Pohon yang tumbuh di dalamku
sekali-kali kunjungilah, wahai kawan lamaku
tetapi jangan membawa garam
tidakkah kau inginkan buahnya
- sebagai penggenap sarapan
nanti, di meja makan keluargamu
yang di sisinya duduk sebatang pohon?
Your Ex-Cave
Makassar, 7 September 2018
I want to paint my helmet all black and stick on a "cat does fvck you" sticker in the middle of its back side, like I give the same to all riders and drivers behind, while I am knifing the wind with speed and sound.
I fell in love, stupidly
See his shadows ever since, on every corner
haunting like the bad habit I left years ago
I left my life with him, high hope
to that low percentage, I don't even pray for
I belong to somebody else, I can feel it.
Sinful lovers once shared things,
as pressures to ask forgiveness in this holy day.
Seakan dahulu, seorang saman berhasil membuka mata ketigaku: untuk melihat hal-hal buruk di dunia ini. Pada ritual kedua, dukun itu menutup bagian dari jiwaku yang mampu merasakan kebahagian di dunia ini. Kini aku hanya mampu melihat keburukan-keburukan dan bersedih terhadapnya.
Sebagai seorang prajurit yang dibaiat di puncak bukit kharismatik, ada perang yang tak perlu aku ladeni. Yaitu perang melawan sekelompok manusia lemah dan dungu. Tentu saja tak adil melawan mereka, sebab saya memiliki tingkat pemikiran yang lebih baik dan kekuatan yang jauh lebih besar. Lalu prajurit sepertiku hanya dapat menunjukkan rasa kasihan.
Dengan perasaan itu, aku melangkah pergi, menuju tanah baru dengan segala kejutannya. Ya, prajurit pengembara. Menggunakan mata batinnya untuk melihat kepedihan, menyerapnya, membantu orang-orang baik dan berpikiran tinggi yang sedang berusaha mengobati luka-luka dunia. Perang yang melibatkan mereka akan menjadi tempatku berada.
Sekarang, paling tepat memutar lagu Tame Impala - Feels Like We Only Go Backwards special buat diriku sendiri (exactly, I'm playing it, singalong with my laptop) terkait kehidupan saya yang lagi lucu-lucunya.
Years ago I was wild enough to move in an apartment, living with many different new friends. Saat itu semua baik-baik saja, mumpung rencana masa depan belum banyak dan penting-penting amat. Saat ini, rencana saya tidak seraksasa dahulu, yang terasa besar dan lebar adalah tanggung jawab yang pastinya akan sulit kutunaikan jika sebagian besar waktu dan pikiranku masih menjadi milik orang lain.
Aku mauku melanjutkan kehidupan yang baru, dengan target baru, orang-orang baru, dunia baru, dan kisah-kisah baru. Nggak mau ada pengulangan ataupun ciri khas dari masa laluku yang sudah tak relevan lagi dengan perubahan karakterku.
Ah, entah takdir mau bawa ke mana lagi
kok, aku kayak jalan mundur begini
-________________________-"
Aku menuliskan ini pada pukul 20.35 wita di mejaku, di kantor, dan tidak ada lagi rekan kerja seruangan di sekitarku.
Satu-persatu mereka beranjak menjauhi areal kantor sejak dua hari lalu. Ada yang naik mobil pribadi, naik Panther antar daerah, ada pula yang sekadar mengasingkan diri di rumahnya di pinggir kota. Sebenarnya aku sah-sah saja melakukan hal serupa. Tidak ada yang melarang, pun sanksi tidak seberapa. Masih masuk akal kehilangan selembar dua lembar seratus ribuan demi liburan beberapa hari dan berkumpul bersama keluarga.
Hanya bagiku,
Untuk apa kutukar lembaran uang itu?
I can say I'm fucked up tonight until three days after.
Shall I write that I have a huge huge huge family with many fathers and mothers, but I prefer being around a Chinese couple near my office or at Bambalamotu, or Malino, or Rammang-rammang?
I've done it.
Pada momen seperti ini, sepertinya setiap orang berubah sangat egois. Kelompok di sana masa bodoh dengan sosial because they have God yang segera dan pasti mengampuni semua dosa dan menerima amalan mereka. Kelompok lain don't really give a fuck asalkan dapat berkumpul bersama keluarga. Ada juga sih setahuku yang menjadikan lebaran sebagai sarana berbasa-basi atau formalitas lantaran terikat hubungan darah (sebenarnya mereka saling membenci di dalam hati, but gotta being fake di depan orang tua). Lainnya berjuang berkumpul bersama keluarga di kampus. Dan di antara semua jenis orang-orangan ini, tidak akan ada yang peduli kepada orang-orang sejenis saya.
Yaah, sayalah itu yang membantu seseorang membersihkan tempat tinggalnya sebelum orang tua dan keluarganya datang agar mereka dapat beristirahat dengan nyaman sebab keesokan paginya harus kembali menempuh perjalanan jauh. Sayalah itu yang menjadi anak pengganti bagi sepasang kekasih Chinese sebab anak gadisnya sekarnag entah di mana. Sayalah itu yang diharap-harapkan seorang ibu paruh baya, di dalam hatinya ia menyesali memiliki anak yang karakternya tidak sepertiku. Sayalah itu, seseorang yang diam-diam merokok di dalam keremangan parkiran seharga 3000 ribu rupiah per hari, di samping sebuah gedung hotel berlantai 18.
Aku tahu, dari sudut pandangmu aku tidak sedang berbahagia
Tetapi hati setiap manusia adalah misteri
Kamu mana tahu apa yang aku rasakan sebenarnya, kecuali kamu bertanya A atau B dan aku menjawab dengan menyebut satu di antaranya (itupun kalau aku sedang tidak berbohong)
demikianlah,
satu hal yang pasti, gema takbiran membuatku merindu. kepada banyak...
ayah,
ibuku yang dahulu,
sahabat-sahabat lama,
petualangan,
proses belajar di kampus,
sahabatku di alam ruh,
kucing-kucingku yang straight to heaven
and.... probably you,
14 Juni 2018