” Lanang mencoba menerkamku. Aku menghindar dan bersembunyi di sisi sajadah Tuan. Tuan menengadahkan kedua tangannya. Daging-daging di wajahnya merunduk, tetapi sepasang mata yang teduh itu menatap tajam ke sesuatu di atas sana. Aku dan Lanang beradu meongan, bulu-bulu kami merinding. “Kucakar tuanmu!” ancamnya. “Tuanku tidak bersalah apapun padamu,” aku mendesis.

“Dia ini sangat sombong, tidak pernah memberiku makanan, mengelus pun tidak pernah,”
“Tuan sedang berdiskusi bersama Tuhan. Tidakkah kau takut?”
Istri tuan berhambur masuk ke ruangan. Ada semesta gelap pada bias wajahnya. Aku dan Lanang mencari tempat sembunyi di bawah meja dan kursi. Tuan mengusap kedua tangannya dengan ketenangan. Majikan perempuanku membawa kabar bahwa jenderal-jenderal masih menunggu di teras. Tuan duduk di di atasku, istrinya gelisah.

“Aku sedang memikirkan kebajikan-kebajikan bagi semua orang di Sabang yang sama baiknya bagi orang-orang Dani. Fatma, menurutmu apa yang harus aku lakukan?” kata Tuan. Istrinya terisak. Lanang diam-diam meninggalkan kami. Aku membiarkannya dan berusaha memahami percakapan tuan dan istrinya.

Kami, bangsa kucing, tidak diberi kemampuan untuk memahami banyak hal seperti manusia. Kami mengenal manusia dari apa yang mereka lakukan di sekitar kami. Dengan alasan ini, tentu Pusi memiliki wawasan yang lebih luas, karena dia selalu diajak tuannya bepergian dengan kandang khusus. Aku hanya kucing kampung rumahan, bulu-buluku pendek dan selalu rontok. Aku bermain paling jauh ke pekarangan tetangga.

Tuan berpelukan dengan istrinya. Usia mereka sepertinya terpaut jauh. Istrinya masih muda. Aku melihatnya seperti kucing baru berumur delapan bulan, di dunia kucing itu seperti manusia berusia 20 tahunan. Walau masih muda, sepertinya istri tuan pandai dan dapat memberi nasihat yang baik. Menurutku, entah apa pekerjaan tuan, yang kupahami sekarang, jika berbicara tentang kebutuhan banyak orang, tentulah tuan seseorang yang sangat penting dan berpengaruh.

Aku beranjak menuju teras, barangkali ada yang dapat kulakukan selain membuka pupil mata lebar-lebar. Di teras, tiga pria berpakaian rapih duduk saling berhadapan. Wajah mereka serius dan tegang. Salah seorang di antaranya memegang map di atas meja. Ia menggerak-gerakkan jemarinya, telunjuk-jari manis-jari tengah, telunjuk-jari manis-jari tengah. Yang lain mengepulkan asap tembakau kencang-kencang, sampai mungkin rasa tembakau itu menjadi tidak penting lagi. Satunya lagi, tidak betah duduk berlama-lama, ia mondar-mandir, kemudian duduk lagi, begitu seterusnya sampai tuan keluar rumah dan duduk di satu-satunya kursi yang kosong.

Aku melangkah ke bawah meja, tepat di sisi kaki tuan. Aku bermanja-manja sebentar di kakinya, menggosokkan tubuhku lalu duduk. Tuan sempat menoleh kepadaku, tetapi air mukanya datar. Posisi kaki ketiga tamu tuan tidak santai. Kedua kaki mereka lurus ke depan. Sementara kaki tuan terbuka agak lebar. Tidak ada percakapan di antara mereka dalam waktu yang cukup panjang. Aku penasaran, apa yang terjadi di atas meja. Namun apa boleh buat, aku hanyalah seekor kucing, yang dapat melihat permukaan meja dari tempat tinggi saja.

Kulihat istri tuan mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia meletakkan kedua tangannya di depan dada, matanya yang tampak sebelah saja tidak berkedip menatap tuan. Siapa menunggu siapa, untuk apa menunggu, batinku.

Ada bau ganjil yang menyeruak, entah dibawa angin ataukah baru dibuat. Bau itu pahit, menusuk, bikin mual. Bau... bau yang muncul saat tuan membakar sebuah cerutu atau rokok gulungan dengan korek api. Bau bakar. Siapa yang membakar, apa yang membakar. Istri tuan, di balik pintu tampak kaget, kedua bola matanya membesar. Jelas itu bukan ekspresi minta dielus.

Bunyi antukan jemari dan meja semakin cepat dan jelas terdengar. Aku tidak duduk lagi. Telingaku menunjuk ke belakang semakin kencang. Bau itu semakin tajam. Sebuah benda cukup berat diletakkan pelan-pelan di atas meja. Benda itu mungkin penyebab bau bakar ini. Kedua kaki tuan bergeser, mempersempit jarak. Duduknya menegap lebih. Aku mendengar suara bolpoin menggesek secarik kertas dengan lambat. Begitu suara bolpoin itu berhenti, ketia tamu tuan segera pergi dengan mobil berwarna hitam yang diparkir di luar pekarangan. Tuan pun beranjak memasuki rumah, aku mengikutinya.


Tuan dicegat istrinya di depan pintu dengan pelukan. Istrinya menangis, tubuhnya bergetar. Tuan tidak membalas pelukan itu, ia malah meraihku ke pelukannya, aku dibawanya ke mushallah. Ia meletakkanku di atas kursi sebelum tuan menggelar kembali sajadahnya. Aku turun dari kursi, duduk di atas sajadah, di bagian yang nantinya akan tuan cium dan membasahinya dengan air mata, dan membisikinya dengan isakan.

Wonder Woman Membunuh Feminisme


“I prefer DC comics, bro” ini jawabanku untuk pertanyaan “Lebih suka mana, produksi Marvel atau DC? Wonder Woman dan Catwoman menjadi dua karakter andalanku sebagai pengukur. Wonder Woman diceritakan sebagai utusan rakyat Amazon yang benci disebut lemah untuk memburu Ares si Dewa Perang. Sementara Catwoman secara independen melawan industri kosmetik terkenal.

Kedua karakter ini memainkan peran heroik membela hak-hak perempuan, mulai dari pelecehan fisik hingga eksploitasi barang-barang dasar kebutuhan perempuan. Mereka menceritakan dongeng feminisme modern yang tidak diceritakan dalam buku-buku tentang common feminism yang dijual di toko buku besar.

Dahulu kala, para pemodal raksasa dunia memainkan ‘titah agama’ untuk mengekspansi wilayah-wilayah yang dianggap tertinggal untuk menjadi lumbung-lumbung padi mereka. Laki-laki, perempuan, anak-anak dipaksa bekerja tidak kenal istirahat untuk jayanya bendera-bendera tertentu. Karena jaman terus berkembang, yang neo-neo pun muncul. Peradaban neo mengarang dongeng feminisme berpesan moral: perempuan tidak lemah, hak kerja perempuan dan laki-laki sama, status sosial kedua gender sama, dan kalimat-kalimat persuasif lain yang menggoda perempuan untuk menggeser lemari sendiri dan beralasan untuk tidak menyusui anaknya.

Masa sebelum neo, kapitalis memberi racun pada pemimpin sebuah wilayah, di masa neo, kapitalis mulai menjaring umat. Saya setuju pada Heath and Potter bahwa radikalisme itu menjual. Perempuan-perempuan yang menganggap radikal itu keren, mulai berkumpul dan membentuk komunitas, berharap dengan itu dapat membela hak-hak perempuan di pedalaman Sulawesi bahwa tugas perempuan memanggul tandang pisang itu keliru. Harusnya wanita-wanita di sana yang memotong tandang dari pohonnya, karena perempuan juga kuat, karena aksi “memotong” menandakan kesetaraan gender. Padahal, menurut Iwan Sumantri, memanggul tandang pisang ke rumah justru telah mendekatkan perempuan pada hak-haknya. Tandang pisang dipanggul ke rumah, kemudian dikelola untuk dimakan atau dijual bagi keluarganya. Fakta ini malah menunjukkan hidup laki-laki di desa tersebut berada di bawah kendali perempuan, sebab mereka tidak memiliki hak untuk mengelola dan menjual si tandang pisang.

Pada cerita ihwal munculnya Wonder Woman, sebelum membunuh Ares, ia membunuh kekasihnya dahulu, Persephone si penghianat Amazon. Di ujung nyawanya, Persephone berkata, “Aku berpindah ke pihak Ares karena aku perempuan, aku jatuh cinta dan ingin memiliki anak dengannya,” pada masa itu, perempuan-perempuan Amazon percaya bahwa semua laki-laki itu berengsek, mereka menghindari hubungan seksual dengan laki-laki bahkan sang Ratu meminta anak kepada Zeus dengan memberi nyawa pada sebongkah patung pasir pantai. Persephone berpendapat bahwa feminis yang dianut Amazone itu keliru, mereka percaya dongeng dari langit Yunani.

Persephone mewakili bentuk feminisme yang sebenarnya, yakni sebuah ilham natural yang datang bagi manusia, sebagai ibu, perawat rumah tangga, penyeimbang dunia. Hasrat menjadi sejajar-sama kuat dengan laki-laki sebenarnya tidak begitu benar. Ada distorsi dalam dongeng ini, sebuah paradoks. A tidak sama dengan A, B tidak sama dengan B. Hasilnya, sebuah chaos.

Sebelum menganalisis dongeng feminisme, ada dongeng pengantar ternyata. Sebuah fondasi untuk membangun feminisme, dongeng gender. Dongeng ini diciptakan untuk membuat sekat-sekat antar pemilik jenis kelamin. Dongeng ini merusak definisi manusia. Perbedaan antar penis dan vagina dijadikan sebagai hubungan rival bukan sebagai hubungan saling melengkapi. Usaha menyamakan akan muncul jika sudah ada perbedaan, bukan?


Perempuan atau laki-laki, sejatinya sama saja. Keduanya hidup di atas bumi, di bawah langit sebagai manusia. Diciptakan berpasang-pasangan, Penis dan vagina. Vagina dan penis. Penis dan vagina diciptakan jadi satu. Sementara dongeng-dongeng penyekat itu biarlah dongeng semata, fiktif, buatan belaka. Meyakini dongeng ini bisa jadi melahirkan dongeng baru yang membangkitkan semangat maskulinitas yang ganjil. Saya tidak bisa membayangkan jika kelak penis ilfil pada vagina. (oleh Little Nymph)









suara suara

kepalaku bising. 
suara udara, suara transmisi, 
suara kendaraan, 
suara gitar yang dipetik seseorang di teras. 
suara yang bukan dariku.


aku tidak mendengarkan apa yang ingin kudengar.