6 Kesalahan Menilai Perilaku Kucing


Jenis ras, keturunan, corak, bentuk ekor dan sebagainya tidak menjadi pembeda antara satu kucing dan kucing lainnya. Kucing adalah kucing. Kucing bukanlah anjing. Jenis kucing memiliki khas perilaku sendiri. Terkadang, karena pengetahuan yang kurang, manusia jadi sering salah kaprah pada kucing. Tak jarang ada yang menyakiti binatang berbulu ini karena perilaku natural kucing yang dianggap sebuah kesalahan. Berikut kesalahan-kesalahan persepsi manusia kepada perilaku kucing:


Kucing bukan Binatang Pemalas dan Tukang Tidur
Satu hari bagi kucing adalah 3 jam bagi manusia. Kucing akan tidur sekali dalam 3 jam. Jadi, sebenarnya kucing bukan pemalas atau tukang tidur. Berpikiran aneh-aneh saat melihat kucing anda tidur di siang hari berkali-kali itu keliru. Mereka memang sedang berperilaku secara natural. 

Kucing merupakan makhluk nocturnal. Hewan ini banyak melakukan aktifitas di malam hari. Jadi Kucing juga bukan tukang begadang, mereka terjaga lebih banyak di malam hari. Oleh sebab itu, kucing banyak dipelihara untuk menjaga lumbung padi dari hama saat manusia sedang beristirahat. Kucing disebut-sebut pemalas, tukang tidur, dan sering begadang karena kita tidak memahami jam biologisnya.


Kucing itu Makhluk yang Tidak Suka Tempat Kotor

Kucing anda sering pup di kasur, di bawah tempat tidur, atau di area dapur? Jangan jengkel dahulu. Kucing memiliki kemampuan untuk mendeteksi kuman. Sehingga mereka dapat membedakan mana tempat yang kotor dan mana tempat yang bersih. Di tempat yang bersihlah mereka akan duduk, tidur, atau bermain. Sementara di tempat yang kotorlah mereka akan membuang kotoran. Coba perhatikan baik-baik, area-area yang dijadikan “kamar mandi” oleh kucing domestik anda. Tentu dapat anda lihat sendiri, apakah tempat itu lebih kotor dibanding tempat lainnya.

Kucing terkenal suka buang kotoran di pasir. Sebelum melakukannya, kucing akan menggali lubang terlebih dahulu, mengeluarkan pup, kemudian menutupnya kembali. Mereka memilih pasir, sebab struktur pasir yang dapat menyerap cairan dan menutupi bau. Selain itu pasir atau tanah cepat menguraikan kotoran. Jika kucing anda sering buang air di dalam rumah, perhatikan baik-baik apakah wilayah itu berpasir atau berdebu. Jika ia, jangan pukuli kucing anda. Sebab mereka melakukan hal yang benar dan tak pantas disebut kucing nakal. Justru, anda yang sebaiknya membersihkan area itu, membuatnya wangi, bersih dari kuman hingga kucing anda tidak lagi buang air di sana.

Buang air di pasir merupakan perilaku natural kucing. Agar anda tidak kewalahan membersihkan kotoran, sebaiknya sediakan area berpasir, khusus sebagai kamar mandi kucing anda. Tata sedemikian rupa agar area itu tidak basah, sebab kucing akan lebih memilik area kering (walaupun agak kotor) untuk dijadikan kamar mandi. Mereka tidak begitu suka tempat-tempat yang basah dan lembab. Agar tidak repot, sediakan cat sand dalam baskom persegi dan bersihkan wadah ini 2 kali seminggu. 


Faktor Genetis bukan Penyebab Kerontokan Bulu Kucing

Bulu rontok kucing disebabkan oleh suhu dan makanan. Dari bulunya dapat terihat seberapa sehat makanan yang diberikan dan seberapa baik lingkungan tempat kucing tinggal. Tubuh kucing dilapisi mantel yang menghangatkan tubuh mereka. Jika suhu terlalu panas, bulu kucing lebih sering rontok. Kasus bulu rontok karena suhu jarang terjadi pada kucing domestic, sebab mereka telah berevolusi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang bersuhu tinggi. Makanya mantel bulu mereka tidak selebat kucing-kucing endemik subtopis dan dingin.

Jika anda memelihara kucing domestic dan bulunya sering rontok hebat, itu berarti anda memberinya makanan yang kurang sehat. Walaupun kucing domestic, berikan makanan yang tinggi protein dan agak padat. Jangan sering diberi nasi. Ingat, kucing adalah binatang karnivora dan mereka mengkonsumsi daging-dagingan. Anda telah memberikan makanan yang baik jika pup kucing anda padat dan tidak berair.


Kucing Tidak Cocok Minum Susu

Hampir semua karakter kucing dalam film kartun digambarkan menyukai susu dan para majikan mereka sering memberi susu. Sebenarnya kucing alergi pada kandungan laktosa dalam susu. Laktosa ini menganggu pencernaan dan membuat perut kucing terserang diare. Kucing mungkin menyukai susu karena rasanya yang gurih. Jika anda ingin memanjakan kucing anda dengan susu, berilah susu yang memiliki kandungan rendah laktosa. Biasanya jenis susu ini hanya tersedia di pet shops.


Sifat Setiap Kucing itu Berbeda

Para kucing lahir dengan karakter yang beragam, seperti halnya manusia. Jika anda memelihara lebih dari satu kucing di rumah, perhatian baik-baik perilaku mereka saat berinteraksi dengan sesama kucing atau kepada manusia. Anda akan menemukan ada kucing yang pendiam, sensitive, ada yang periang dan usil, adapula kucing yang manja dan pintar. Anda mungkin akan komplain dengan kucing yang pemalu karena anda lebih menyukai kucing yang aktif dan suka bermain-main. Saat akan mengadopsi kucing, jangan terburu-buru. perhatikan dahulu pola interaksinya. Apakah kucing itu cocok atau tidak dengan anda.
ekspresi kucing berbeda-beda menanggapi sesuatu

Karakter kucing juga dapat dibentuk dengan latihan-latihan dan pola interaksi khusus. Sebagai sampel, perhatikan video-video Jackson Galaxy di youtube. Cat expert botak itu telah melatih banyak kucing pemarah menjadi sedikit lebih jinak. Kucing-kucing lainnya, ia ajari untuk mampu melindungi diri jika mereka tergolong sangat jinak.


Kucing adalah Kucing, bukan Anak Manusia.

Terkadang, sebagai pemelihara kita lupa bahwa kucing sebenarnya hanyalah hewan dengan daya tarik dan kebiasaan naturalnya sendiri. Jam biologis, jenis makanan, kebiasaan dan perilaku mereka berbeda dengan perilaku manusia. Perlakukan kucing peliharaan anda selayaknya kucing yang perlu tidur beberapa kali dalam sehari, tidak memakan memakan semua yang manusia konsumsi, dan mereka tidak memiliki kemampuan intelegensia sebaik manusia. Tidak baik memaksa kucing anda untuk memahami bentuk komunikasi yang sering dilakukan manusia. 

Kucing cenderung lebih merespon kebiasaan. Buatlah rutinitas yang mudah dipahami kucing anda. Misalkan jadwal makan minimal 4 kali sehari. Sarapan pada pukul 6 pagi dan makan siang pada pukul 12 pagi. Jika ingin kucing anda mengenali namanya, sering-seringnya menyebut namanya sebelum memberinya makanan. Dengan sendirinya kucing akan menghapal nama tersebut sebagai bunyi, sebuah sirine pertanda akan diberi makan. Sebahagi hasilnya, kapanpun anda mengeluarkan bunyi nama itu, kucing akan berbalik atau berlari ke arah anda. Cara yang sama dapat anda lakukan untuk mengajari mereka mengenali kamar mandi baru, bantal tidur baru, atau kebiasaan-kebiasaan kecil lainnya yang membuat hubungan anda dan kucing peliharaan semakin akrab.

Teguh Karya, Suhu teater dan Legenda Perfilman Indonesia

Festival Film Indonesia, penulis sering menyebutnya “Academy Award-nya Indonesia” pasca kemenangan “Ekskul” yang controversial, tidak henti dilanda masalah. Beberapa tahun terakhir, Piala Citra diduga banyak salah alamat. Para penggiat film tahah air pun tak henti memberikan asumsi-asumsi negatif terkait tim penyelenggara FFI. Mengagungkan Teguh Karya sebagai wajah FFI tahun ini seperti penawar racun yang manjur. Beliau merupakan legenda sinema Indonesia dan karya-karyanya yang banyak dirujuk penggiat film sekarang ini.


Teguh Karya lahir dengan nama Liem Tjoan Hok di Padeglang, Banten pada 22 September 1937. FFI 2015 pun dihelat di kota ini sebagai bentuk totalitas penghargaan kepada almarhum. Steve Liem, begitu ia dahulu sempat dikenali, seperti kebanyakan seniman sineas tahun 1970-an, Teguh Karya juga mulai berkesenian dari panggung teater sepanjang tahun 1957-1961 langganan sebagai pemain drama di panggung-panggung Akademi Teater Nasional Indonesia. Ia bergabung bersama Dewan Kesenian Jakarta (1968-1972), ketika Gus Dur menjadi ketua DKJ.

foto dari IFC
Pada tahun 1968, Teguh Karya membuat film anak-anak dan baru menghasilkan film dewasa pertamanya 3 tahun kemudian, saat sibuk melakukan tugas praktik penulisan scenario film-film semi documenter di PPFN (Perusahaan Film Negara). Di PPFN, beliau mendapatkan kesempatan luas untuk berkarya di banyak departemen, baik sebagai penulis scenario, penata artistik, pemain, hingga asisten sutradara.

Di saat yang bersamaan, Teguh mendirikan Teater Populer di kediamannya, di jalan Kebon Kacang, Tanah Abang. Di sinilah banyak seniman kawakan Indonesia dilahirkan. Dari beberapa kenangan para “anak” Teguh Karya, beliau dikenal sebagai seorang seniman non-stop. Ia tidak pernah puas pada pencapaiannya. Teguh Karya melakukan banyak cara untuk melahirkan generasi baru, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, dan Alex Komang merupakan sedikit di antara aktor-aktor yang “dilahirkannya”. Ajaran-ajaran Teguh Karya pun masih ditanamkan para anaknya. Siapa yang tidak mengenal Christine Hakim, dalam “Eat Pray Love” ia beradu akting dengan Julia Roberts dan menjadi salah satu aktris kenamaan yang diundang menghadiri banyak festival film internasional.



Teguh Karya juga tak luput dari bencana mati suri film Indonesia. Kondisi ini membuatnya turut meramaikan layar kaca. Beberapa judul karya sinema elektronik yakni “Pulang” (1987), “Arak-Arakan” (19920, dan “Pakaian dan Kepalsuan” (1994). “Cinta Pertama” (1974), “Ranjang Pengantin” (1975), “November 1828” (1978), “Ibunda” (1986), “Di Balik Kelambu” (1983), dan “Pacar Ketinggalan Kereta” (1988) memberinya gelar sutradara terbaik Festival Film Indonesia.

Teguh Karya dikenal bermazhab realis. Melalui Teater Populer, beliau mengejawantahkan gagasan-gagasan teater realis di atas panggung, menyambungkan tali idealism yang dibawa Usmar Ismali dan Asrul Sani. Sebagai orang realis, dalam mendidik para rekan di balik layar, Teguh Karya menciptakan suasana yang agaknya serius. Berdasarkan cerita Christine Hakim, beliau selalu meminta para actor yang tidak sedang berakting untuk tidak bermain-main. Ia meminta mereka untuk terus memperhatikan aktifitas di atas panggung, agar mereka tidak keluar dari dimensi cerita.

Tokoh ini meninggal di usia 64 tahun di RSAL Mintoharjo pada tanggal 11 Desember 2001, setelah menderita stroke sejak tahun 1998. Teguh Karya hidup melajang sepanjang hidupnya. Orang-orang yang mengenal dekat beliau menceritakan kalau Teguh Karya sebenarnya sosok yang penuh cinta, akan tetapi ada ruang-ruang khusus bagi setiap aspek dalam hidupnya. Dan pernikahan mungkin berada dalam ruang yang misterius baginya dan bagi orang lain.

Simulasi Bulusaraung



Masih ingat “Pada suatu hari di sebuah desa yang jauh,….” atau “Konon di puncak sebuah gunung yang sangat tinggi…,”? kalimat-kalimat itu hampir selalu jadi pembuka cerita anak, dongeng, atau fable di masa kecil kita. Kalimat-kalimat itu berfungsi sebagai pengantar sekaligus pembenaran atas dunia khayal pengarang, sebab menyajikan cerita fiktif. Namun, bukan hal-hal fiktif yang menjadi topik utama. Cerita-cerita anak dialamatkan untuk memberi pelajaran moral lewat bacaan yang sederhana.  Yang menarik menurut saya, pengaruhnya kepada alam bawah sadar manusia. Cerita-cerita tersebut yang akhirnya membentuk perilaku kita hingga sekarang. Di sisi lain, cerita-cerita itu membentuk mimpi dan kegemaran kita.

Sebab sering membaca cerita-cerita fantasi dari gunung, hutan, atau desa yang jauh, aku merasa tumbuh menjadi orang yang memiliki hasrat melakukan banyak perjalanan. Dua kota yang ingin kukunjungi, sangat, yakni Quebec di timur Kanada dan Timbuktu di dekat Gurun Sahara (sering disebut dalam komik Paman Gober). Hutan Amazon, Gunung Kilimanjaro, Sungai Kapuas, Danau Kelimutu dan sebagainya merupakan tempat-tempat yang ril namun masih fiktif dalam kepalaku, karena aku belum pernah ke sana. Sungguh, rasa penasaran saya pada ornament-ornamen natural di permukaan bumi tidak pernah cukup cara untuk terbendung.

Nasib buruk para born-to-be-explorer yang terlahir di kota besar. Aku jadi sulit memiliki waktu untuk melakukan semua itu. Ketika manusia lain dengan gampang memetik buah di kebun mereka, di desa-desa, aku harus mencari cara terlebih dahulu untuk mendapatkan uang dan membelinya di pasar. Sebagian besar waktu dan tenaga manusia-manusia kota dihabiskan untuk menjadi pekerja agar dapat bertahan hidup.

Keterbatasan ini kemudian mengecilkan volume mimpiku. Aku ingin menginjak daerah-daerah di pulauku terlebih dahulu. Ekspedisi pertama sukses, aku berhasil menjelajah kota Makassar dari bibir pantai hingga ke pesisir kota sebelum tamat SMA. Misi kedua, menjelajah kabupaten-kabupaten selama tahun-tahun perkuliahan. Aku telah menelusuri seluruh Sulawesi-Selatan, selain wilayah Eropa (Enrekang-Toraja-Palopo), bahkan sudah kuinjakkan kakiku ke Bombana, di Sulawesi Tenggara sana. Dalam hitunganku, aku masih punya PR yang panjang. Sulawesi Barat, Mamuju belum kukunjungi, Pasang Kayu yang sedikit lagi mencapai Palu di Sulwesi Tengah pun belum kudatangi. Bau-Bau, dan Kendari masih menempati daftar teratas.

Dalam setahun ini, aku telah berhasi membayar cicilan. April lalu, aku mengunjungi Bulukumba dan Bantaeng untuk mengenal mereka lebih dekat. Agustus, aku mendatangi dua gua vertical besar di Maros, Leang Pute dan Gua Dinosaurus (meskipun skill SRT belum cukup mumpuni untuk mendapatkan ijin menelusurinya). September, aku melakukan perjalanan yang cukup gila: jalan kaki dari Pattunuang (Maros) ke Balocci (Pangkep) melalui terowongan Rammang-Rammang. Pada bulan Oktober, kulakukan pendakian gunung lebih dari 1000mdpl yang hanya kusebut sebagai simulasi Bulusaraung.

Pendakian ini memang hanya simulasi. Sebagai anak dengan garis keturunan kuat dari orang-orang di kaki gunung Lompobattang, alangkah afdhal jika gunung pertama yang kudaki adalah Lompobattang. Maka, kulatih mental dan fisikku terlebih dahulu dan menyelesaikan satu gunung terendah di Sulawesi-Selatan tanpa acara camping di puncak. Aku mendaki dan menuruni Bulusaraung tidak cukup sehari.

Sudah kukatakan pada Monyek (salah seorang kawan seperjalananku), “Aku akan segera mendaki Bulusaraung. Jika tidak bersamamu aku akan pergi dengan orang lain, kalau perlu sendirian” Monyek bersikeras melarangku pergi saat itu, iya karena aku cukup tolol ingin langsung melanjutkan perjalanan ke puncak Bulusaraung begitu kami mengakhiri long march di depan masjid besar Komp. Tonasa 1. Namun, belum cukup 2 minggu, aku benar-benar melakukannya.





Saat itu aku ditemani kawan perjalanan lainnya. Kami hanya berdua. Tanpa carrier. Isi daypack seadanya.  Dengan sepeda motor, kami tiba di desa terakhir pukul 11 siang. Aku dan teman (sebut saja Begal) menunggu posisi matahari berada di titik cukup ramah dengan ritual sarapan yang tertunda. Di kedai kopi yang menyajikan air putih istimewa (berwarna kemerahan karena dimasak dengan tungku dan kayu berkhasiat), aku dan Begal bercengkrama bersama pemuda setempat. Mereka masih kelas tiga SMA. Pagi itu, mereka baru saja turun dari puncak. Semalam mereka camping di Pos 9 untuk mengisi akhir pekan. Mereka mengeluhkan meramainya pengunjung gunung beberapa bulan terakhir, “Kami kehilangan suasana gunung yang selalu bikin rindu,” ujar salah seorang di antara mereka.

Bagian terbaik dari menghabiskan waktu di gunung adalah kesunyian yang dalam, udara dan cahaya bebas polusi, dan tema-tema percakapan yang jauh dari unsur kekotaan. Sekarang, seolah kota dipindahkan ke gunung oleh ramainya kelompok pendaki. Inilah sebabnya aku tidak pernah berniat memasuki KPA tertentu. Kami memulai pendakian pukul 13.30 wita setelah melaporkan kedatangan di pos jaga TN Babul.

Pos 1: Pematang Sawah. Jalur menuju gunung melalui setapak kecil di belakang kedai kopi. Melewati sebuah rumah tua, setapak kebun, pematang sawah, kemudian melintasi pagar anti hama. Kemiringan sekisar 350 menuju pos 2.

Pos 2: Bidang Landai pertama. Sebuah gazebo atau tempat berteduh sederhana dibangun sebagai penanda Pos 2. Kami singgah sejenak, sekedar minum seteguk dua teguk air putih sembari memperhatikan “jejak tangan” para pendaki sebelumnya. Mereka cukup “kreatif” meninggalkan sampah visual pada tiang-tiang gazebo.
foto oleh admin

Pos 3: No Space. Jalur dari pos 1 hingga pos 3 statis pada kemiringan yang sama, kadang-kadang landai namun tidak panjang. Gully semakin banyak dan dalam. Kaki-kaki pendaki tidak memberi sejenak waktu bagi permukaan tanah untuk merapikan diri. Tidak gazebo, hanya papan penanda bertuliskan himbauan bagi para pendaki, yang tampaknya tidak dipedulikan. Debu-debu beterbangan. Udara pegunungan yang bersih tidak berasa di tempat ini.

Pos 4, dan 5 tidak lagi dapat kunikmati. Jalur semakin curam. Apalagi arus mudik dari puncak memperlambat jalanku. Menjelang pos 5, aku dan Begal beristirahat sejenak, bersandar di sisi bebatuan. Tak kusangka lalu lintas cukup padat. Jalur terbagi dua, mungkin karena para pendaki tidak sabaran mengantri akhirnya mereka membuat jalur di sisi lain. Kedua jalur ini mengerucut menjadi satu jalur, tempat beberapa batang pohon berdiri. Karena kemiringan cukup menggetarkan (sekaligus mengasyikkan), para pendari berlarian turun, meluncur hingga ke pohon tersebut, kemudian berputar, meloncat, lalu mendarat dengan (sebut saja) keren pada bidang yang cukup landai. Namun euphoria hanya dapat dilakukan dengan pekikan, karena kemiringan selanjutnya menyambut. Mereka pun terus meluncur hingga pos 1. Bagi orang-orang yang memiliki engsel kaki serapuh aku, tidak disarankan melakukan adegan ini. Takut jatuh lebih penting.



Terus terang, tontonan ini sangat menghibur, namun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Begitu jalur mulai sepi, kami melanjutkan pendakian menuju pos 6. Jalur perlahan melandai, gullies sudah mengecil. Jalur berupa akar-akar pepohonan besar. Sangat membantu agar terhindar dari gelincir. Jalur juga semakin menyempit. Udara semakin segar. Debu-debu berkurang. Serasa mendekati sumber kerinduan.

Karena mengejar ketibaan di puncak sebelum maghrib, kami kurang memperhatikan penanda Pos 7. Kami sempat berhenti untuk mengabadikan beberapa titik yang kuanggap khas dari gunung ini. Aku sempat beristirahat cukup lama, namun Begal mengingatkan bahwa sia-sia kita lama istirahat di tempat itu, sebab pemandangan di Pos 8 sangat menjanjikan. Dia tidak berbohong. Di pos 8 dibangun menara air, tepat di sisi tebing. Pemandangan hutan tropis kaki gunung membuatku takjub. Aku mengeluarkan “air rasa-rasa” dan kretek mild andalan. Ada pagar kawat yang dipasang di sepanjang tebing, tapi kuterobos saja. Tanggung rasanya menikmati pemandangan dengan pembatas.


foto oleh admin

Kami harus tiba di puncak sebelum “dunia batas” datang, sebelum kabut memperpendek jarak pandang, dan suasana mencekam memaksa kami bermalam. Di pikiranku, aku sudah berencana akan “nebeng” di salah satu tenda pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan, jika rencana kali ini tidak sesuai. Dari pos 8 menuju pos 9 membutuhkan waktu kurang dari 15 menit. Kami menjumpai sisa-sia camp semalam dan beberapa kelompok KPA yang bersiap membangun tenda.

Jalur nyaris mencapai kemiringan 80 derajat menuju pos terakhir. Sungguh menguras tenaga dan perasaan. Bebatuan yang dipijaki cukup besar, mengingatkanku pada tangga Minas Morgul di LOTR, jalur tersembunyi Frodo dan Sam menuju kawah api. Sayangnya, puncak cukup mengecewakan. Awan-awan tipis yang biasanya menghampiri sedang berada menutupi wilayah lain. Benchmark kotor, tak ada penanda nama selain kotoran-kotoran spidol para pendaki alay. Area juga seramai pasar senin di desa-desa. Namun, aku dan Begal tetap bersyukur, kami tiba di puncak dengan selamat dan sesuai rencana. Kami menikmati hembusan angin menuju dunia batas hingga matahari benar-benar tidak ada lagi untuk menghangatkan.

Pulang. Untung pertemuan singkat dengan seorang operator menara provider di pos 3 tadi menyisakan sebuah headlamp. Niatku yang cukup terburu-buru dan yakin kalau akan tiba di bawah sebelum gelap membuatku lupa membawa penerangan. Dengan bantuan headlamp, dan senter berlumens rendah, kami menelusuri kembali jalur tadi. Adrenalin dan rasa takut dua kali lebih besar dari saat mendakit tadi. Tentu saja, karena hanya kami yang memaksa diri untuk turun gunung di malam hari. Aku terjatuh berkali-kali dalam gully yang curam. Kuukur-ukur, dalamnya dapat menenggelamkan tubuhku. Sekujur tubuhku dipenuhi debu. Begitu tiba di Makassar, kaki hingga paha diserang gatal-gatal karena debu itu. Gatal, sungguh gatal. Garukan membuat bagian-bagian yang gatal menyisakan luka totol. Kata orang, itu namanya “mor-mor”. Selama dua minggu, kulit sepasang kakiku tidak semulus sebelumnya. Akan tetapi, apalah arti bekas perjalanan seperti itu dibandingkan simulasi yang sukses.


Terima kasih 1.323 mdpl, puncak tertinggi di pegunungan Bulusaraung. Lain kesempatan aku datang lagi. Semoga pihak TN memberimu libur sejenak untuk memperbaiki diri dan rehat dari sentuhan para pendaki. Cukuplah kau disiksa 2000 pasang kaki dalam seminggu, setahun terakhir ini. See you, soon!


Semesta

Hati merupakan singularitas yang kelam, seperti langit dan lubang raksasa itu. Seperti mata dengan bagian tengahnya. Hati adalah semesta. 

Aku memiliki semesta yang lapang. Tempat sehamparan kasih sayang kupelihara. Tempat segala resah berpulang. Dalam nyanyian degub, degub kerinduan. Semestaku adalah kesabaran, menanti si pengembara dari perjalanan menemukan dirinya.  

Om Bob dan Surga Kecilnya

“Aku percaya, surga memiliki keindahan yang tak dapat dicapai alam pikir manusia. Namun, Tuhan menjatuhkan potongan-potongannya ke bumi agar manusia dapat menikmatinya semasa hidup. Salah satu potongan itu jatuh di pantai-pantai Makassar. Sementara uncle Bob, sukarela mengelola surga kecil itu untuk kaum merah-kuning-hijau”

Dalam hidupku, aku berusaha membaginya sama adil untuk tiap kesenanganku. Menulis, membuat film, dan bercinta. Bertualang merupakan benang merah ketiga doping-ku ini. Demi bertualang, aku dapat mengorbankan apa pun.

“Terkadang, petualangan paling menarik adalah yang tak terencana”

Seminggu belakangan -- mungkin karena keputusanku meninggalkan begitu banyak tanggungjawab yang sudah menumpangi tubuhku selama beberapa tahun-- aku merasa sangat bosan. Walau tetap kubuat keseharianku seacak mungkin, tetap saja bosan dapat menyergap. Sepulang operasi Leang Puteh, aku mendapatkan banyak lingkaran baru, yang lebih berwarna dari lingkaran lamaku. Salah seorang manusia, yang kini menjadi partner in crime baruku, kupanggil Begal, mendapatkan sms dari anak pantai Lae-lae, saat ‘high’ kami menurun. Anak-anak pantai itu rindu padanya. “Yuk, ke Lae-lae malam ini!” ajaknya.


Dengan kargo pendek, eiger pinjaman, kemeja flannel, dan sling bag yang telah menempel di tubuhku selama dua hari, aku mengiyakan ajakan si Begal. Ia memasukkan tenda, matras, headlamp, dan pakaian ganti ke dalam drybag hijau andalannya. Kami siap berangkat.

Aku dan Begal mengendarai motor trail pinjaman (entah didapatkannya dari mana, karena Begal mengendarai CB klasik) menuju dermaga Kayu Bangkoa, di jalan Pasar Ikan, dekat Makassar Golden Hotel. Tak lama menunggu, Sandi, salah seorang pemilik Speedboat siap mengantar kami menyeberang ke pulau Lae-lae.

Arsitektur penerangan sepanjang pelabuhan Makassar, Pantai Losari, dan Jalan Penghibur tampak menakjubkan dari jarak 1,5 km dari bibir daratan. Gedung-gedung tinggi tak berjejer rapi seperti dalam poster iklan pariwisata Makassar di google. Tampak apa adanya, sederhana, namun penuh misteri. Seolah kota itu tengah berujar, “Kami baik-baik saja dengan kondisi ini, jangan polesi kami jadi menor,” aku menghela nafas panjang. Ketakutan tampak menyelimuti kotaku.

Puluhan anak-anak pantai menyambut kami di dermaga utama. Sandi berjanji akan menjemput kami besok malam. Aku dan Begal berjalan kaki ke arah timur pulau, tempat karang pemecah ombak sepanjang satu kilometer berada. Karang ini menjadi titik wisata utama Lae-lae. Melewati jejeran pohon tinggi dan balla-balla, dibangun area bersantai sepanjang 20 meter oleh seorang pemuda pantai hebat bernama Bob Samalona. Baiklah, beliau memang sudah tidak muda lagi. Akan tetapi, caranya memandang hidup dapat membuat anak muda merasa cukup tua untuk berada di dekatnya. Kami di sambut uncle Bob di gerbang masuk, ia ditemani beberapa anak pantai dan sepotong ukiran kayu berbentuk kepalanya sendiri.





Oktober 2014 lalu, uncle mengadakan acara bersama puluhan musisi Makassar lainnya. Beliau memang dikenal sebagai musisi reggae senior (silakan lihat karya-karyanya di youtube). Band-band anthem Makassar, seperti Galarasta dan Melismatis ikut serta dengan sukarela dalam event yang uncle adakan, bertajuk “Sunset to Sunrise”. Tahun ini, uncle berencana mengadakannya lagi. Untuk itu, tampaknya uncle tak butuh banyak bantuan dari orang-orang di daratan Makassar.

Uncle Bob telah mengumpulkan alat dan bahan untuk membangun venue-nya: Bob Beach. Area pemecah ombak yang sudah indah, ia tambahkan sedikit pemanis, dengan rumah pohon, net tents, pagar-pagar dari kayu, hammock buatan, stage, pahatan kayu, balla-balla dari bamboo, dan meja berhiaskan kerang-kerang mutiara.







Ia mendatangkan sendiri, potongan-potongan kayu, bamboo, dan peralatan yang dibutuhkannya entah dari mana. Orang-orang di pulau tak pernah heran dengan kemampuannya, Uncle telah dikenal sebagai semacam waterman, yang dapat merenangi jejeran pulau spermonde tanpa bersusah payah. Uncle pernah berenang dari Lae-lae ke Samalona, tempat ia berjodoh dengan istrinya yang sekarang.

Uncle Bob memberi kami kuasa untuk menggunakan pantainya sesuka kami. Begal pun memasang tenda agak menjorok ke laut, tepat di sisi balla-balla. Aku mengeluarkan ransum ke atas meja, mengatur paket untuk makan malam dan sarapan. Uncle akan kembali, membawa sesajen khas agamanya. Tetapi, uncle tak tahu kami membawa sesajen kami sendiri. Yah, bakar satu biar laper dulu!




Sayangnya, Bob Beach belum dapat memiliki penerangan yang cukup. Mungkin uncle sedang mencari cara selain mendatangkan genset raksasa dari daratan. Sumber listrik di pulau juga terbatas, para penduduk baru dapat menikmatinya saat malam tiba. Di siang hari, hanya fasilitas utama yang mendapatkan listrik, sekolah misalnya.

Semalam Tidak di Bumi
Uncle kembali bersama beberapa anak pantai. Rata-rata masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kami berbaring dalam net tent pribadinya, menikmati panduan navigasi utama para pelaut di permukaan langit sana. Weeds berpindah dari jemari ke jemari. Uncle secara sengaja menjatuhkan pocongan yang sisa sepotong ke pasir. Salah seorang anak memungutnya. Uncle membiarkan anak itu menghirup asapnya yang membahagiakan. Begitulah cara uncle mendidik para anak pantai. Bukan hal yang pantas mengajari anak kecil merokok, tetapi bagi uncle, merokok bukan alat ukur hati manusia. Ia berkata, anak-anak pantai ini tidak boleh tumbuh jadi pribadi-pribadi lembek. Dalam jadwal yang tak teratur, uncle mengajari mereka berenang, snorkling, dan diving secara cuma-cuma. Aku melihat anak-anak pantai itu ibarat pengikut seorang nabi, nabi kecil yang diutus ke pulau kecil.




Uncle membagi banyak cerita pada kami. Tentang dua gadis dari Bone yang menyempatkan diri mengunjungi surga kecilnya, tentang dua gadis lain yang membawakannya ponsel smartphone berkemampuan rekam video yang cadas, tentang bule-bule yang pernah ia dampingi dan tetap menjadi temannya hingga kini. Begal bercerita bahwa istri pertama uncle adalah seorang wanita bule. Aku mencoba menghubungkannya dengan jalur hidup uncle sekarang, yang kosong tapi berisi. Akan tetapi, kisah ini mungkin bakal jadi kisah film televisi murahan.




Uncle tak suka jika anak-anak pantai, atau siapapun yang pernah berkunjung ke pantainya dan merasa sungkan untuk melakukan apapun dalam area itu. Uncle ingin setiap orang merasa memiliki Bob Beach, setiap orang memperlakukan inspirasi yang ditemukannya dengan baik. Singkat cerita, uncle ingin anak-anak pantai dapat menemukan dirinya dalam Bob Beach. Area relaksasi yang dibuatnya ini adalah cara Uncle Bob berbagi surga kecil yang dititipkan padanya.




Aku menuliskan penggalan cerita ini di bawah pohon mangga, di halaman studio Inkmotion Screenprinting, tempatku menghabiskan waktu-waktu selow sebulan ini. Semoga teman-teman Inkmotion sempat menemui uncle Bob sebelum surga kecil di pucuk pulau Lae-lae ini disentuh tim dekorasi proyek CPI.





Lost and Fun di Pantai Bara



Dua ekor anjing ras mixed what-what yang merekatkan kami, tiga petualang sejati. Tersebutlah si Dwiky (lebih sering dipanggil Opa) yang akrab dengan anjing sejak kecil. Kemudian, Nila si gadis dangdutan sejak dahulu kala ngidam memelihara anjing, dan aku si tante kegirangan yang pada dasarku suka binatang, kucing atau anjing. Jadi kami bertiga memelihara seekor Beagel mixed what-what bernama Mandang (nama yang diambil dari sebuah akun facebook terkenal) dan Betty si Norrbottenspets also mixed what-what. Nila mamaknya Mandang dan Betty, Dwiky bapaknya Mandang dan Betty, aku tante kue mereka. Ya begitulah.

Cerita ini bermula di kontrakan Nila, di area pemukiman paling padat di daerah Tamalanrea Makassar. 2013 kemarin, Awalnya aku yang nebeng tinggal di sana, kemudian Dwiky sering datang membawa Betty bermain dengan Mandang. Entahlah, mungkin urutannya kebalik. Pokoknya aku lupa-lupa ingat, karena kadang over bahagia bisa bikin hangover dan amnesia. cerita berlanjut ke 2015. Baru-baru ini, kami bertiga tersesat bahagia di Pantai Bara. Dwiky menyebutnya “Into The Wild”, Nila menyebutnya “Lost and Fun”, aku bilang sederhana saja, “Menjauh dari kerasnya hidup di Makassar”.

Sebenarnya Aku dan Nila lagi tidak pengen liburan keluar kota, karena sumpah kantong kami lebih tipis dari rambut dibelah tujuh. Dwiky juga lagi kere sih. Untung ada Bang Ego (paman Dwiky, usianya 2 tahun lebih tua dari Dwiky, 5 tahun lebih tua dari aku, dan 9 tahun lebih tua dari Nila. Itulah pokoknya. Bang Ego niat isi liburan mancing di pantai Bulukumba. Dwiky yang memilih destinasi Pantai Bara (adik Pantai Bira yang tersohor). Pantai Bara jadi special karena diperuntukkan untuk Diving dan Camping. Catat, bukan untuk mancing.

1 Agustus 2015, kami berangkat dari Perum. Tamarunang, Gowa (dari rumah Nenenk Dwiky) dengan dua sepeda motor. Dwiky boncengan dengan Bang Ego membawa satu carrier 60 kg, satu daypack dan seperangkat alat pancing. Nila dan Aku boncengan membawa satu daypack dan Betty. Oh, iya Mandang sudah wafat tahun lalu. Perjalanan santai kami menghabiskan waktu kurang lebih 6 jam dengan satu kali singgah di rest area Jeneponto.

(gambar menyusul)

Sekilas tentang Jeneponto, kampung Turatea. Area ini paling kering di antara kabupaten-kabupaten pesisir timur Sulawesi Selatan. Banyak tambak garam, kuda, pedati, dan jagung. Inilah kampung halaman gubernur Sulawesi Selatan dan menurut cerita nenekku, dulu menjadi daerah ribuan pasukan dan bangsawan. Makanya di daerah ini banyak kuda dan rumah panggung Saoraja yang bertingkap tiga.

I don’t wanna get too far. Jarak Makassar ke Bara kurang lebih 200km. Jarak ini cukup untuk membuat tulang punggung remuk. Rest area tempat kami sarapan dan menenggak gelas kopi pertama kami disebut Boyong, salah satu objek pariwisata kabupaten Jeneponto. Sebagai sentra bisnis, area ini memiliki Water Boom, wisata Tambak Garam, dan tak lupa coto Kuda yang… ah, kalian para cowok ngertilah.

Tapi kami tidak mencicipi coto kuda, lantaran Betty tampaknya tak sabar ingin berenang di laut. Perjalanan segera kami lanjutkan. Kami mengendarai sepeda motor tanpa henti dengan kecepatan santai 60 km/ jam. Kami tiba di kawasan pantai Bulukumba tidak lewat dari pukul 2 siang. Untuk mengembalikan punuk pantat, kami beristirahat sejenak di rest area Pelabuhan Bira.

di depan pelabuhan Bira

Agaknya kedatangan kami kurang tepat, sepanjang pesisir Bira sedang menderita kekurangan air tawar, lantaran musim kemarau sedang memuncak. Berkali-kali kami melihat mobil pick-up melintas, membawa satu atau dua reservoir. Aktivitas pelabuhan juga sedang sepi. Pelabuhan Bira merupakan tempat merapat kapal-kapal ke Pulau Selayar hingga ke Labuan Bajo.


Pantai-Pantai di Bira
Kalau dijejer dari jalan utama, Pantai PanrangLuhu yang pertama ditemui, kemudian pelabuhan Bira, selanjutnya Pantai Bira, kemudian Pantai Malboro, dan yang paling ujung adalah Pantai Bara.  Lainnya ada pula Pantai Appalarang yang sedang anthem itu.

Karena kami bertiga termasuk Alien local, kami tidak mencari objek wisata primadona. Kami memilih Pantai Bara yang terpencilkan di ujung tebing. Setelah menempuh jalan sempit sejauh 1 km, kami tiba di bibir pantai yang juga sempit. Tidak banyak orang (mungkin segera ramai setelah tulisan ini aku publikasikan), camp tent berjejeran, lapakan penduduk local hanya sepetak, ada satu cottage, dan beberapa bule yang sedang naik ke daratan. Tampaknya, beberapa puluh meter dari bibir pantai terdapat objek snorkeling yang menarik.

Kami bergegas mendirikan tenda di bagian paling ujung Pantai, tepat di bawah karang yang membentuk cekungan. Kami pikir, tak perlu dekat dengan toilet umum dan sumber logistic. We just wanna feel a little wilderness for some days. Inilah tenda kami.

(gambar menyusul)


Lulur Pasir Putih dan Betty yang Konyol
Bang Ego bilang pasir pantai putih berkhasiat layaknya lulur yang dijual di toko. Plus, air laut dapat segera menyembuhkan luka termasuk jerawat tentunya. Sehabis berkata seperti itu, Bang Ego dan Dwiky berlari nyemplung ke laut, aku buru-buru ganti pakaian buat basah-basahan. Meninggalkan Nila yang sibuk mengajak Betty keliling pantai.

Bang Ego pun sibuk menggosok punggung Dwiky yang penuh rajahan. Sementara si Dwiky keenakan dilayani paman sendiri. Aku mencari pasir terlembut di dasar pantai dan membalurkannya ke seluruh tubuh dan wajahku. Sembari menunggu khasiatnya meresap, kuapungkan tubuh di air. The feeling was amazing.

Setelah membersihkan tubuhnya, Dwiky mencari Betty. “Betty berenang…. Betty berenang!” si Dwiky bersenandung sambil menggendong anaknya memasuki air. Aku bergegas membersihkan tubuh pula dan mengambil DSLR di tenda. Nila? Well, we had no idea where she was.

Satu, dua, tiga, Dwiky melepas Betty di ujung pecahan ombak dan ternyata anjing mixed what-what itu takut air laut!

(gambar menyusul juga, yaah)


Senja Hilang dan Purnama Rekah
Sehabis luluran, berenang, memandikan Betty, membangun tenda, kami menenggak kopi senja di sisi tenda, di dekat hammock yang terpancang di antara karang. Sayangnya, matahari senja bersembunyi di balik karang, di belakang punggung kami. Sementara di bentang air di hadapan kami hanya ada ombak bergulung-gulung, cahaya yang memudar, dan angin kemarau dari laut.

“Senja berada di Losari, aku lupa” Kataku. Walau sedikit kecewa karena kebodohan sendiri, kami tetap bahagia karena kopi panas benar menghangatkan kami. Betty pun tampak senang di sisi tebing. Nila? Dia sibuk selfie. Maklum, baru kenal Iphone.

selfie terbaik dari 1000 selfie Nila

Kemudian hari berlalu dengan demikian cepat, diganti malam yang hadir perlahan. Kami (kecuali Nila) mengganti pakaian dengan yang kering. Bang Ego memanjat ke hutan di atas tebing, mencari kayu bakar. Aku membereskan lemari alam kami. Dwiky mempersiapkan makan malam. Maklum, sedari berangkat tadi, kami belum juga makan. Nila? Adik kesayangan kami itu sibuk berayun di atas hammock, menikmati angin malam dan kesepian jiwanya. Aku berharap, saat kutuliskan cerita ini, dia pun sedang merancang outline versinya sendiri.

Seolah Tuhan ingin membayar kekecewaan kami, Dia menerbitkan purnama yang dekat, kuning, dan bulat sempurna. Kami bersorak. Semakin semangat Bang Ego hendak memancing. “Tunggu airnya pasang lebih tinggi, kita pesta ikan bakar malam ini!” serunya.


Tragedi Daypack Pinjaman
Inilah fragmen paling menyedihkan dalam tulisan ini. Well, aku membukanya dengan sedikit aib. Karena buru-buru ingin lost n fun, aku lupa membawa rangkapan pakaian dalam. Jadinya, terpaksa, aku harus menitip belanjaan pakaian dalam kepada seorang teman (?) yang kebetulan akan reunian di Bara juga malam itu. Dengan sisa baterai ponsel pinjaman dari Nila, aku menghubunginya. Jeleknya, jaringan benar-benar menjengkelkan. Ponselku segera mati total, begitu aku tertidur menunggu balasan bbm.

Di saat yang bersamaan, Nila entah berada di mana bersama Betty. Sementara Bang Ego dan Dwiky memancing 20 meter dari tenda. Aku terbangun saat Dwiky berseru, “Kapan lagi kau nikmati makanan seharga 100ribu di restoran, Nila? Makan ki .. enak ini bulu babi,” ternyata, mereka tidak berhasil mendapatkan seekor ikan pun. Mungkin karena guguran rumput laut yang esok harinya menutupi pasir pantai. Tidak ingin rugi, akhirnya mereka memungut bulu babi. Sore tadi, kawanan bulu babi itu memakan dua korban. Tenda kami jadi Tim Bantuan Medis pantai Bara. Nila, Dwiky, dan Bang Ego membantu mengeluarkan duri si bulu babi. Ada tips menarik, kalau ingin lekas sembuh dari penderitaan tusukan bulu babi, kencingi area yang tertusuk! Kata Bang Ego, luka tusukan segera membaik sehabis dikencingi.

Aku terbangun dengan, iya, perasaan tidak enak di bagian bawah perut karena dalaman yang basah. Ponsel yang mati total perlu segera dinyalakan, supaya dapat kabar dari si temanku itu. Akhirnya aku mengajak Nila ke warung di dekat pintu masuk pantai, mencari colokan untuk charging. Agak mahal sih, Rp 10.000 hingga baterai ponsel penuh. Sembari menunggu charging-an, barangkali ada satu jam lebih. Aku juga agak memaksakan charging ini, karena kerjaanku jadi melambat gara-gara ponsel dan jaringan yang bermasalah. Cottage di atas tebing pun sudah sepi, jika saja aku bisa meminjam wifi di sana dan menyelesaikan laporan kerjaku, jika saja. Padahal baru pukul 10 malam.

Aku dan Nila kembali ke tenda 1 jam kemudian. Dwiky dan Bang Ego ternyata belum menyerah, mereka kembali memancing. Kerjaan dan pakaian dalam pun beres. Aku menyalakan kembali api unggun di depan tenda, udara malam saat itu sungguh menggigilkan. Bang Ego dan Dwiky kembali ke tenda dengan ember kosong. Sejenak kami duduk melingkar di depan api, tidak membicarakan apa-apa. Tidak memikirkan sesuatu pun.

Ketika Bang Ego beranjak mencari tisu basah (mungkin doi sedang kebelet pengen bab), Bang Ego kaget tisu basah tidak berada di tempatnya, di celah tebing. Kami mencari benda itu bersama-sama dengan bantuan headlamp dan flashlight ponsel masing-masing.

“Lho, ke mana semua tas kita?” seruku. Daypack aku dan Nila, daypak Bang Ego dan Dwiky tidak berada di antara bebatuan. Kami mencari ke sana kemari, dan tidak ada. Rampok pasti. Kami segera berpencar. Nila dan Betty menjaga tenda, Dwiky menelusuri hingga ke ujung selatan pantai, sementara aku dan Bang Ego mencari ke hutan di atas tebing. Kami mengintari semua jalan setapak dan halaman cottage, camp area, hingga ke spot buat barbeque-an di bagian utara. Tidak ada jejak yang ditinggalkan tas itu. Aku dan Bang Ego kembali ke tenda dengan sekantung sabut kelapa, seikat kayu bakar, dan beberapa kantung kresek yang bertebaran di sana.

“Lumayan, setidaknya lelah kita bisa terobati dengan kehangatan,”

Nila dan Dwiky tertidur di dalam tenda, barangkali dengan perasaan campur aduk. Betty terikat di antara tebing, ia pun tertidur dengan perasaan yang tak dapat kami baca. Sementara aku dan Bang Ego menjaga api tetap menyala, hingga kantuk memanggilku. Kedua daypack tersebut entah berada di mana. Ikhlas itu sulit.


Makan Siang dengan Tai
Hari kedua di Pantai Bara, kami mulai pada pukul 9.30 pagi. Tragedi semalam memaksa kami tidur lebih lama dari rencana. Belumlah sempat cuci muka dan sikat gigi, Bang Ego dan Dwiky telah melempar kail ke tengah laut, dengan harapan dapat membakar satu-dua ekor ikan untuk makan siang. Aku mengenakan kaos pantai kesukaanku dan bergegas menyusur pantai, mencari pesanan Claren (si monyet Toraja), yaitu beberapa ekor Kalomang. Lupakan Daypack dan segala isinya yang hilang. Toh, pakaian dapat kami adakan kembali di Makassar nanti.

Memulung Kalomang

Para lelaki telah mengemas 50% peralatan camping, hingga tersisa tenda dan peralatan masak. Dwiky memindahkan hammock ke tebing di sisi kiri camp, tepat di bawah cerukan yang lebih menjorok ke pantai. Rupanya, jika siang hari, area camp kami disinari matahari terik. Bang Ego berhasil mendapatkan seekor ikan. Dwiky meminta Nila memasak Nasi sementara ia sendiri membakar ikan tersebut dengan bara api sisa semalam. Aku sibuk mengemas beberapa ekor Kalomang ke dalam botol plastic bekas air mineral.


Don’t Leave a Mess on the Beach
Dari Makassar, Dwiky membawa kantong kresek hitam buat ngepak mayat korban mutilasi. Aku menggunakannya untuk mengumpulkan semua sampah pelastik di sekitaran camp area kami. Sementara itu, Bang Ego membakar hasil pulunganku di antara tebing. Masakan siap, camp sudah bersih, saatnya makan siang.


dwiky sebagai anjing beagel jadi-jadian, sedang berlagak kecakepan di atas hammock, sehabis makan siang

“Nil, mau lihat selfi-selfie ku tadi?” Nila berseru pengen. Dwiky memperlihatkan gallery Nikon milik Nila. Benar-benar selfie seonggok tinja yang cokelat eksotis. Dwiky tertawa pecah. Kami tertawa pecah. Sepasang mata Nila berkaca-kaca. “Kerjai terusma, orang tua…. Aaa… aaa….”


(gambar nyusul, nyeet) 


Kembali Makassar
Bang Ego seorang pegawai bank, Dwiky seorang Koki harus segera kembali ke Makassar mengurus volks wagen yang disulapnya menjadi Food Wagen. Aku kini, seorang promotional assistant dibebani tugas segera kembali ke kota besar demi jaringan internet cepat. Dan Nila, kemarin dia melamar kerja part-time sebagai ranger di salah satu coffee shop and senin besok adalah hari pertamanya masuk kerja. Rasanya ingin menghabiskan satu malam lagi di Bara, namun kami harus kembali menyesakkan diri di Makassar.

Kami meninggalkan Bara sekisar pukul 2 siang. Betty sepertinya senang dapat menjauh dari debur-debur ombak dengan segera. Dia tak suka dikagetkan deburan ombak. Kami menyusuri jalur yang sama menuju Makassar: Bulumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar. Dengan jarak 200 km yang sama.

Di perbatasan Bantaeng-Jeneponto, kami singgah sejenak mencicipi kopi hitam local dan tentu saja, menemukan jaringan internet. Dwiky kembali menunjukkan foto tinja eksotisnya kepada Nila, sembari aku dan Bang Ego merencanakan trip bulan depan. Aku mengajaknya mengujungi kampung nenek moyangku di lembah Lompobattang, sebuah desa bernama Parangkeke. Lembah yang sangat subur, sejuk, dan kaya akan hasil bumi. Aku berencana membawa pulang beberapa kentang besar dan tembakau Malakaji, nantinya. Bang Ego tampak antusias.

Masih ingat temanku yang kutitipi dalaman? Ternyata temannya menemukan salah satu tas kami di dalam hutan. Kami bersyukur sebab tas itu ternyata tas pinjaman. Bahkan dua hari setelahnya aku baru tahu kalau Dwiky menculik tas itu saat pemiliknya sedang tidak di rumah. Beberapa hari berikutnya, Dwiky bercerita kalau dia menyimpan ratusan ribu uang di dalamnya. Uang itu untuk membayar utang kepada seseorang. Tragedy!

daypack yang diculik itu


Dua Pengalaman Mistis
Saat aku dan Nila menunggu charging-an di warung, ia mendengar kikikan perempuan dari dalam hutan dan melihat sekelebat bayangan melintas di belakangku. Dia baru menceritakannya padaku setelah aku menceritakan pengalaman mistisku bersama Bang Ego malam itu:

Sehabis menyusuri hutan, aku dan Bang Ego tidak sengaja memasuki area sebuah villa yang sudah reot. Kami disambut semerbak wangi melati. Wangi tersebut hanya dapat dihasilkan dari satu kebun bunga melati, tidak dari sebatang tanaman melati. Kami mendekati villa yang berbentuk rumah panggung tersebut,  berharap menemukan salah satu dari daypack kami di kolong rumah. Belumlah sempat berdiri di ambang villa, wangi melati semakin menyengat. Bang Ego mengarahkan senter ke sekitaran villa dan berkata “Tidak lihat ka satu pun tanaman melati,” kami melangkah mundur, menjauh dari tempat tersebut dengan langkah cepat.

Villa ini bersisian dengan cottage ter-mewah di Pantai Bara, saat siang hari tampak hanya seperti bangunan rusak pada umumnya dan banyak turis yang memarkir mobil di halamannya. Sepertinya kikikan perempuan yang Nila dengar berasal dari tempat itu.

(cerita ini akan kulanjutkan setelah ingatan detailku kembali dan foto-foto kami sudah pindah ke dalam laptopku. berikut beberapa yang sempat terkirim via line)

AlieNilEkiOki


ditulis oleh Rezkiyah Saleh Tjako


get some, i'm good i'm gone, dance-dance-dance

aku mendengarkan Lykke li, dance-dance-dance
sambil duduk, sepasang penjalan di bawah sana bersenang-senang di porosnya
mereka bahagia, akan segera dilangkahkan
menjejalkan diri di atas tanah-tanah yang cemburu
tanah-tanah pendengki,
surat-surat akan segera terjawab dengan kedatangan

aku mendengarkan Lykke li, get some
dari seorang prostitusi murahan yang makan dari secuil kasih sayang
mereka akan mendapatkan yang lebih
dari hari-hariku yang semakin lapang, semakin panjang
mereka akan dibayar

aku mendengarkan Lykke li, I'm Good I'm Gone
yang baik-baik tak bertahan lama,
kalaupun begitu, yang baik akan berubah
digerus janji-janji dan nota kesalahpahaman
i'm good, i'm gone
perjalanan akan memulihkan,
i'm good,
i'm gone.

photo by @alienile